Beranda Ulumul Quran Hikmah Penyusunan Al-Qur’an dalam Bentuk Kumpulan Surah

Hikmah Penyusunan Al-Qur’an dalam Bentuk Kumpulan Surah

Walaupun telah terjadi pergantian zaman, interaksi umat Islam terhadap Al-Qur’an dari awal diturunkanya hingga saat ini tidak pernah putus. Berbagai pola interaksi telah dilakukan oleh umat Islam terhadap Al-Qur’an, mulai dari membaca, menghafal, hingga mengkaji dan mentadabburi kitab yang tersusun dari 114 surah tersebut. Namun sudahkah kita tahu, sebenarnya mengapa Al-Qur’an disusun dalam bentuk kumpulan surah? Apakah terdapat hikmah tertentu dari penyusunan surah tersebut?

Sebelum menguraikan hikmah penyusunan surah dalam Al-Qur’an, terlebih dahulu penulis sampaikan terkait definisi surah. Dalam aspek linguistik, para ulama menjelaskan bahwa term surah berasal dari kata al-su’r (السؤر) yang bermakna sesuatu yang tersisa dari bekas minuman yang terdapat dalam sebuah wadah/bejana.

Artinya, bekas air tersebut merupakan bagian dari minuman tersebut. Begitu juga dengan sebuah surah, ia merupakan salah satu bagian (qith’ah) dari Al-Qur’an. Berdasarkan pemahaman tersebut maka para ulama mendefinisikan surah sebagai kumpulan bagian ayat-ayat Al-Qur’an yang memiliki permulaan dan akhiran.

Kemudian, dalam tataran kajian historis, Musa Syahin Lasyin menjelaskan dalam karyanya al-Laali’ al-Hisan fi ‘Ulum al-Qur’an, bahwasanya para ulama berbeda pendapat terkait masalah apakah kitab-kitab samawi terdahulu (Taurat, Zabur, dan Injil) juga disusun dalam bentuk kumpulan surah atau tidak.

Menurut al-Zarkasyi, penggunaan susunan surah hanya khusus untuk Al-Qur’an tidak bagi kitab-kitab samawi sebelumnya. Pendapat tersebut dibangun atas dasar dua argumen, yaitu: (1) kitab-kitab samawi terdahulu tidak memiliki kandungan mukjizat dalam sisi tekstualitas kalimat dan urutanya; (2) kitab-kitab samawi tersebut tidak dimudahkan untuk dihafal.

Baca Juga: Penamaan Surat dalam Al-Quran: Antara Tauqifi dan Ijtihadi

Berbeda dengan pendapat al-Zarkasyi, pengarang kitab Tafsir al-Kasysyaf yaitu al-Zamakhsyari mengatakan bahwa kitab-kitab samawi terdahulu juga diturunkan dengan susunan kumpulan surah sebagaimana dalam Al-Qur’an. Pendapat yang demikian juga diamini oleh Jalaluddin al-Suyuthi dalam karyanya al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an dengan menggunakan basis argumen sebuah riwayat dari Qatadah berikut:

فَقَدْ أَخْرَجَ اِبْنُ أَبِيْ حَاتِمِ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ: كُنَّا نَتَحَدَّثُ أَنَّ الزَّبُوْرَ مِائَةٌ وَخَمْسُوْنَ سُوْرَةً، كُلُّهَا مَوَاعِظُ وَثَنَاءٌ، لَيْسَ فِيْهِ حَلَالٌ وَلَا حَرَامٌ، وَلَا فَرَائِضُ وَلَا حُدُوْدٌ وَذَكَرُوْا أَنَّ فِي الْإِنْجِيْلِ سُوْرَةً تُسَمَّى سُوْرَةُ الْأَمْثَالِ.

“Ibnu Abi Hatim telah mengeluarkan sebuah riwayat dari Qatadah, ia berkata: sesungguhnya kami bercerita bahwasanya kitab Zabur memiliki 150 surah. Setiap surah-surah tersebut berisi kumpulan nasihat, dan pujian. Tidak disebutkan di dalamnya perihal halal-haram, kewajiban, dan batasan hukum. Dan disebutkan juga bahwa kitab Injil memiliki satu surah yang disebut dengan nama surah al-Amtsal”

Hikmah Penyusunan Al-Quran dalam Bentuk Kumpulan Surah

Berikutnya, menuju inti pembahasan. Dawud al-Attar dalam karyanya yang berjudul Mujaz ‘Ulum al-Qur’an, menyampaikan bahwa terdapat beberapa kandungan hikmah mengapa Al-Qur’an disusun dan dibagi dalam beberapa surah, diantaranya adalah:

  1. Sebagai Bentuk Mukjizat (al-Ta’jiz)

Telah jamak diketahui bahwa Al-Qur’an beberapa kali menantang para kaum kafir yang mengingkari kebenaran Al-Qur’an dengan menyuruh mereka untuk membuat semisal Al-Qur’an. Tantangan tersebut disampaikan oleh Allah dengan 3 bentuk, yaitu: pertama, tantangan untuk menyusun semisal Al-Qur’an secara keseluruhan (QS. ath-Thur [52]: 34); kedua, tantangan membuat 10 surah (QS. Hud [11]: 13); dan ketiga, tantangan untuk mengarang satu surah saja (QS. Yunus [10]: 38 & QS. al-Baqarah [2]: 23). Namun, semua tantangan tersebut tidak ada satupun yang mampu disanggupi oleh kaum kafir Quraisy.

Berdasarkan hal tersebut, maka salah satu hikmah disusunya Al-Qur’an dalam beberapa surah adalah untuk semakin menguatkan bahwa Al-Qur’an merupakan sebuah kalam ilahi yang mengandung mukjizat yang mampu melemahkan setiap penentangnya. Hal ini dikarenakan menyusun sebagianya saja tidak bisa, bagaimana mungkin mereka mampu menandingi Al-Qur’an secara keseluruhan.

Selain itu, penyusunan Al-Qur’an dalam bentuk kumpulan surah juga berfungsi untuk menegaskan bahwa keberadaan kandungan mukjizat tidaklah disyaratkan hanya bagi surah-surah yang panjang semata semisal QS. al-Baqarah (286 ayat), namun juga bagi surah-surah yang pendek semisal QS. al-Kautsar (3 ayat), QS. al-’Ashr (3 ayat), dan QS. an-Nashr (3 ayat). Oleh karena itu, seluruh surah Al-Qur’an merupakan mukjizat baik yang kuantitas ayatnya banyak maupun yang sedikit.

Baca Juga: Inilah Ragam Pendapat Ulama tentang Nidzam Al-Quran

  1. Memberikan Kemudahan (al-Taisir)

Sesungguhnya seseorang yang telah menghafal atau mempelajari sebuah surah Al-Qur’an secara sempurna, maka biasanya ia akan memiliki rasa semangat yang tinggi untuk menghafal dan mempelajari surah-surah Al-Qur’an yang lain.

Oleh karena itu, disusunya Al-Qur’an dalam bentuk kumpulan surah memiliki hikmah untuk memudahkan umat Islam dalam menghafalkan maupun mempelajari kalam-Nya. Hal ini dikarenakan dengan susunan tersebut, maka umat Islam dapat dengan mudah untuk memulai menghafal/mengkaji secara gradual dari surah Al-Qur’an terpendek hingga terpanjang.

  1. Menumbuhkan Rasa Semangat Dalam Membaca Al-Qur’an (al-Tasywiq)

Dawud al-Attar menyampaikan bahwa apabila terdapat seseorang yang telah membaca/menghafal sebuah surah dalam Al-Qur’an, maka ia akan merasa timbul rasa kebahagiaan dan kebanggaan karena telah menyelesaikan sebuah surah dalam Al-Qur’an. Sehingga dengan hal tersebut akan menjadikan setiap pembaca Al-Qur’an memiliki jiwa semangat yang tinggi untuk terus membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang terkumpul dalam surah-surah yang lain.

Selain itu, para pembaca/penghafal surah Al-Qur’an akan sangat disegani oleh umat Islam, sebagaimana bentuk penghormatan para sahabat Nabi bagi para pembaca Al-Qur’an dalam kutipan riwayat dari Anas berikut:

كَانَ الرَّجُلُ إِذَا قَرَأَ البَقَرَةَ وَآلِ عِمْرَانَ جَلَّ فِيْنَا

“Apabila seseorang telah membaca surah al-Baqarah dan Ali Imran maka ia dipandang mulia di kalangan kami”

Baca Juga: Uniknya Kosa Kata Al-Quran, Antara Jumlah Bilangan Kata dengan Akibatnya

  1. Mengklasifikasikan dalam Beberapa Sub Bab Pembahasan (al-Tabwib)

Dalam Al-Qur’an, terdapat banyak sekali ragam pembahasan yang disampaikan, mulai dari kisah-kisah Nabi dan umat terdahulu, hukum-hukum syari’at, hal-hal ghaib/ekskatologis (surga, neraka, dll) dan lain sebagainya. Karena pembahasan tersebut sangat kompleks, maka salah satu hikmah pembagian Al-Qur’an dalam kumpulan surah adalah untuk membuat sistemisasi tema-tema pembahasan Al-Qur’an tersebut ke dalam surah-surah tertentu.

Misalnya surah Yusuf, walaupun surah tersebut terdiri dari 100 ayat lebih, namun dalam surah tersebut tidak disebutkan hal-hal berkaitan dengan surga dan neraka. Akan tetapi berfokus pada penjabaran tentang sejarah kehidupan Nabi Yusuf. Begitu juga dengan surah Ibrahim yang menyampaikan tentang kisah hidup Nabi Ibrahim. Serta, surah al-Taubah yang menyajikan pembahasan tentang ciri-ciri orang munafik dan masih banyak surah-surah lainya.

Dengan demikian, dapat diketahui bahwa penyusunan Al-Qur’an dalam kumpulan surah bukanlah penyusunan biasa, namun terkandung di dalamnya ragam kandungan hikmah. Pengetahuan akan hikmah tersebut penting untuk kita ketahui guna menjadikan kita semakin semangat dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Semoga bermanfaat. Wallahu A’lam

Moch Rafly Try Ramadhani
Mahasiswa Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Ampel Surabaya
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Kitab Tafsir yang Tak Terselesaikan oleh Penulisnya

0
Melimpahnya literatur tafsir di abad ini tak lepas dari keseriusan para mufasir terdahulu dalam menyusun karya tafsir. Mereka rela mengorbankan...