BerandaTafsir TematikTafsir TarbawiEmpat Unsur Manajemen dalam Alquran

Empat Unsur Manajemen dalam Alquran

Manajemen adalah proses berkelanjutan anggota organisasi menggunakan sumber dayanya dan berusaha mengoordinasikan kegiatan untuk memenuhi berbagai tugas organisasi secara efisien (Zainal Arifin, Tafsir Ayat-ayat Manajemen: Hikmah Idariyah dalam Al-Qur’an, 102). Sedangkan menurut George R. Terry, manajemen terdiri dari beberapa unsur yang disingkat dengan POAC (Planning, Organizing, Actuanting, Controlling). Adapun dalam Alquran, manajemen memiliki unsur-unsur yang tidak jauh berbeda dengan unsur-unsur manajemen di atas. Berikut penjelasannya.

Pertama, Planning

Planning atau perencanaan merupakan kegiatan awal dalam sebuah pekerjaan agar mendapatkan hasil yang optimal. Alquran menjelaskan bahwa dalam melakukan perencanaan harus bercermin pada situasi dan kondisi masa lampau untuk mengatur langkah ke depan, sebagaimana dalam surah Alhasyr [59]: 18.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang yang beriman, bertawakalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah (Jilid 14, 129-130) menjelaskan bahwa ayat ini mengajak kaum muslimin berhati-hati untuk tidak mengalami nasib siksa duniawi dan ukhrawi seperti orang-orang Yahudi dan munafik. Untuk itu, setelah perintah bertakwa dalam rangka amalan positif, juga perintah untuk meninggalkan amalan negatif.

Perintah tersebut, menurut Shihab yang mengutip dari Thabathaba’i, adalah sebagai perintah untuk melakukan evaluasi terhadap amal-amal yang telah dilakukan. Seperti tukang kayu, supaya menyempurnakan pekerjaannya apabila telah baik atau memperbaikinya bila terdapat kekurangan. Sehingga ketika diperiksa, barang tersebut tampil sempurna atau tidak ada kekurangan lagi.

Arifin menjelaskan bahwa kegiatan perencanaan membutuhkan keseriusan dan pandangan jauh ke depan, karena menyangkut kegiatan yang dilakukan di masa akan datang. Sehingga, pepatah bilang jika anda gagal membuat rencana, maka anda sedang merencanakan kegagalan. (Tafsir Ayat-Ayat Manajemen: Hikmah Idariyah dalam Al-Qur’an, 116).

Baca Juga: Ngaji Gus Baha’: Manajemen Keuangan dalam Perspektif Al Quran

Kedua, Organizing

Organizing atau pengorganisasian merupakan proses pengaturan orang-orang dan sumber daya lainnya untuk mencapai tujuan bersama. Maka dari itu, manusia tidak dianjurkan untuk bercerai berai, akan tetapi dianjurkan untuk bersatu. Sebagaimana dalam Ali ‘Imran [3]: 103.

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.

Menurut Shihab, ayat di atas menjelaskan suatu upaya tenaga terkait satu sama lain dengan tuntunan Allah. Andaikata ada yang lupa, bisa diingatkan, atau andaikata tergelincir, bisa dibantu bangkit (Tafsir Al-Misbah, Jilid 2, 169-170).

Ayat di atas juga menyuruh manusia untuk bersatu padu dalam memegang komitmen dan aturan organisasi yang sudah disepakati, dan melarang keras untuk berpecah belah. Perpecahan dalam agama dan organisasi apa pun adalah pantangan besar yang harus dihindari (Alan’am [6]: 159).

Ni Kadek Suryani dan John E.H.J menjelaskan bahwa keberhasilan suatu organisasi dapat diukur dari pencapain atas tujuan yang telah ditentukan. Sehingga, efektifitas organisasi dapat dilihat dari ketercapaian tujuan dibanding dengan target yang sudah ditetapkan sebelumnya, serta menunjukkan sejauh mana organisasi itu melaksanakan kegiatannnya. (Kinerja Organisasi, 27-28)

Baca Juga: Belajar Organisasi dari Semut dalam Surat An-Naml Ayat 18-19

Ketiga, Actuating

Actuating adalah tahap pelaksanaan (execution) dari perencanaan dan pengorganisasian sesuai tujuan yang disepakati dalam musyawarah bersama. Seperti  dalam Albaqarah [2]: 208.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya dan janganlah kamu turuti langkah-langkah setan karena setan itu musuhmu yang nyata.

