Beranda Tafsir Tematik Jawaban Jin Ketika Mendengar Kalimat ‘Fabiayyi Alaa-i Robbikuma Tukadzdziban’ dalam Surah Ar-Rahman

Jawaban Jin Ketika Mendengar Kalimat ‘Fabiayyi Alaa-i Robbikuma Tukadzdziban’ dalam Surah Ar-Rahman

Dalam surah Ar-Rahman setelah menyebutkan satu persatu nikmat dan anugerah yang telah diberikan kepada jin dan manusia, Allah bertanya (istifham taqriri) dengan kalimat Fabiayyi Alaa-i Robbikuma Tukadzdziban yang ada pada surah ar-Rahman :

فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Ayat satu ini terbilang unik. Bagaimana tidak, ayat ini diulang sampai 31 kali dalam satu surat dengan redaksi yang sama persis. Ini juga menunjukkan salah satu kemukjizatan Al-Qur’an. Satu kalimat diulang-ulang, tanpa terasa membosankan saat membaca atau mendengarnya. Beda dengan selain Al-Qur’an, bayangkan ada orang yang berbicara kepada anda dengan perkatan yang sama persis dan diulangi 31 kali. Kira-kira apa yang anda rasakan?

Baca juga: Al-Qur’an dan Realitas Sosial: Membincang Makna Adil dalam Islam

Sehingga terbukti gubahan syair yang dinisbatkan kepada Ibn ‘Iraq Ad-Dimasyqi sebagaimana dalam Syadzarotudz Dzahab Fi Akhbari Man Dzahab (X/277) berikut ini:

كَلَامٌ قَدِيْمٌ لَّا يُمَلُّ سَمَاعُهُ # تَنَزَّهَ عَنْ قَوْلٍ وَفِعْلٍ وَنِيَّةِ

Al-Qur’an adalah kalamullah yang qadim yang tidak ada kebosanan untuk didengarkan, yang disucikan dari ucapan, perbuatan dan kehendak

Pengulang ini bertujuan untuk memperkuat dan memperingatkan nikmat-nikmat-Nya, karena ada sebagian makhluk, baik dari bangsa jin maupun manusia yang mendustakan dengan menyembah selain Allah. Adanya mereka mempersekutukan Allah itu bukti pendustaan mereka terhadap Tuhan mereka, karena orang yang bersyukur tentu akan menyembah yang memberikan nikmat-nikmat tersebut.

Jawaban Jin Ketika Merespon Pertanyaan Allah Swt

Saat Nabi Muhammad SAW membacakan surat Ar-Rahman kepada para sahabat, mereka terdiam, tidak ada respon jawaban, Oleh karena itu, Nabi menyindir mereka dengan membandingkan respon jawaban bangsa jin ketika dibacakan surat ini, khususnya melewati ayat di atas. Bagaimana respon jawabannya?

Dalam Tafsir Jalalain disebutkan sebuah riwayat dari sahabat Jabir RA, sebagai berikut:

قَالَ قَرَأَ عَلَيْنَا رَسُوْلُ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُورَةَ الرَّحْمَنِ حَتَّى خَتَمَهَا ثُمَّ قَالَ مَالِيْ أَرَاكُمْ سُكُوْتًا لَلْجِنُّ كَانُوْا أَحْسَنَ مِنْكُمْ رَدًّا مَا قَرَأْتُ عَلَيْهِمْ هَذِهِ الْآيَةَ مِنْ مَرَّة فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ إِلَّا قَالُوْا وَلَا بِشَيْءٍ مِنْ نِعَمِكَ رَبَّنَا نُكَذِّبُ فَلَكَ الْحَمْدُ

Rasulullah SAW membacakan kepada kita surat Ar-Rahman sampai selesai. Kemudian beliau berkata: Mengapa kalian saya lihat kok diam saja? Sungguh Bangsa Jin respon jawabannya lebih baik dari pada kalian. Saya tidak membacakan kepada mereka ayat ini dari mulai “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” kecuali mereka menjawabnya: Tak ada satupun dari nikmat-nikmat-Mu yang kami dustakan Wahai Tuhan kami, Segala Pujian hanya milik-Mu.

