Beranda Tafsir Tematik Tafsir Ahkam Doa Setelah Wudhu Yang Disunnahkan Menurut Para Mufasir

Doa Setelah Wudhu Yang Disunnahkan Menurut Para Mufasir

Para ulama menjelaskan bahwa  ada doa setelah wudhu khusus yang dapat dibaca berdasarkan beberapa hadis. Para ahli tafsir tidak menjelaskan dengan detail perihal hal ini, tapi riwayat tentang doa tersebut disebutkan di dalam banyak kitab tafsir. Lebih lengkapnya, simak penjelasan para pakar tafsir dan fikih berikut ini:

Riwayat Tentang Doa Setelah Wudhu Dalam Kitab Tafsir

Imam Ibn Katsir tatkala mengulas tafsir surat Al-Imran ayat 135 menjelaskan wudhu dapat menjadi sarana bertaubat. Ia lalu mengutip hadis Umar ibn Khattab (Tafsir Ibn Katsir/2/124):

“مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيَبْلُغَ – ثُمَّ يَقُولُ: أشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيْكَ لَهُ، وأَشْهَدُ أنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، إلا فُتِحَتْ لَهُ أبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ، يَدْخُلُ مِنْ أيّهَا شَاءَ”

Tidak seorangpun berwudhu kemudian menyempurnakannya, lalu membaca “asyhadu allaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah. Wa asyhadu anna muhammadn ‘abduhu warasuuluhuh” kecuali delapan pintu surga dibukakan padanya dan ia bisa masuk dari pintu mana saja (HR. Muslim).

Baca Juga: Tafsir Ahkam: Anjuran Membersihkan Ruas Jari Saat Bersuci

Imam As-Suyuthi dalam kitab tafsir Ad-Durrul Mantsur menyebutkan hadis di atas dengan doa tambahan. Hadis tersebut disebutkan dalam tafsir surat Al-Baqarah ayat 222 yang juga diriwayatkan dari ‘Umar dan berbunyi (Ad-Durrul Mantsur/2/26):

 مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِى مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ فُتِحَتْ لَهُ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ

Tidak seorangpun berwudhu kemudian memperbaiki wudhunya, lalu membaca “asyhadu allaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah. Wa asyhadu anna muhammadn ‘abduhu warasuuluhuh. Allahummaj’alni minat tawwaabiina waj’alni minal mutathahhiriin” kecuali delapan pintu surga dibukakan padanya dan ia bisa masuk dari pintu mana saja (HR. At-Tirmidzi).

Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarah Muhadzdzab menyebutkan riwayat lain tentang doa setelah wudhu yang diriwayatkan dari Abi Sa’id Al-Khudri. Ia kemudian menulis kesimpulan bahwa ulama’ mazhab syafi’i sepakat mengenai kesunnahan membaca doa-doa tersebut setelah wudhu. Imam An-Nawawi menambahkan dua anjuran dalam membacanya. Pertama, hendaknya doa tersebut dibaca tidak berselang lama saat selesai wudhu; kedua, hendaknya membacanya dengan menghadap kiblat (Al-Majmu’/1/457).

Imam Al-‘Umrani dalam bab “Doa Yang Dibaca Setelah Wudhu” menambahkan anjuran lain, yakni agar tidak mengibas-ibaskan tangan setelah wudhu. Hal ini didasarkan pada hadis yang berbunyi:

إذا توضأتم فلا تنفضوا أيديكم، فإنها مراوح الشيطان

Jika kalian berwudhu maka jangan mengibas-ibaskan tangan kalian. Hal itu adalah godaan setan (Al-Bayan/1/139).

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam Fiqhul Islam menyatakan bahwa salah satu kesunnahan dalam wudhu adalah membaca syahadat, doa serta solawat setelahnya. Ia kemudian merangkum doa yang dianjurkan dibaca setelah wudhu kurang lebih sebagai berikut:

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمّد أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰه وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَه، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهْ، اَللّٰهُمَّ اجْعَلْنِي مِنَ التَّوَّابِيْنَ، وَاجْعَلْنِي مِنَ الْمُتَطَهِّرِيْن، سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إِلَيْك

Allahumma solli wa sallim ‘ala muhammadiw wa ‘alaa aali Muhammad. Asyhadu allaa ilaaha illallah wahdahu laa syariikalah. Wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu warasuuluhuh. Allahummaj’alni minat tawwaabiina waj’alni minal mutathahhiriin. Subhanakallaahumma wa bihamdika asyhadu allaa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaiik.

Baca Juga: Tafsir Ahkam: Efek Membasuh Telapak Tangan Sebelum Wudhu

Ya Allah, berikan rahmat serta selamat-Mu pada Nabi Muhammad beserta keluarganya. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, hanya Ia dan tiada sekutu bagi-Nya; dan sesungguhnya Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikan aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan orang-orang yang bersuci. Maha suci Engkau dan demi pujian-Mu. Aku bersaksi tiada tuhan kecuali Engkau. Aku meminta ampun dan bertaubat pada-Mu (Al-Fiqhul Al-Islami/1/408). Wallahu a’lam bish showab.

Muhammad Nasif
Alumnus Pon. Pes. Lirboyo dan Jurusan Tafsir Hadis UIN Sunan Kalijaga tahun 2016. Menulis buku-buku keislaman, terjemah, artikel tentang pesantren dan Islam, serta Cerpen.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Dasar legalitas badal haji

Dasar Legalitas Badal Haji

0
Baru-baru ini, Kemenag memberi pernyataan akan memberikan badal haji pada jemaah Indonesia yang meninggal dunia saat menunaikan ibadah haji. Hal ini menyusul kabar adanya...