Beranda Berita Dr. Laleh Bakhtiar, Muslimah Amerika Perintis Psikologi Al-Quran Telah Berpulang

Dr. Laleh Bakhtiar, Muslimah Amerika Perintis Psikologi Al-Quran Telah Berpulang

Dr. Laleh Bakhtiar lahir di Iran, tepatnya di Kota Teheran pada 29 Juli 1938. Kedua orangtuanya,  pasangan relawan medis Dr. Abol Ghassem Bakhtiar dan Helen Jeffreys menjadi inspirasi terbesarnya. Kelak hal inilah yang mendorongnya menjadikan Psikologi dan Sufisme Islam, dan Perjuangan Hak Patriarki dari sudut pandang Muslim menjadi concern keilmuan utamanya.

Sumbangsih Laleh Bakhtiar dalam Pengembangan Studi Islam

Dr. Laleh Bakhtiar merupakan Pendiri sekaligus Presiden Institute of Traditional Psychology and Scholar-in Residence di Kazi Publications. Ia mendapat gelar BA dalam bidang Sejarah di Chatham College dan gelar Master sekaligus Ph.D dalam bidang Filsafat dan Psikologi dari The University of New Mexico, Amerika Serikat. Sedangkan karir studi Islam dimulai dengan belajar kepada gurunya, Sayyid Hossein Nasr selama 30 tahun. Selama hidupnya Dr. Laleh Bakhtiar telah menulis, menerjemahkan mengedit, mengadaptasi lebih dari 150 buku.

Pencapaian terbesar dari keseluruhan karyanya adalah buku berjudul The Sublime Quran, sebuah terjemahan al-Quran. Pasalnya karya-karya tafsir dan terjemahan selama ini didominasi oleh laki-laki. Ia merupakan wanita pertama di Amerika yang memiliki karya terjemahan al-Quran.

Penghargaan terhadap The Sublime Quran salah satunya diberikan oleh Pangeran Yordania, Ghazi bin Muhammad, Kepala Penasihat untuk Urusan Budaya dan Agama Raja Abdullah. Menurutnya karya tersebut sangat sempurna dalam konsistensi interpretasi, metode hingga Bahasa yang digunakannya.

Cendekiawan yang telah bergulat selama 50 tahun itu juga meninjau dimensi mistis Islam dan teks-teks Islam dari perspektif seorang wanita muslim. Ia diakui sebagai cendekiawan dan praktisi perintis dalam disiplin psikologi Islam. Bukunya dengan judul Quranic Psychology of the Self: A Textbook on Islamic Moral Pshycology telah membantu psikologi Al-Quran memiliki ruang keilmuan tersendiri. Selain itu, Dr. Laleh Bakhtiar juga menulis banyak buku tentang persatuan islam, arsitektur, psikoetika dan penyembuhan moral mlalui Sufi Enneagram.

Dr. Laleh Bakhtiar sebagai pejuang keadilan

Tidak berhenti pada penulisan karya, selama bertahun-tahun Dr. Laleh Bakhtiar juga terjun langsung untuk memperlihatkan dengan jelas dedikasi Islam untuk perdamaian dan keadilan dengan mendengarkan berbagai keluhan wanita muslim yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga. The Sublime Qur’an nampaknya sengaja ia dedikasikan untuk menjadi alasan mereka lebih berdaya dan kuat dalam menghadapi persoalan yang tidak berpihak kepada wanita muslim.

Pada bulan Desember 2009, Dave Eggers, seorang Novelis Amerika merekomendasikan The Sublime Qur’an, disana ia mengakui akan keistimewaan terjemahan tersebut dari sebelumnya yang mana terlihat dengan jela dedikasi islam untuk keadilan sosial, perdamaian, dan mereka yang kurang beruntung. Pada Mei 2016, Dr. Laleh Bakhtiar dianugerahi penghargaan prestasi seumur hidup oleh Mohammed Web Foundation di Chicago atas kontribusinya pada Komunitas muslim Amerika.


Baca Juga: Laleh Bakhtiar dan Penafsiran Al-Quran dengan Hadis


Muslimah Amerika Pertama yang Menerjemahkan Al-Quran Telah Berpulang

Setiap yang bernyawa pasti akan tiada. Dr. Lelah Bakhtiar, sang pejuang kesetaraan gender sekaligus cendekiawan yang berdedikasi tinggi telah wafat pada 18 oktober 2020 di Chicago Amerika Serikat dalam usia 82 tahun. Di hari-hari mendekati wafatnya Dr. Laleh Bakhtiar dengan bahagia berkumpul dengan keluarganya. Ia dapat membaca pesan dan doa dari seluruh dunia, putra-putrinya juga membaca The Sublime Quran secara bergantian. Pemakamannya akan dilaksankan di Chichago, tempatnya pernah menimba ilmu. Sanak kerabat tentu sangat kehilangan, bahkan sang guru, Sayyid Hossein Nasr berkata:

“Almarhum Laleh Bakhtiar bagi saya, sekaligus, seorang pelajar, seorang teman, dan seorang kerabat. Berakar pada studi Islam dan sangat tertarik pada budaya Persia, dia mengabadiakn seumur hidup untuk (yayasan) beasiswa dan banyak menghasilkan karya hebat dalam bidang studi Islam dan Persia, Sufisme, dan Psikologi. Saya berdoa untuk keberkahan jiwanya.”

Selamat Jalan, Sang pahlawan keadilan dan perdamaian. Jasadmu telah tiada namun jasa dan dedikasimu akan selalu ada.

Rahma Vina Tsurayya
Alumni Ilmu Alqur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tafsir Q.S. Albaqarah: 261: Belajar Berpikir Kritis dari Nabi Ibrahim

Tafsir Q.S. Albaqarah: 261: Belajar Berpikir Kritis dari Nabi Ibrahim

0
Dalam dunia pendidikan, tiap peserta didik berupaya dengan beragam cara dan metode bagaimana dia bisa meraih pemahaman yang utuh dari apa yang dipelajari. Terutama...