Beranda Khazanah Al-Quran Dialektika Kemukjizatan Al-Quran dan Budaya Bangsa Arab Sebagai Bukti Moderatnya Ajaran Islam

Dialektika Kemukjizatan Al-Quran dan Budaya Bangsa Arab Sebagai Bukti Moderatnya Ajaran Islam

Al-Quran adalah mukjizat yang paling agung. Kemukjizatan al-Quran ada pada setiap aspek karena ia adalah Kalam Allah. Salah satu tanda mukjizat Al-Quran adalah mampu melakukan penataan ulang (rekonstruksi) atas kehidupan masyarakat Arab dalam setiap aspeknya. Maka proses dialektika antara misi Al-Quran dan budaya bangsa Arab tentu tidak dapat dihindari sebab objek dakwah pertama Nabi Muhammad adalah bangsa Arab.

Secara lebih tepat, proses ini dapat disebut sebagai proses inkulturasi, sebab dialektika antara Al-Quran dan budaya mampu menanamkan nilai-nilai fundamental Islam yang dibawa oleh Al-Quran ke dalam sebuah budaya, terutama bangsa Arab. Dalam perjalanan pewahyuannya, Al-Quran yang telah “membumi” turun beriringan dengan kejadian-kejadian tertentu dalam momen kesejarahan bangsa Arab sekaligus berperan menjadi perespon dan pemberi solusi atau dalam ulum al-Quran disebut sebagai asbab al-nuzul.

Dengan berdasar pada fakta itulah Khalil Abdul Karim berani menafsirkan penyataan Umar Ibn Khattab yang menyatakan bahwa bangsa Arab adalah materi Islam (al-‘arab maddah al-Islam), dengan memberikan beberapa contoh syari’at Islam yang berasal dari permodelan tradisi bangsa Arab, diantaranya: 1) menganggap ka’bah sebagai tempat yang paling suci di Makkah; 2) mempertahankan tradisi empat bulan haram (arba’ah hurum) yakni Dzulhijjah, Dzulqa’dah, Muharram, Rajab; 3) tradisi haji dan umrah; 4) poligami; 5) penggantungan nasab kepada ayah (patrilineal).


Baca Juga: Amin Al-Khuli: Mufasir Modern Yang Mengusung Tafsir Sastrawi


Beberapa tradisi Arab yang telah disebutkan oleh Abdul Karim itu, pada selanjutnya diadopsi oleh Al-Quran, atau dalam bahasa Ali Sodiqin disebut dengan tahmil, sebagai bentuk apresiasi. Adapun contoh lainnya dari model tahmil ini adalah tradisi perdagangan. Alqur’an bahkan banyak sekali mengadopsi diksi-diksi perdagangan dalam ayatnya seperti mizan, tsaman, isytara dan lainnya sehingga menjadi familiar di telinga bangsa Arab yang mayoritas pedagang.

Selain tahmil, Sodiqin juga merumuskan model dialektika al-Quran dan Budaya di masa Nabi Muhammad, dengan menyebut dua model dialektika lainnya yaitu taghyir dan tahrim. Taghyir merupakan model dialektika Al-Quran yang mengadopsi budaya namun merekonstruksinya sehingga mengubah orientasi dari budaya tersebut. Salah satu contohnya ialah sa’i.

Sa’i merupakan salah satu dari rukun haji yang diadopsi dari budaya bangsa Arab. Dahulu, bangsa Arab Jahiliyah melakukan sa’i dengan tujuan memuja dua berhala yang ada di kedua bukit tersebut. Berhala yang berada di bukit Shofa bernama Usaf sedangkan di Marwah bernama Nailah. Mereka memuja kedua berhala tersebut dengan cara mengusapnya.

Tatkala Islam datang, sa’i tidaklah dihilangkan namun tujuannya yang diubah. Maka Q.S. al-Baqarah [2]: 158 menjadi bukti bahwa Islam mengadopsi dan merekonstruksinya baik dari sisi tata cara maupun tujuannya yakni sebagai syi’ar Islam dan bukti ketaatan pada Allah.

Adapun model tahrim merupakan model dialektika Al-Quran yang mendekonstruksi suatu budaya karena dianggap tidak relevan untuk dipertahankan serta mempertimbangkan sisi mashlahat di dalamnya. Salah satu contohnya adalah pelarangan minum khamr yang melalui tiga ayat Al-Quran; Q.S al-Baqarah: 219, al-Nisa: 43 dan al-Maidah: 90.

Ketiga model dialektika antara Al-Quran dan budaya pada penjabaran di atas menjadi bukti ilmiah bahwa Islam dan budaya merupakan elemen yang semestinya berjalan beriringan. Tanpa budaya, Islam tidak akan mampu menembus batas-batas dimensi historis manusia sebab manusia merupakan objek sasaran daripada dakwah Islam itu sendiri. Maka dialektika itu sendiri bertujuan untuk memudahkan Islam diterima oleh bangsa Arab pada saat itu.


Baca Juga: Moh. E. Hasim, Tokoh Mufasir Sunda Aktifis Muhammadiyah


Tidak bisa dibayangkan jika Al-Quran tiba-tiba datang dan mendekonstruksi semua aspek kehidupan yang telah ada dalam masyarakat Arab. Semisal dalam model tahmil, Al-Quran menghapus tradisi haji dan umrah, maka sudah dapat dipastikan Islam akan ditolak dan tidak mendapatkan simpati dari masyarakat.

Sebab salah satu yang menjadikan kota Makkah ramai setiap tahunnya adalah dengan adanya ritual haji dan umrah. Begitupun dalam model-model selanjutnya, jika Al-Quran tidak menjadikan budaya sebagai salah satu strategi dan media dalam menyampaikan pesan-pesannya maka ajaran Islam akan kering dan tidak mendapatkan empati masyarakat. Wallahu a’lam.

Alif Jabal Kurdi
Alumni Prodi Ilmu al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Alumni PP LSQ Ar-Rohmah Yogyakarta
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Fungsi Gramatika dalam Pemahaman Ayat Alquran

Empat Fungsi Gramatika dalam Pemahaman Ayat Alquran

0
Pemahaman Alquran berawal dari susunan kalimat yang ditampilkannya. Alquran berbahasa Arab, di dalamnya memuat rangkaian fungsi kalimat dengan ragam bentuk kalimat. Setiap fungsi kalimat...