BerandaTafsir TematikHari Sabtu sebagai Hari Libur, Dulu dan Sekarang

Hari Sabtu sebagai Hari Libur, Dulu dan Sekarang

Weekend, sebutan lain dari akhir pekan, identik dengan mengistirahatkan badan dari penatnya kesibukan hari-hari sebelumnya. Weekend umumnya diisi dengan hal-hal yang membahagiakan diri melalui me-time maupun bersama teman-teman. Dapat dikatakan juga weekend sebagai hari bebas dari pekerjaan atau dunia persekolahan.

Sebagai lawan dari weekday, weekend menjadi hari yang paling ditunggu-tunggu kebanyakan orang. Bersantai, menikmati hari, serta melupakan sejenak segala rutinitas kesibukan yang ada. Sesuai dengan maknanya, yakni akhir pekan, weekend pada umumnya terjadi pada hari Jumat, Sabtu, atau Minggu. Namun, menurut Cambridge Dictionary, weekend terjadi pada hari Sabtu dan Minggu saja.

Oleh beberapa negara di belahan dunia, hari Sabtu ditempatkan sebagai hari bebas dari pekerjaan atau sekolah. Meski beberapa negara lain menempatkan hari Minggu sebagai hari libur nasional. Amerika Serikat misalnya, menjadikan hari Sabtu sebagai weekend mereka untuk mengistirahatkan diri dari penatnya pekerjaan mereka dengan bersantai, berolahraga, atau menghabiskan waktu sendiri maupun bersama teman-teman atau keluarga. Sedangkan di Indonesia, weekend ditetapkan pada hari Sabtu dan Minggu.

Asal-Usul dan Makna Sabtu

Dalam bahasa Arab, as-sabt memiliki arti beberapa saat dari masa. Kata as-sabt juga dapat diartikan sebagai istirahat. Diucapkan sabata-yasbutu-sabtan, artinya beristirahat; tenang. Pada masa jahiliah, hari Sabtu disebut sebagai hari Syubar (ada yang menyebutkan Syiyar atau Syayar). Adapun dalam bahasa Romawi, kata ‘Sabtu’ berasal dari dies saturni, yang dalam bahasa Inggris kuno bermakna day of Saturn, yakni Planet Saturnus. Menurut mitologi bangsa Romawi kuno, Saturnus adalah Dewa Tanaman (Muhammad, 2011: 633).

Menurut penanggalan Yahudi, Sabat atau Sabtu merupakan hari ketujuh yang dipergunakan untuk istirahat dari pekerjaan (Heuken, 169). Disebut pula dengan hari perayaan dan salah satu hari yang dikhususkan untuk beribadah. Orang-orang Yahudi pada hari itu menyajikan makanan sebanyak tiga kali pada akhir pekan, atau setelah kebaktian di sinagoge selesai, tepatnya pada Jumat malam, Sabtu tengah hari, dan Sabtu sore sebelum Sabat berakhir. Pada hari-hari itu, sebagai bentuk penghormatan, mereka tidak melakukan pekejaan apapun selama sehari semalam.

Kata ‘Sabtu’ atau as-Sabt dalam Berbagai Penafsiran

Kata ‘Sabtu’ atau ‘as-sabt’ pada Q.S. an-Nabā’ [78]: 9 dimaknai oleh para mufassir dengan mengistirahatkan diri.

وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًاۙ

Dan Kami menjadikan tidurmu untuk istirahat.

Diterangkan dalam Tafsir at-abarī (juz 24, h. 9), kata as-sabt dan as-subāt memiliki makna istirahat, ketenangan, dan kedamaian. Oleh karenanya, hari Sabtu menjadi hari istirahat dan hari tenang. Begitu pula pada kitab Fat ar-Ramān fī Tafsīr al-Qur’ān (juz 7, h. 259). Ayat di atas ditafsirkan dengan mengistirahatkan badan sebagai bentuk memberi jeda dari pekerjaan-pekerjaan yang menjadi rutinitas. Sebab pada dasarnya, kata as-sabt mengandung makna al-qa’u, yakni berhenti atau memberi jeda.

Baca juga: “Travelling” dan Orientasi Idealnya

Ibnu Abi Zamanin dalam kitabnya, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Azīz li Ibn Abī Zamanin (juz 5, h. 82) juga menyebutkan, bahwa makna as-sabt adalah memberhentikan sejenak dari segala aktivitas (al-arakah). Lebih spesifik lagi, Ibrahim al-Ibyari dalam kitab al-Mausū’ah al-Qur’āniyah (juz 11, h. 420) memaknai kata subāt sebagai mengistirahatkan diri dari jerih payah pekerjaan (‘ināi al-‘amali).

