BerandaTokoh TafsirCitra Nabi Muhammad dalam Al-Quran; Perspektif Tarif Khalidi (2)

Citra Nabi Muhammad dalam Al-Quran; Perspektif Tarif Khalidi (2)

Jika kita membaca keseluruhan Al-Quran, kita akan menemui nama “Muhammad” disebut sebanyak empat kali. Sebagaimana dicatat ‘Abd al-Razzaq Naufal dalam al-I’jaz al-‘Adadi li Al-Quran al-Karim (1987), nama “Muhammad” tercantum pada QS. Ali ‘Imran [3]: 144, QS. Al-Ahzab [33]: 40, QS. Muhammad [47]: 2, dan QS. Al-Fath [48]: 29. Ada nama lain Nabi Muhammad dalam Al-Quran, yaitu Ahmad yang disebut sekali dalam al-Saff [61]: 6.

Dengan cermat, Tarif mengatakan hal tersebut cukup mengejutkan, sebab jumlah itu tidak lebih banyak daripada jumlah nama-nama kelompok seperti kaum Muhajirin dan Anshar. Dua kelompok tersebut setidaknya dua kali lipat lebih sering disebut daripada Muhammad. Meskipun demikian, terdapat ratusan kata rujuk (dhamir) ke Nabi Muhammad yang digambarkan sebagai Rasulullah dan ratusan perumpamaan dalam sosok anonim yang kemungkinan adalah Nabi Muhammad (hlm. 44).

Tarif juga mengungkapkan bahwa nyaris tidak disebutkan nama orang sezaman dengan Nabi di dalam Al-Quran. Setidaknya hanya dua nama, yaitu Abu Lahab, paman Nabi dalam QS. Al-Lahab [111]: 1 dan Zaid, anak angkat Nabi dalam QS. Al-Ahzab [33]: 37. Selain itu, mereka—orang sezaman Nabi—disebut secara tidak langsung.

Hal ini, menurut Tarif, menjadi satu alasan mengapa Al-Quran terkesan samar, seluruhnya ditulis dalam bentuk waktu (tenses) yang terus berlangsung, di mana waktu lampau (past), kini (present), dan akan datang (future) hadir dalam satu kesinambungan. Oleh karena kesan samar tersebut, sebagaimana orang sezaman lainnya, citra Nabi Muhammad hampir tanpa nama (hlm. 45).

Baca juga: Citra Nabi Muhammad dalam Al-Quran Perspektif Tarif Khalidi (1)

Citra Muhammad Sebagai Sang Nabi

Konsentrasi citra Nabi Muhammad dalam Al-Quran adalah sebagai “Rasulullah” atau “Sang Nabi”, bukan sebagai sosok pribadi. Penyebutan nama Muhammad dalam Al-Quran hampir semuanya menggunakan gelar kehormatan dan status khusus seperti Sang Nabi, Nabi Terakhir, Penutup Para Nabi, Sang Utusan Allah, dan lain sebagainya. Kita dapat menemukannnya dalam QS. Al-Ahzab [33]: 40 berikut,

مَا كَانَ مُحَمَّدٌ اَبَآ اَحَدٍ مِّنْ رِّجَالِكُمْ وَلٰكِنْ رَّسُوْلَ اللّٰهِ وَخَاتَمَ النَّبِيّٖنَۗ وَكَانَ اللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا ࣖ

Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, melainkan dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Muhammad adalah nabi terakhir, nabi teragung dan mahkota para nabi. Garis panjang kenabian yang jika dirunut akan kembali sampai ke Nabi Ibrahim, atau bahkan ke awal penciptaan. Garis kenabian ini diyakini bahwa risalah Nabi Muhammad beliau terima dari Allah adalah wahyu terakhir dan yang paling otoritatif dibanding yang lainnya.

Selain itu, Tarif menambahkan tentang apa yang disebut dengan profetologi Al-Quran, teori tentang kesamaan yang dimiliki semua nabi. Genealogi spiritual Muhammad sebagai Sang Nabi Allah adalah garis kenabian pendahulu. Artinya semua nabi memiliki pengalaman yang serupa; penentangan terhadap ketidakadilan, ketidakpedulian umat, menerima olok-olok, cemooh, risiko ancaman fisik, atau bahkan kematian. Meski begitu, pada akhirnya mereka mendapat pembenaran atau para penetangnya mendapat hukuman dari Allah (hlm. 46).

Kita dapat membaca dua contoh jelas dalam QS. Al-Mu’minun [23]: 44 dan QS. Yasiin [36]: 30 masing-masing sebagai berikut,

ثُمَّ اَرْسَلْنَا رُسُلَنَا تَتْرَاۗ كُلَّمَا جَاۤءَ اُمَّةً رَّسُوْلُهَا كَذَّبُوْهُ فَاَتْبَعْنَا بَعْضَهُمْ بَعْضًا وَّجَعَلْنٰهُمْ اَحَادِيْثَۚ فَبُعْدًا لِّقَوْمٍ لَّا يُؤْمِنُوْنَ

Kemudian, Kami utus rasul-rasul Kami secara berturut-turut. Setiap kali seorang rasul datang kepada suatu umat, mereka mendustakannya. Maka, Kami iringkan (kebinasaan) sebagian mereka dengan sebagian yang lain. Kami jadikan (pula) mereka bahan pembicaraan. Maka, kebinasaanlah bagi kaum yang tidak beriman.

