Beranda Tafsir Tematik Esensi Qalam dan Anjuran Menulis Dalam Al-Quran

Esensi Qalam dan Anjuran Menulis Dalam Al-Quran

Selain perintah untuk membaca, dalam surah Al-Alaq juga terdapat anjuran menulis, tepatnya di ayat 4-5. Manusia adalah makhluk yang paling sempurna diciptakan oleh Allah diantara semua makhluk ciptaan-Nya. Sebab, manusia diberi anugerah oleh Allah berupa indera yang dapat digunakan untuk memperoleh pengetahuan. Dari pengetahuan inilah manusia dapat mengelola bumi, menundukkan makhluk lain untuk dimanfaatkan bagi kelangsungan hidupnya, membuat suatu perubahan diatas dunia, hingga mampu mengenal Tuhan yang menciptakan dirinya.

Ilmu pengetahuan manusia boleh jadi didapatkan dari hasil  pembelajaran mereka sendiri. Namun perlu untuk diketahui bahwa dalam pembelajaran itu, terdapat kontribusi Allah Swt, zat yang maha mengetahui segala sesuatu, yang mengajari manusia dengan perantaraan qalam. Sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an,

الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِ , عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

(Dzat) yang mengajarkan (manusia) dengan perantaraan qalam, mengajar manusia apa yang belum diketahui(nya) (QS. Al-Alaq: 4-5)

Baca Juga: Tadabbur Atas Surat Al-‘Alaq Ayat 1-5: Wahyu Pertama Perintah Membaca

Qalam dan pena

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menjelaskan, kata (القلم) al-qalam terambil dari kata kerja (قلم) qalama yang berarti memotong ujung sesuatu. Beliau mencontohkan pengertian ini seperti memotong ujung kuku yang disebut (تقليم) taqlim, tombak yang dipotong ujungnya sehingga meruncing dinamai (مقاليم)  maqālīm, anak panah yang runcing ujungnya dan bisa digunakan untuk mengundi, dinamai pula qalam, seperti dalam QS. Al-Imran [3]:44.

Maka, alat yang digunakan untuk menulis dinamai dengan qalam karena pada mulanya alat tersebut dibuat dari suatu bahan yang dipotong dan di peruncing ujungnya. Quraish shihab melanjutkan bahwa kata qalam disini dapat berarti hasil dari penggunaan alat tersebut, yakni tulisan. Ini karena bahasa sering kali menggunakan kata yang berarti “alat” atau “penyebab” untuk menunjukkan “akibat” atau “hasil” dari penyebab atau penggunaan alat tersebut. Misalnya, jika seseorang berkata, “saya khawatir hujan”, maka yang dimaksud dengan kata “hujan” adalah basah atau sakit, hujan adalah penyebab semata.

Makna di atas dikuatkan oleh firman Allah dalam QS. Al-Qalam ayat 1, yakni firman-Nya: Nun, demi Qalam dan apa yang mereka tulis. Apalagi disebutkan dalam sekian banyak riwayat bahwa surah al-Qalam turun setelah akhir ayat kelima surah al-‘Alaq. Ini berarti dari segi masa turunnya kedua kata qalam tersebut berkaitan erat, bahkan bersambung walaupun urutan penulisannya dalam mushaf tidak demikian.

Dalam Tafsir Salman juga di jelaskan, qalam diartikan sebagai “pena” dan hasilnya berupa “tulisan” bila manusia yang mempergunakannya. Akan tetapi, apakah qalam Allah sama dengan qalam manusia? Tentu saja tidak. Maksud qalam dalam ayat ini adalah Allah mengajarkan manusia dengan berbagai media. Namun saat itu media yang dipahami manusia hanyalah qalam dalam makna “pena”. Allah bisa saja mengajarkan manusia secara langsung sehingga manusia mengerti, namun menurut ayat ini tidaklah demikian keadaannya.

Dijelaskan pula bahwa rangkaian kata ‘allama bi al-qalami dapat diartikan dengan dua cara. Pertama, dia itu tulisan yang bisa menjadikan mengerti tentang segala yang gaib. Kedua, bahwa yang dimaksud ialah mengajarkan manusia menulis dengan qalam. Dua kata ini saling berdekatan, dan yang dimaksud keduanya adalah keutamaan dan anjuran menulis. Sama seperti penjelasan dalam tafsir kemenag, dimana mengajar yang dimaksud pada ayat diatas bermakna memberikan kemampuan terhadap manusia untuk menggunakan alat tulis.

Baca Juga: Tafsir Surat Al ‘Alaq Ayat 1-7

Anjuran menulis dalam Al-Quran

Berkaitan dengan makna tersebut, Hamka menafsirkan, terlebih dahulu Allah Ta’ala mengajar manusia menggunakan qalam. Setelah ia pandai mempergunakan qalam  itu, Allah lalu memberikan pengetahuan yang banyak kepadanya, sebagaimana firman Allah pada ayat selanjutnya; mengajar manusia apa yang belum diketahui(nya), sehingga ia dapat mencatat ilmu yang baru didapatnya dengan qalam yang telah ada di tangannya.

Berangkat dari pengertian ini dapat disimpulkan bahwa secara tidak langsung manusia dianjurkan untuk menulis sebagai sarana dalam memperoleh pengetahuan. Al-Qurtubi pun dalam tafsirnya mengatakan bahwa pada ayat ini Allah mengingatkan kepada manusia akan fadhilah ilmu menulis dan anjuran menulis, karena di dalam ilmu penulisan terdapat hikmah dan manfaat yang sangat besar, yang tidak dapat dihasilkan kecuali melalui penulisan. Ilmu-ilmu pun tidak dapat diterbitkan kecuali dengan penulisan, begitu pula dengan hukum-hukum yang mengikat manusia agar selalu berjalan di jalur yang benar.

Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda,

قَيِّدُوْا الْعِلْمَ بِالْكِتَابَةِ

Ikatlah ilmu dengan tulisan (HR. At-Thabrani dan Hakim dari Abdullah bin Amr)

Dalam redaksi yang lain,

الْعِلْمُ صَيْدٌ وَ الْكِتَابَةُ قَيْدُهُ , قَيِّدْ صُيُوْدَكَ بِالْجِبَالِ الْوَاثِقَةِ

Ilmu pengetahuan adalah laksana binatang buruan dan penulisan adalah tali pengikat buruan itu. Oleh sebab itu, ikatlah buruanmu dengan tali yang teguh.

Karenanya, Wahbah Zulhaili dalam Tafsir Al-Munir mengatakan bahwa seandainya tidak ada tulisan, pastilah ilmu-ilmu itu akan punah, agama tidak akan berbekas, kehidupan tidak akan baik, dan aturan tidak akan stabil. Pemahaman inilah yang mengilhami para ulama terdahulu sehingga karya mereka yang berupa tulisan-tulisan masih dapat kita nikmati sampai sekarang ini. Penulis teringat pada perkataan Pramoedya Ananta Toer, “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah”.

Singkatnya, Semoga pembahasan ini dapat menginspirasi para pembaca untuk berkarya dalam bentuk tulisan, yang jika dibaca akan mendatangkan manfaat bagi orang lain, dan akan mendatangkan pahala yang terus mengalir hingga di akhirat kelak. Amin Ya Rabbal Alamin

Harfin
Mahasiswa Institut Pesantren KH. Abdul Chalim Mojokerto, aktif di CRIS Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

tentang fitnah

Penjelasan tentang Fitnah Lebih Kejam daripada Pembunuhan

0
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata fitnah diartikan sebagai perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama...