Beranda Ilmu Tajwid Hidayatus Shibyan, Kitab Tajwid Dasar Yang Banyak Diajarkan Di Pesantren

Hidayatus Shibyan, Kitab Tajwid Dasar Yang Banyak Diajarkan Di Pesantren

Pesantren mengenalkan ilmu-ilmu Al-Qur’an kepada umat Islam pertama-tama mulai dari ilmu yang berkutat dengan bacaan Al-Qur’an, atau biasa dikenal dengan Ilmu Tajwid. Salah satu kitab tentang ilmu tajwid yang diajarkan ditingkat paling dasar adalah kitab Hidayatus Shibyan. Kitab ini diajarkan sebelum mulai mempelajari kitab yang agak lebih tebal seperti kitab Al-Muqaddimah Al-Jazariyah.

Tulisan ini akan sedikit mencoba mengulas profil penyusun dari kitab tersebut. Hal ini mengingat bahwa Hidayatus Shibyan tidak hanya populer di kalangan pesantren-pesantren, tapi juga madrasah-madrasah diniyah di pelosok-pelosok desa. Mengenal kitab ini akan membantu memahami mengapa kitab ini menjadi populer dan dipercaya oleh para pengajar Al-Qur’an di Indonesia.

Sekilas Penyusun Kitab Hidayatus Shibyan

Kitab ini merupakan kitab tajwid dasar dengan salah satu kelebihan disusun terdiri dari bait-bait syair, atau di kalangan pesantren biasa dikenal dengan istilah nadham. Kitab yang tersusun dari bait-bait syair memiliki gaya tarik tersendiri sebab bentuknya yang berupa syair, dapat kemudian dimanfaatkan untuk lantunkan bersama-sama menggunakan salah satu lagu yang populer kala itu. Cara ini selain membuat para murid merasa terhibur, juga memudahkan mereka untuk menghafalnya.

Baca Juga: Hukum Mim Sukun dalam Ilmu Tajwid dan Contohnya dalam Al-Quran

Penamaan Hidayatus Shibyan sendiri muncul berdasar keterangan penyusunnya di bait ketiga. Penyusunnya menyatakan:

سَمَّيْتُهُ هِدَايَةَ الصِّبْيَان ### أَرْجُوْ إِلٰهِيْ غَايَةَ الرِّضْوَانِ

Aku menamai kitab ini dengan “Hidayatus Shibyan” ### aku berharap kepada tuhanku, dengan kitab ini aku memperoleh ridha-nya yang paling besar

Penyusun kitab ini adalah Syaikh Sa’id ibn Sa’d An-Nabhani Al-Hadrami. Lahir tahun 1300 H  di Yaman dan wafat tahun 1354 H di tempat yang sama. Syaikh Sa’id ibn Sa’d adalah seorang ulama’ yang ahli dalam bidang Bahasa, fikih serta berpengetahuan luas perihal ilmu terkait membaca Al-Qur’an. Beliau mengarang beberapa karya tentang ilmu tajwid, gramatikal arab, tauhid dan tasawuf.

Ada hal menarik yang diungkapkan di dalam kitab Natsrul Jawahir; sebuah kitab yang memuat biografi ulama’-ulama’ di kurun 14, bahwa Syaikh Sa’id ibn Sa’d An-Nabhani meski berasal dari Yaman, pernah melakukan kunjungan ke Indonesia atau lebih tepatnya ke Surabaya. Kunjungan ini merupakan kunjungan dakwah atau dalam rangka menyebarkan ilmu serta ikut membantu permasalahan yang menimpa para Sayyid Alu Ba’lawi di Jawa. Di Surabaya beliau sempat mengajar ilmu gramatikal arab, bacaan-bacaan Al-Qur’an dan hadis (Natsrul Jawahir/469).

Beberapa artikel di media internet menyebutkan, Syaikh Sa’id Nabhan merupakan saudara dari Salim Nabhan; salah satu pendiri percetakan ktab-kitab agama Islam yang cukup terkenal sejak zaman sebelum kemerdekaan. Kalau memang informasi ini benar, maka bisa jadi Salim Nabhan ini ikut andil dalam tersebarnya kitab karya saudaranya tersebut. Hanya saja, penulis belum dapat memastikan kevalidan informasi ini.

Tentang Kitab Hidayatus Shibyan

Kitab Hidayatus Shibyan adalah kitab yang terdiri dari 40 bait syair. Bila dibandingkan dengan kitab-kitab tajwid lain yang biasa digunakan di pesantren seperti Al-Muqaddimah Al-Jazariyah, kitab ini bisa dibilang lebih ringkas dalam mengulas ilmu tajwid. Sehingga cocok untuk pelajar tingkat dasar.

Dalam 40 bait, Hidayatus Shibyan mengulas tentang 4 hukum bacaan terkait nun mati dan tanwin, ghunnah dalam nun dan mim tasydid, alif lam ta’rif serta huruf mad dan pembagiannya. Kitab ini tidak mengulas tentang makhraj huruf maupun sifat-sifatnya, kecuali sifat tafkhim dan qalqalah.

Baca Juga: Hukum Nun Sukun dan Tanwin dalam Ilmu Tajwid

Kitab ini juga tidak mengulas bacaan-bacaan yang tidak sering muncul di dalam Al-Qur’an, seperti isymam, imalah dan selainnya. Juga tidak mengulas hukum-hukum semacam tartil, adab membaca Al-Qur’an dan selainnya.

Kitab tajwid dasar ini memiliki tiga syarah. Yaitu Mursyidul Wildan karya Syaikh Sa’id ibn Sa’d sendiri, Irsyadul Ikhwan karya Muhammad Al-Hadad ibn ‘Ali ibn Khalaf Al-Husaini dan Bahjatul Ikhwan karya Muhsin ibn Ja’far ibn Abi Numay. Di Indonesia sendiri, kitab ini di beberapa tempat dicetak dan dipakai bersama terjemahnya yang berjudul Syifaul Jinan Fi Tarjamati Hidayatus Shibyan, karya Ahmad ibn Muthahhar ibn Abdurrahman, Mranggen, Semarang. Sebuah terjemah yang bisa saja disebut sebagai syarah sebab cukup panjang lebar mengulas tiap bait dari Hidayatus Shibyan, meski dengan Bahasa Jawa.

Muhammad Nasif
Alumnus Pon. Pes. Lirboyo dan Jurusan Tafsir Hadis UIN Sunan Kalijaga tahun 2016. Menulis buku-buku keislaman, terjemah, artikel tentang pesantren dan Islam, serta Cerpen.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Monopoli

Isyarat Larangan Monopoli Ekonomi dalam Al-Quran

0
Dalam mewujudkan perekonomian yang sehat, Islam mengingatkan agar setiap individu tidak mengindahkan prinsip-prinsip fundamental mengenai kemaslahatan orang banyak, diantaranya adalah kehalalan dan tidak mengambil hak...