Beranda Kisah Al Quran Fashabrun Jamil, Kisah Kebijaksanaan Sang Ayah Saat Ditipu Anak-Anaknya

Fashabrun Jamil, Kisah Kebijaksanaan Sang Ayah Saat Ditipu Anak-Anaknya

Kadang beberapa muslim yang sedang terkena musibah dan hendak mengungkapkan keinginan hatinya untuk bersabar, mendorong ـmembuat status di medsos berupa kata fashabrun jamil, yang kurang lebih maknanya adalah kesabaran yang indah. Kata tersebut seakan menggambarkan bahwa si pengucap atau si pembuat status sedang menginginkan tidak sekadar sikap sabar, dalam menghadapi musibah yang mengenainya. Namun, kesabaran yang mendorong dirinya untuk dapat terus tersenyum atau bersikap elegan.

Pemakaian kata fashabrun jamil seperti di atas agak melenceng dari kisah yang melatari kemunculan lafal tersebut di dalam Al Quran. Lebih tepatnya dalam Surat Yusuf ayat 18. Yang sebenarnya terjadi adalah lafal tersebut muncul dari seorang ayah yang sedang mengalami ujian amat berat, yakni kehilangan orang yang paling disayangi, sekaligus dikibuli secara beramai-ramai oleh anak-anaknya.

Kehilangan Orang Yang Paling Disayangi

Lafad fa shabrun jamil berkaitan dengan kisah prilaku buruk kesepuluh anak Nabi Ya’qub, yang mencelakai saudara tiri mereka sekaligus orang yang paling disayang Nabi Ya’qub, yakni Nabi Yusuf. Didorong rasa iri atas karunia Allah kepada Nabi Yusuf, kesepuluh anak Nabi Ya’qub merayu sang ayah agar memberikan izin membawa Nabi Yusuf untuk diajak mengembala bersama. Mereka berjanji akan menjaga Nabi Yusuf, sekaligus memberi kesempatan dirinya yang saat itu masih kecil, untuk bermain.

Nabi Ya’qub dengan berat hati memberikan izin. Kekhawatirannya kemudian terbukti. Kesepuluh anaknya menyingkirkan Nabi Yusuf dari hadapannya. Sepulang dari mengembala, mereka menangis sembari mengaku bila Nabi Yusuf diterkam serigala. Untuk menguatkan cerita bohong mereka, mereka menyodorkan baju Nabi Yusuf yang berlumuran darah. Padahal Nabi Yusuf dengan sengaja mereka jatuhkan ke sebuah sumur.

Baca juga: Kisah 70 Sahabat Nabi dan Dzikir Hasbunallah Wa Ni’mal Wakil

Sayangnya mereka menyodorkan bukti yang janggal kepada Nabi Ya’qub. Mereka menyodorkan baju berlumuran darah, tapi tidak ada bekas terkoyak padanya. Sebuah keanehan mengingat mereka berkata bahwa Nabi Yusuf diterkam serigala. Nabi Ya’qub pun mengetahui bahwa ia sedang dikibuli secara beramai-ramai oleh kesepuluh anak-anaknya sendiri.

Kisah bagaimana Nabi Ya’qub dikibuli anak-anaknya dan bagaimana sikap Nabi Ya’qub kemudian, disinggung oleh Allah dalam Surat Yusuf ayat 16-18:

وَجَاءُوا أَبَاهُمْ عِشَاءً يَبْكُونَ () قَالُوا يَا أَبَانَا إِنَّا ذَهَبْنَا نَسْتَبِقُ وَتَرَكْنَا يُوسُفَ عِنْدَ مَتَاعِنَا فَأَكَلَهُ الذِّئْبُ وَمَا أَنْتَ بِمُؤْمِنٍ لَنَا وَلَوْ كُنَّا صَادِقِينَ () وَجَاءُوا عَلَى قَمِيصِهِ بِدَمٍ كَذِبٍ قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ

Kemudian mereka (ke-10 saudara Nabi Yusuf) datang kepada ayah mereka (Nabi Ya’qub) di sore hari sambil menangis. Mereka berkata: “Wahai ayah kami, sesungguhnya kami pergi berlomba-lomba dan kami tinggalkan Yusuf di dekat barang-barang kami. Lalu dia dimakan serigala; dan kamu sekali-kali tidak akan percaya kepada kami, sekalipun kami adalah orang-orang yang benar.” Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) dengan darah palsu. Ya’qub berkata: “Sebenarnya diri kalian berbuat sesuatu yang membuat diri kalian nyaman; Maka kesabaran yang baik Itulah (kesabaranku). Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.” (QS: Yusuf [12] 16-18)

Makna Fashabrun Jamil

Nabi Ya’qub berkata, Fashabrun Jamil untuk menunjukkan sikapnya tatkala tahu ia kehilangan Nabi Yusuf dan dikibuli anak-anaknya. Ia memilih tidak meluapkan amarah serta tidak mengorek terlalu dalam keterangan kesepuluh anaknya. Bisa jadi, Nabi Ya’qub tidak melakukan hal itu sebab keadaan tidak mengizinkan melakukan hal itu. Hal ini membuat beliau memilih bersabar saja, daripada menambah panjang permasalahan.

Baca juga: Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis dalam Al Quran

Ibn Katsir dalam tafsirnya mengutip hadis mursal saat Nabi Muhammad saw ditanya mengenai makna fashabrun jamil. Diriwayatkan dari Habban ibn Abi Jabalah bahwa Nabi menjawab:

صَبْرٌ لَا شَكْوَى فِيْهِ

Sabar yang tidak ada mengeluh padanya (Tafsir Ibn Katsir/4/375)

Ibnu Katsir kemudian mengutip keterangan Imam Al-Bukhari, yang mengaitkan lafal tersebut dengan kejadian hadisul ifki atau kabar bohong tentang perselingkuhan Sayyidah ‘Aisyah. Dimana Sayyidah ‘Aisyah merasa kesulitan menepis isu tersebut dan memilih bersabar sebagaimana sabarnya Nabi Ya’qub. Sayyidah ‘Aisyah kemudian mengutip ayat tersebut, sebagai gambaran begitu beratnya permasalahan tersebut di benak beliau (Sahih Bukhari/2/942). Siapakah yang tak teramat marah dan malu, bila ia berposisi istri orang yang paling terkenal dan dikabarkan selingkuh?

Imam Ar-Razi menyatakan, redaksi fashabrun jamil (sabar yang indah atau baik) menunjukkan bahwa adapula sabar yang tak baik. Sabar yang baik adalah sabar disertai kesadaran, bahwa Allah lah yang menurunkan ujian itu. Dan Allah bebas melakukan apa saja pada apa yang dimiliki-Nya. Kesadaran itulah yang membuat si pelaku merasa malu, bila memperlihatkan sikap tidak terima atau mengeluh pada Allah. (Tafsir Mafatihul Ghaib/9/11)

Muhammad Nasif
Alumnus Pon. Pes. Lirboyo dan Jurusan Tafsir Hadis UIN Sunan Kalijaga tahun 2016. Menulis buku-buku keislaman, terjemah, artikel tentang pesantren dan Islam, serta Cerpen.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Budaya

Relasi Islam, Alquran, dan Budaya

Secara umum, budaya merupakan buah pikir dan batin manusia yang berkesadaran dalam bentuk kepercayaan, kesenian, maupun adat istiadat. Budaya kerap kali berkaitan erat dengan agama...