BerandaUlumul QuranIsytiqaq Saghir: Cara Kerja dan Perannya dalam Melacak Makna Bahasa

Isytiqaq Saghir: Cara Kerja dan Perannya dalam Melacak Makna Bahasa

Berdasarkan literatur-literatur yang berkontribusi dalam pengembangan Isytiqaq, disebutkan ada empat jenis Isytiqāq tergantung pada varian polanya: isytiqaq Saghir, isytiqāq kabīr, isytiqāq akbar, dan isytiqāq kubbār. Artikel ini akan menjelaskan varian pola yang pertama, Isytiqaq Saghir, yang sudah umum digunakan oleh para ahli bahasa, di anatarnya ialah dalam ilmu Sharaf.

Ilmu Isytiqaq Saghir  dan Ilmu Sharaf

Konsep jenis isytiqaq ini adalah satu: susunan kombinasi dan huruf-huruf triliteralnya tetap. Jenis isytiqâq ini digunakan oleh pakar sharaf untuk setiap aktifitas kebahasaan yang dapat melahirkan lafadz dengan lafadz dengan catatan harus ada kesesuaian antara lafadz dan makna.

Cara kerja ilmu sharaf memang sama dengan isytiqāq jenis ini, yakni ia harus mengetahui strutur huruf asal dan juga polanya, termasuk huruf tambahan, sebagaimana dalam kitab Al-Munṣif karya Ibn Utsmān al-Māzinī. Karenanya, isytiqâq ini disebut juga dengan Isytiqâq al-Sarfî.

Baca juga: Peran Ilmu Isytiqaq dalam Kajian Al-Qur’an

Ruang lingkup Isytiqâq Saghîr umumnya mencakup bentuk al-Tasrîf al-Istilâhî. Contoh dapat dilihat sebagaimana berikut:

Disebut Menjadi Proses Morfemis Morfem Tetap (Kata Dasar)

إسم الفاعل

فاعل

ف + ا + ع + ل

ف-ع-ل

إسم المفعول

مفعول

م + ف + ع + و + ل

ف-ع-ل

فعل الأمر

أفعل

أ + ف + ع + ل

ف-ع-ل

المزيد الثلاثي بحرف

أفعل

أ + ف + ع + ل

ف-ع-ل

المزيد الثلاثي بحرف

فعّل

ف + ع + ع + ل

ف-ع-ل

المزيد الثلاثي بحرفين

إنفعل

إ + ن + ف + ع + ل

ف-ع-ل

المزيد الثلاثي بحرفين

إفتعل

إ +  ف + ت + ع + ل

ف-ع-ل

Baca juga: Mengenal Konsep “Akar-Pola” Ilmu Istiqaq dalam Memahami Makna Bahasa Al-Qur’an

Sembilan pola Isytiqāq Saghir

Mengutip pendapat Abȗ Hayyân, Jalāluddin al-Suyūṭī dalam kitab Ham’u al-Hawāmi’ fī Syarḥ Jam’I al-Jawāmi’ menjabarkan bahwa dalam isytiqâq sughrâ ini setidaknya ada sembilan macam perubahan, yaitu: a). Menambahkan harakat, seperti darbun menjadi daraba, b). Menambahkan huruf, seperti talaba menjadi tâlaba, c). Menambahkan harakat dan huruf, seperti darbun  menjadi dâribun, d). Mengurangi harakat, seperti al-farasa menjadi al-farsu, e). Mengurangi huruf, seperti al-nabâtu menjadi nabata, f). Mengurangi harakat dan huruf, seperti al-nazwân menjadi nazâ, g). Mengurangi harakat sekaligus menambahkan huruf, seperti ghadbun menjadi ghad, h). Mengurangi huruf sekaligus menambahkan harakat, seperti haramâni menjadi haramun, i). Menambahkan sekaligus mengurangi harakat dan huruf, seperti al-nâqah menjadi al-istinwâqah.

Pembentukan makna: Isytiqaq Saghir  Lafdzi dan Dalali

Menurut Muḥammad Ḥasan Ḥasan Jabal karyanya, ‘Ilm al-Isytiqāq Naẓariyyan wa Taṭbiqiyyan, pembahasan mengenai isytiqâq sughrâ atau saghîr secara garis besar dibagi ke dalam dua macam: lafzî dan dalâlî. Adapun  isytiqâq saghîr lafzî ialah pecahan yang menghasilkan perubahan pada lafadznya saja dengan tetap mengarah pada makna harfiyyahnya, contohnya seperti kata kataba (telah menulis) berubah menjadi kâtib (penulis), di mana makna dasarnya sama, yakni “menulis”.

Sedangkan isytiqâq saghîr dalâlî menghasilkan perubahan pada lafadz dan makna yang berbeda dengan sebelumnya, dalam arti lain, ia menciptakan kosa kata baru. Seperti kalimat ابتسر الرجل حاجته (ibtasara al-rajul hâjatihi) yang bermakna “pria itu melaksanakan hajatnya sebelum pada waktunya”. Kata ibtasara membentuk kata lain, misalnya البسر (al-busr) yang makna harfiyyahnya ialah kurma yang belum matang. Contoh lainnya ialah الأرض الزهاد (al-ard al-zahâd) yang bermakna tanah yang keras (batu; الصلب, al-sulb) yang tidak berlubang, yang jika dituangkan air maka air tersebut tidak merembes ke dalamnya, namun hanya mengalir. Karenanya, muncul kata zuhud (الزهد) yang  bermakna “seseorang yang tidak tertarik dengan dunia”.

Baca juga: Makna Kata Hidayah dalam Al-Quran dan Macamnya Menurut Al-Maraghi

Raghib Al-Aṣfahānī dan praktek isytiqāq terhadap Al-Qur`an

Raghib Al-Aṣfahānī, dalam karyanya, Tafsir al-Râghib al-Asfahânî, sering melakukan praktek analisis Isytiqaq dalam memahami bahasa al-Qur`an. Contoh analisis isytiqâq yang digunakan oleh al-Râghib al-Asfahânî dalam tafsirnya ialah dalam menjelaskan kata لَدُنْ (ladun) dalam QS. Ali ‘Imrân [3]: 8 dengan  memunculkan berbagai pecahan pengucapan fonemnya.

“ولَدُنْ: فِيْهِ لُغَاتٌ, قِيْلَ: لَدُنْ ولُدُنْ بِضَمَّتَيْنِ, ولَدَنْ بِفَتْحَتَيْنِ, وَلَدْن بِالسُّكُوْنِ مَعَ فَتْحِ اللّاَمِ وَضَمَّهُ, قِيْلَ: بِكَسْرِ النُّوْنِ, وَلَدُنِ”

Begitu pula dalam menafsirkan QS. An-Nisâ’ [4]: 10, Al-Asfahânî memunculkan beberapa pecahan dari kata يصلون (yaslawna) dan kata سعير (sa’îr).

“الصَّلاَ: النَارُ, وَصَلِيَ فُلَانٌ بِهَا وَصَلَيْتُهُ: أَدْنَيْتُهُ مِنْهَا, وَصَلَيْتُ اللَّحْمَ: شَوَيْتُهُ, فَقَوْلُهُ: ‘وَسَيَصْلَوْنَ’ مِنْ صَلِيَ, ويُصْلَوْنَ مِنْ أَصْلَيْتُ, نَحْوُ: ‘فَسَوْفَ نُصْلِيْهِ نَارًا’. وَالسَّعِيْرُ: الْمَسْعُوْرُ, وَاسْتَعَرَتِ النَارُ وَالحَرْبُ تَشْبِيْهًا بِذلِكَ”

Dalam penelitian yang pernah dilakukan oleh penulis, ada satu potret kasus dari Al-Aṣfahānī, yakni dalam karya kamusnya, Mufradāt fī Gharīb al-Qur`an, ia menjelaskan kata salâh (صلاة) yang sudah menjadi wacana yang familiar sebagai bentuk negasi (al-salb) dari ṣalā (صلا; terbakar), dimana derivasinya masih sangat asing. Sehingga wacana tentang shalat kembali memiliki ruang kosong untuk didiskusikan penulis pada tahun 2019. Wallahu a’lam.

Salman Al Farisi
Salman Al Farisi
Mahasiswa pasca (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Aktif kajian Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Menyikapi Keburukan Orang Lain Tidak Harus dengan Memaafkan 

Menyikapi Keburukan Orang Lain Tidak Harus dengan Memaafkan 

0
Alquran memberikan petunjuk dan panduan bagi seseorang dalam menyikapi keburukan atau kejahatan orang lain. Solusi yang ditawarkan Alquran bersifat kondisional dan bijak, tidak serta...