Disebutkan dalam Tafsīr as-Sam’āni (juz 6, h. 136), bahwa makna subāt adalah at-tamaddud (meregangkan badan dengan berbaring) dan as-sukūn (mengistirahatkan diri). Itulah mengapa, hari Sabtu identik dengan hari istirahat atau weekend. Sebab makna yang terkandung dari kata sabt adalah tentang mengistirahatkan diri.

Selain pada Q.S. an-Nabā’ [78]: 9, kata ‘Sabtu’ juga tertera dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 65 berikut.

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِيْنَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِى السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُوْنُوْا قِرَدَةً خٰسِـِٕيْنَ

Sungguh, kamu benar-benar telah mengetahui orang-orang yang melakukan pelanggaran di antara kamu pada hari Sabat, lalu Kami katakan kepada mereka, “Jadilah kamu kera yang hina!”

Baca juga: Syakban, Bulannya Pembaca Alquran

Ayat ini menjelaskan tentang sikap ingkar Bani Israil terhadap hari Sabat, yang seharusnya mereka memberi ruang khusus untuk beribadah bagi orang Yahudi, justru dilanggar. Pelanggaran yang diperbuat adalah tetap mencari ikan pada hari itu, yang rupanya pada hari itulah ikan-ikan muncul di permukaaan air. Kemudian Allah mendatangkan kehinaan pada mereka yang melanggar, dengan tersingkirkan atau terkucilkan. Dan setelah tiga hari, mereka mengalami kebinasaan. Sebagaimana dikisahkan dalam kitab Tafsir Jalalain (h. 14).

Secara historis, Q.S. al-Baqarah [2]: 65 ini menggambarkan hari Sabtu sebagai hari beribadahnya kaum Yahudi. Tidak diperkenankan bagi mereka untuk melakukan hal-hal selain ibadah. Disebutkan dalam kitab Fat ar-Ramān fī Tafsīr al-Qur’ān (juz 1, h. 120), bahwa makna as-sabt merupakan al-qa’u, yakni memotong, menjeda, berhenti. Sebagaimana pada hari Sabtu, Allah menjeda dalam menciptakan. Dikatakan juga, memberhentikan diri dari kesibukan, mengistimewakan hari itu dengan meninggalkan rutinitas, dan menunaikan ibadah.

Pentingnya Mengistirahatkan Diri pada Weekend

Dari penafsiran yang telah dipaparkan di atas, jika dikoneksikan dengan kesehatan jiwa dan raga, memanfaatkan waktu akhir pekan atau weekend, adalah hal yang penting dilakukan. Mengapa? Karena hari itu menjadi kesempatan mengistirahatkan badan dan pikiran. Tujuh hari dalam satu minggu harus dijalani secara seimbang. Weekdays digunakan untuk memaksimalkan rutinitas bekerja hingga segala pekerjaan yang harus diselesaikan memang sudah beres. Begitu tiba weekend hari Sabtu dan Minggu, renggangkan pikiran dan badan. Karena keseimbangan antara bekerja dan relaksasi itu penting.

Baca juga: Benarkah Surah At-Taubah Ayat 37 Melarang Pengunduran Hari Libur 1 Muharram?

Di sisi lain, weekend juga memungkinkan bagi segenap anggota keluarga untuk dapat meluangkan waktu bersama. Sebab, bagi sebagian orang, weekend adalah hari keluarga. Akhir pekan menjadi momen yang tepat menyisihkan kesibukan untuk merenggangkan otak dari kepenatan pekerjaan, dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Itulah makna Sabtu sebagai waktu beristirahat dari segala kepenatan dalam seminggu, atau disebut dengan weekend.

Fatia Salma Fiddaroyni
Fatia Salma Fiddaroyni
Alumni jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kediri; santri PP. Al-Amien, Ngasinan, Kediri.
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Menyikapi Keburukan Orang Lain Tidak Harus dengan Memaafkan 

Menyikapi Keburukan Orang Lain Tidak Harus dengan Memaafkan 

0
Alquran memberikan petunjuk dan panduan bagi seseorang dalam menyikapi keburukan atau kejahatan orang lain. Solusi yang ditawarkan Alquran bersifat kondisional dan bijak, tidak serta...