Kata as-silm di ayat ini, diterjemahkan dengan kedamaian atau Islam. Makna dasarnya adalah damai atau tidak mengganggu. Kedamaian ini diibaratkan dengan keberadaan suatu wadah yang dipahami dari kata fi (di dalam). Artinya, orang beriman diminta memasukkan totalitas dirinya ke dalam wadah tersebut, sehingga kegiatannya berada dalam koridor kedamaian wadah tersebut.

Ayat ini menuntut kepada setiap orang beriman untuk mengikuti ajaran Islam secara menyeluruh. Jangan hanya percaya dan mengamalkan sebagian ajarannya dan menolak atau mengabaikan sebagian ajarannya. (Tafsir Al-Misbah, Jilid 1, 449)

Arifin juga menjelaskan bahwa penggerakan (actuating) disebut juga motivasi (motivating) dalam fungsi manajemen. Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan memotivasi para anggota agar dapat menciptakan situasi organisasi yang setiap individunya dapat melaksanakan kegiatan secara bersamaan, baik untuk pribadi maupun organisasinya. (Tafsir Ayat-Ayat Manajemen: Hikmah Idariyah dalam Al-Qur’an, 150-152).

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Hasyr Ayat 18:  Intropeksi Diri, Manajemen Waktu, dan Tabungan Kebaikan dalam Al Quran

Keempat, Controlling

Controlling atau pengawasan adalah suatu kontrol terhadap jalannya planning hingga pelaksanaan di lapangan. Seperti dalam Almujadilah [58]: 7.

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۖ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَىٰ ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَىٰ مِنْ ذَٰلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ۖ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Tidakkah kamu perhatikan, bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia berada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”

Hamka menafsirkan bahwa tidak ada larangan ketika bermusyawarah menyampaikan hal yang terbatas, karena barangkali ada yang perlu dirahasiakan sebelum perencanaannya sempurna. Tetapi juga harus berhati-hati dalam menyampaikan hal yang terbatas tersebut, sebab meskipun manusia tidak mendengar, namun Allah tetap mengetahuinya. Dengan demikian, ayat ini juga memberikan peringatan kepada orang beriman agar selalu berhati-hati dalam menjaga keikhlasannya, lahir dan batin (Tafsir Al-Azhar, Jilid 9, 7218-7219).

Mengutip penjelasan Bernadine R. Wirjana bahwa pengawasan atau pengendalian merupakan proses yang mengarahkan kegiatan ke arah tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. Seperti halnya seorang manajer yang efektif akan menguatkan kinerja luar biasa karyawannya dan memberi respon positif agar tercapainya rencana organisasi. (Mencapai Manajemen Berkualitas: Organisasi, Kinerja, Program, 64-67)

Dari pemaparan di atas, dapat dipahami bahwa untuk mencapai suatu tujuan tertentu dengan cara bekerjasama dibutuhkan suatu manajemen. Adapun dalam Alquran telah dijelaskan empat unsur manajemen yang termaktub di dalamnya, antara lain pada Alhasyr [59]: 18 (planning), Ali ‘Imran [3]: 103 (organizing), Albaqarah [2]: 208 (actuating), Almujadilah [58]: 7 (controlling).

Wallahu a’lam.

Muhammad Afiruddin
Muhammad Afiruddin
Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an dan Sains Sendangagung Paciran Lamongan
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Menyikapi Keburukan Orang Lain Tidak Harus dengan Memaafkan 

Menyikapi Keburukan Orang Lain Tidak Harus dengan Memaafkan 

0
Alquran memberikan petunjuk dan panduan bagi seseorang dalam menyikapi keburukan atau kejahatan orang lain. Solusi yang ditawarkan Alquran bersifat kondisional dan bijak, tidak serta...