يٰحَسْرَةً عَلَى الْعِبَادِۚ مَا يَأْتِيْهِمْ مِّنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا كَانُوْا بِهٖ يَسْتَهْزِءُوْنَ

Alangkah besar penyesalan diri para hamba itu. Setiap datang seorang rasul kepada mereka, mereka selalu memperolok-olokkannya.

Baca juga: Surah Al-Anbiya Ayat 107: Misi Nabi Muhammad saw Menebar Rahmat

Citra Nabi Muhammad Sebagai Manusia

Kini Tarif menguraikan citra Nabi sebagai manusia biasa. Bahwa semua rasul Allah, meski derajat mereka diluhurkan Allah, sebenarnya juga manusia biasa yang rentan tersakiti, cenderung dihadapkan pada keraguan-keraguan, ditimpa krisis dan kesusahan hidup, seperti halnya yang dirasakan orang pada umumnya. Mari kita baca seluruh kutipan QS. Al-Dhuha [93]: 1-8 berikut;

وَالضُّحٰىۙ وَالَّيْلِ اِذَا سَجٰىۙ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰىۗ وَلَلْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُوْلٰىۗ وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضٰىۗ اَلَمْ يَجِدْكَ يَتِيْمًا فَاٰوٰىۖ وَوَجَدَكَ ضَاۤلًّا فَهَدٰىۖ وَوَجَدَكَ عَاۤىِٕلًا فَاَغْنٰىۗ

Demi waktu duha. Dan demi waktu malam apabila telah sunyi. Tuhanmu (Nabi Muhammad) tidak meninggalkan dan tidak (pula) membencimu. Sungguh, akhirat itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan (dunia). Sungguh,  kelak (di akhirat nanti) Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu sehingga engkau rida. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungi(-mu); mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberimu petunjuk (wahyu); dan mendapatimu sebagai seorang yang fakir, lalu Dia memberimu kecukupan?

Kita membacanya juga dalam QS. Al-Nisa’ [4]: 113;

وَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكَ وَرَحْمَتُهٗ لَهَمَّتْ طَّاۤىِٕفَةٌ مِّنْهُمْ اَنْ يُّضِلُّوْكَۗ وَمَا يُضِلُّوْنَ اِلَّآ اَنْفُسَهُمْ وَمَا يَضُرُّوْنَكَ مِنْ شَيْءٍ ۗ وَاَنْزَلَ اللّٰهُ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُنْ تَعْلَمُۗ وَكَانَ فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكَ عَظِيْمًا

Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu (Nabi Muhammad), tentu segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Akan tetapi, mereka tidak menyesatkan, kecuali dirinya sendiri dan tidak membahayakanmu sedikit pun. Allah telah menurunkan Kitab (Al-Qur’an) dan hikmah (sunah) kepadamu serta telah mengajarkan kepadamu apa yang tadinya belum kamu ketahui. Karunia Allah yang dilimpahkan kepadamu itu sangat besar.

Dari ayat-ayat tersebut, Tarif melihat beragam bentuk krisis yang dihadapi Nabi Muhammad. Krisis yang lebih dari sekadar rasa bersalah dan kesalahan yang nyaris menggoyahkan imannya. Citra kejujuran, spontanitas dan kerapuhan watak manusiawi Nabi Muhammad begitu kentara (hlm. 60-61). Namun ternyata, semua itu merupakan narasi permulaan yang pada akhirnya berujung pada kemenangan seperti yang direkam dalam QS. Yunus [10]: 103;

ثُمَّ نُنَجِّيْ رُسُلَنَا وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كَذٰلِكَ ۚحَقًّا عَلَيْنَا نُنْجِ الْمُؤْمِنِيْنَ ࣖ

Kemudian Kami selamatkan rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman. Demikianlah menjadi ketentuan Kami untuk menyelamatkan orang-orang mukmin.

Semua ini, simpul Tarif, menunjukkan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang nabi yang manusiawi dan rentan tersakiti. Ia berdiri di antara umatnya dan mendengarkan firman Allah. Ia seperti semua makhluk Allah, yang membutuhkan keteguhan hati dan belas kasih Allah.

Walhasil, citra Nabi Muhammad dalam Al-Quran berada dalam semacam titik temu empat titik persegi; Allah sebagai Penyingkap Wahyu, Al-Quran sebagai wahyu, Malaikat Jibril sebagai perantara wahyu dan Nabi Muhammad beserta umatnya sebagai penerima wahyu (hlm. 63). Wallahu a’lam.

Baca juga: Muhammad Nabi Cinta; Nabi Muhammad di Mata Seorang Penganut Katolik

Khoirul Athyabil Anwari
Khoirul Athyabil Anwari
Khoirul Athyabil Anwari, Santri Pondok Pesantren Al-Imdad, Bantul, Yogyakarta. Minat pada kajian keislaman. Bisa disapa di Twitter (@ath_anwari)
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Konsep Kepemimpinan Berdasarkan Sila Kelima Pancasila

0
Dalam Pancasila terdapat nilai-nilai yang dapat menginspirasi terkait konsep kepemimpinan yang sesuai dengan semestinya, yakni sila yang kelima “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat  Indonesia”....