Beranda Ulumul Quran Inilah Karakteristik dan Keunikan Tulisan Mushaf Al-Quran

Inilah Karakteristik dan Keunikan Tulisan Mushaf Al-Quran

Jika kita mengamati tulisan arab di dalam mushaf Al-Quran dengan tulisan di dalam teks kitab, maka kita akan menjumpai perbedaan. Misalnya lafadz صلاة di dalam teks buku-buku berbahasa arab, lafadz tersebut ditulis dengan huruf shad – lam alif – ta’ marbuthoh, namun jika kita amati di dalam mushaf Al-Quran lafadz tersebut ditulis dengan huruf shad – lam -wawu- ta’ marbuthoh, sehingga ditulis semacam ini :  صلوة . Mengapa demikian? Karena tulisan mushaf Al-Quran mempunyai karakteristik sendiri. Lantas semacam apa karakteristiknya?

Tulisan mushaf Al-Quran memang mempunyai keunikan, tidak sama persis dengan tulisan arab biasa, yang dalam terminologi ulumul qur’an disebut rasm utsmaniy. Dinisbatkan kepada sahabat Ustman bin Affan Ra (579-656 M), karena beliau sebagai pelopor penulisan sekaligus pengumpulan tulisan mushaf pada masa itu.

Pada sisi apa saja sebenarnya keunikan dan karakteristik penulisan mushaf? Para ulama mengelompokkan penulisan tersebut menjadi lima kaidah, yaitu hadzf (penghapusan huruf), ziyadah (penambahan huruf), hamzah (penulisan hamzah), badal (penggantian huruf), fashl wa washl (pemisahan dan penyambungan huruf).

Baca juga: Mengetahui Spesifikasi Tiga Mushaf Al Quran Standar Indonesia

Agar lebih jelas, mari kita lihat contoh dari masing-masing lima kaidah tersebut :

Pertama, hadzf (penghapusan huruf). Contohnya : huruf alif dihapus dari ya’ lafadz: يَا أَيُّهَا النَّاسُ , kemudian ditulis menjadi يَأَيُّهَا النَّاسُ , tanpa alif yang disambung dengan ya’. Contoh lain, alif dihapus dari ha’ lafadz هَا أَنْتُمْ , kemudian ditulis menjadi هَأَنْتُمْ.  Ya’ dari nun lafadz فَاعْبُدُونِي , kemudian ditulis menjadi فَاعْبُدُونِ.

Kedua, ziyadah (penambahan huruf). Contohnya : alif yang ditambahkan setelah lafadz الظنون  pada ayat :  وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا , alif yang ditambahkan setelah lafadz الرسول pada ayat : وَأَطَعْنَا الرَّسُولا , alif yang ditambahkan pada setelah lafadz السبيل pada ayat  : فَأَضَلُّونَا السَّبِيلا .

Ketiga, penulisan hamzah, contohnya : jika hamzah disukun maka ditulis menyesuaikan dengan harokat huruf sebelumnya, jika sebelumnya berharokat kasroh maka ditulis dengan ya’, misal : ائْذَنْ , jika sebelumnya berharokat fathah maka ditulis dengan alif, misal : الْبَأْسَاءِ , dan jika sebelumnya berharokat dhomah maka ditulis dengan wawu, misalnya : اؤْتُمِنَ .

Keempat, badal (penggantian huruf), contohnya : alif yang berada di tengah diganti menjadi wawu pada lafadz الصلاة , الزكاة , الحياة, menjadi : الصلوة , الزكوة , الحيوة .

Kelima, fashl wa washl (pemisahan dan penyambungan huruf), contohnya lafadz  مِنْ jika bertemu مَا  maka akan ditulis tersambung menjadi مِمَّا kecuali pada ayat : مِنْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ (   yang terdapat pada surat an-nisa dan surat ar-rum), dan ayat : مِنْ مَا رَزَقْنَاكُمْ (surat al-munafiqun). (Syekh Az-Zarqoniy, Manahil al-‘Irfan, [Maktabah Syamilah] juz 1, hal. 371-372)

Baca juga: Jenis-Jenis Teks Al-Quran yang Belum Banyak Diketahui

Contoh yang kami sebutkan di atas hanya bagian kecil dari karakteristik keseluruhan rasm utsmaniy. Dari semua karakteristik penulisan mushaf Al-Quran tadi, apakah ketika kita akan menulis Al-Quran di buku, maupun dalam seni kaligrafi harus sesuai dengan rasm utsmaniy? Menurut mayoritas ulama, harus sesuai dengan rasm ustmaniy, dengan alasan rasm ustmaniy sudah menjadi ijma’ (kesepakatan) para sahabat waktu itu, kemudian diikuti oleh tabi’in, dan tabi’i tabi’in. Bahkan Imam Ahmad (780-855 M.) berstatement dengan tegas:

 “تحرم مخالفة خط مصحف عثمان في واو أو ياء أو ألف أو غير ذلك”

Artinya : “Haram menulis mushaf tidak sesuai dengan rasm utsmaniy pada penulisan wawu, ya’, alif, dan lain sebagainya.” (Syekh Manna’ Qothon, Mabahits fi Ulumil Qur’an, [Maktabah Syamilah], halaman 148). Wallahu A’lam.

Amin Maruf
Pengajar di Pondok Pesantren Al-Iman Bulus Purworejo, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Sains Al-Quran Wonosobo
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Menyegerakan haji saat sudah mampu

Hukum Menerima Hadiah Naik Haji Gratis 

0
Salah satu media online memberitakan, Seorang jemaah Masjid Istiqlal, Jakarta, mendapatkan hadiah naik haji gratis dari Menteri Urusan Islam, Dakwah, dan Penyuluhan Arab Saudi....