Baca juga: Salat dan Amar Makruf Nahi Mungkar, Adakah Kaitannya? Simak Tafsirnya

Selain itu, dalam Tafsir Ad-Durul Mantsur (VII/690), Imam Suyuthi mengutip riwayat dari Ibnu Umar RA, sebagai berikut:

أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ سُوْرَةَ الرَّحْمنِ عَلَى أَصْحَابِهِ فَسَكَتُوْا فَقَالَ: مَا لِيْ أَسْمَعُ الْجِنَّ أَحْسَن جَوَابًا لِرَبِّهَا مِنْكُمْ مَا أَتَيْتُ عَلَى قَوْلِ اللهِ فَبِاَيِّ اٰلَاۤءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبٰنِ إِلَّا قَالُوْا: لَا شَيْءَ مِنْ آلَائِكَ رَبَّنَا نُكَذِّبُ فَلَكَ الْحَمْدُ

Sungguh Rasulullah SAW telah membacakan surat Ar-Rahman kepada para sahabatnya, mereka terdiam. Kemudian beliau berkata: “Mengapa aku mendengar jin lebih baik dari pada kalian dalam hal jawabannya kepada Tuhannya?” Tidak aku baca firman ِ Allah, Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” kecuali mereka menjawabnya: Tak ada satupun dari nikmat-nikmat-Mu yang kami dustakan Wahai Tuhan kami, Segala Pujian hanya milik-Mu.

Dua riwayat di atas inti jawaban dari bangsa jin sama, hanya saja yang pertama menggunakan redaksi النِّعَم bentuk jamak dari kata النِّعْمَة, sedangkan yang kedua dengan redaksi آلَاء jamak dari اْلإِلَى dan  اْلإِلْيُyang artinya sama, yaitu kenikmatan.

Baca juga: Tafsir Surat Ibrahim Ayat 7: Cara Menghilangkan Sikap Insecure

Respon jawaban semacam ini tentu sangat penting. Kenapa? Karena, bayangkan saja saat anda mengajak berbicara orang lain. Kemudian yang diajak bicara tersebut datar-datar saja, tanpa berkata apapun, kira-kira apa yang anda rasakan? Nah, di ayat ini Allah SWT sedang mengajak kita berbicara, tentu selayaknya kita harus merespon dengan menjawab pertanyaannya, tidak malah terdiam seribu kata.

Oleh karena itu, belajar dari respon jawaban jin yang telah ditetapkan Rasulullah SAW sebagaimana di atas, Syekh Nawawi Al-Bantani dalam tafsirnya Marah Labid (II/476) menyebutkan, disunnahkan bagi orang yang mendengar ayat ini menjawab dengan mengatakan:

وَلَا بِشَيْءٍ مِنْ نِعَمِكَ رَبَّنَا نُكَذِّبُ فَلَكَ الْحَمْدُ

Dengan demikian, maksud utama Al-Qur’an berupa mentadabburi dan memahami isinya dapat tercapai. Karena, dia merasa sedang diajak bicara oleh Tuhannya, sehingga dia menjawab apa yang ditanyakan oleh-Nya. Apalagi kontek ayat ini sedang menanyakan dalam rangka menetapkan dan mengingatkan nikmat-nikmat yang telah diberikan oleh-Nya, tentu yang paling tepat adalah menjawabnya sebagai bentuk pengakuan. Semoga Allah memaafkan dan memaklumi sikap kita yang saat ditanya malah diam saja. Amin…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Muhammad Hisyam Wahid
Mahasiswa IAT IAIN Pekalongan dan Mutakhorrijin PP. Nurul Huda, peminat kajian Ilmu Al-Quran dan Tafsir
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

tentang fitnah

Penjelasan tentang Fitnah Lebih Kejam daripada Pembunuhan

0
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata fitnah diartikan sebagai perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama...