Beranda Tafsir Tematik Tafsir Surat Ibrahim Ayat 7: Cara Menghilangkan Sikap Insecure

Tafsir Surat Ibrahim Ayat 7: Cara Menghilangkan Sikap Insecure

Fenomena sikap insecure sering terjadi pada kebanyakan generasi muda. Ada banyak hal yang membuat insecure, mulai dari tampilan fisik, kekayaan, dan berbagai hal lain yang membuat tidak percaya diri. Insecure ini kemudian berdampak pada rasa minder yang juga membuat seseorang tidak berkembang.

Dilansir dari suara.com insecure dapat dikatakan sebagai suatu kondisi psikis dimana seseorang merasa tidak aman, menganggap dunia sebagai hutan yang mengancam dan kebanyakan manusia berbahaya dan egois. Seseorang yang mengalami insecure biasanya merasa ditolak, terisolasi, cemas, tidak bahagia, tidak percaya diri. Mereka akan berusaha untuk kembali ke kondisi yang secure (aman).

Keadaan diperparah ketika bibit-bibit insecure mulai menjamur di media sosial. Misalnya saja ketika ada postingan yang menampilkan kecantikan, kemewahan, dan hal-hal mentereng lainya terkadang akan memancing komentar-komentar insecure para netizen yang melihat. Hal ini tentu berdampak pada semakin kuatnya wabah insecure ini terus dipertahankan.

Baca juga: Nabi Muhammad Saw Gemar Berkurban Setiap Tahun

Kemudian pada kompas.com, rasa insecure yang berlebihan terjadi di media sosial ini disebabkan oleh social comparison. Maksudnya adalah seseorang membandingkan keadaan dirinya dengan orang lain yang berada di atasnya baik dari segi fisik, finansial, dan sebagainya.

Rasa insecure yang berlebihan ini sejatinya tidaklah dibenarkan. Sebab dapat memengaruhi kesehatan mental dengan tidak merasa cukup atas apa yang diterima dalam hidup. Selain itu, sikap yang insecure juga menggambarkan tingkat bersyukur yang rendah. Padahal dalam ajaran agama, setiap orang dituntut untuk bersyukur atas segala nikmat yang telah didapat.

Oleh karena itu,untuk mengatasi sikap insecure, maka ditekankan untuk menumbuhkan sikap syakir (pandai bersyukur). Karena sesungguhnya sikap syakir ini tertuang di dalam al-Qur’an pada surah Ibrahim ayat 7:

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ

Terjemah: “7. Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)

Tafsir surah Ibrahim Ayat 7

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Allah SWT berfirman, “Ingatlah tatkala Allah mengumumkan janji-Nya bahwa bila kamu mensyukuri nikmat-Ku, pasti Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-nikmat-Ku itu serta menyembunyikannya, maka sesungguhnya siksa-Ku amatlah pedih” yang termasuk di dalam siksa-Nya yaitu pencabutan segala karunia daripada orang-orang yang kufur sebagai hukuman atas kekufuran yang telah mereka lakukan.

Baca juga: Mengenal Terjemahan Tematik Berbasis Kata Kunci dalam “Kamus Pintar Al-Qur’an” Karya Muhammad Chirzin

Quraish Shihab dalam kitab tafsirnya juga menjelaskan ayat ini secara tegas menyatakan bahwa jika bersyukur maka pasti nikmat Allah akan ditambahnya, tetapi ketika berbicara tentang kufur nikmat, tidak ada penegasan bahwa pasti siksa-Nya akan jatuh. Ayat ini hanya menegaskan bahwa siksa Allah pedih.

Jika demikian, penggalan akhir ayat ini dapat dipahami sekedar sebagai ancaman. Disisi lain, tidak menutup kemungkinan keterhindaran dari siksa duniawi bagi yang kufur terhadap nikmat Allah, atau melalui bertambahnya nikmat dengan mengulur kedurhakaan kepada-Nya.

Kemudian Hamka pada kitab Tafsir Al-Azhar menambahkan ayat tersebut tentang peringatan Allah kepada Bani Israil setelah mereka dibebaskan dari penindasan Fir’aun. Kebebasan itu merupakan perkara besar dan wajib disyukuri. Dalam bersyukur hendaklah terus berusaha guna mengatasi kesulitan. Demikian Allah menggambarkan keuntungan jika bersyukur dan kerugian jika berbuat kufur.

Dalam ayat selanjutnya, Allah Swt berfirman:

وَقَالَ مُوسَىٰٓ إِن تَكۡفُرُوٓاْ أَنتُمۡ وَمَن فِي ٱلۡأَرۡضِ جَمِيعٗا فَإِنَّ ٱللَّهَ لَغَنِيٌّ حَمِيدٌ

Artinya: “8. Dan Musa berkata: “Jika kamu dan orang-orang yang ada di muka bumi semuanya mengingkari (nikmat Allah) Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (QS. Ibrahim [14]: 8)

Tafsir Surah Ibrahim Ayat 8

Hamka (pada kitab Tafsirnya menjelaskan bahwa timbulnya kufur, yaitu rasa tidak puas, rasa tidak mengenal terima kasih, dan menghitung sesuatu dari segi kekurangannya saja, adalah siksa bagi jiwa sendiri. Pelakunya akan memandang bahwa hidup ini suram dan tidak ada yang dapat dikerjakannya. Demikian Nabi Musa berpesan kepada seluruh manusia yang hidupnya serba tidak puas sesungguhnya tidaklah mengurangi kebesaran dan kekayaan Allah.

Shihab (2009): 332) juga menambahkan bahwa ayat tersebut mengisyaratkan tentang keharusan bersyukur dan menghindari diri dari kekufuran. Hal tersebut merupakan sebagian dari peringatan Nabi Musa, namun harus diingat bahwa pelaksanaan perintah itu sama sekali bukan untuk kepentingan Allah. Karena Allah tidak memerlukan siapapun untuk bersyukur kepada-Nya.

Baca juga: Surah Al Fatihah dan Ijazah Doa KH Achmad Asrori  Al-Ishaqi

Menjadi Syakir untuk Menghilangkan Insecure

Dapat dipahami bahwa perintah syukur ini begitu penting sehingga dalam al-Qur’an Allah memberi penghargaan dengan menambah kembali nikmat yang diberikan. Sementara jika kufur, maka timbal balik yang didapat adalah azab yang pedih.

Jika dihubungkan dengan fenomena insecure yang banyak terjadi pada generasi muda, maka anjuran menjadi syakir ini sangatlah penting. Sebab realita yang ada menunjukkan minimnya kesadaran yang tertanam dalam diri untuk tidak terus-terusan melihat ke atas, namun tidak pernah melihat ke bawah.

Para pelaku insecure hanya berfokus pada keindahan-keindahan yang dimiliki orang lain, tetapi tidak pernah menyadari anugerah Allah yang terdapat pada dirinya sendiri. Oleh sebab itu, untuk menekan fenomena ini, maka diperlukan penanaman sikap syukur melalui pembiasaan-pembiasaan sehari-hari.

Langkah yang bisa diambil misalnya dengan merubah mindset berpikir untuk tidak selalu membandingkan kemampuan diri dengan yang lebih tinggi, melainkan lebih bersyukur karena diberikan kesempatan yang lebih daripada orang lain yang kurang beruntung.

Menjadi generasi yang syakir bukan perkara mudah, melainkan memerlukan latihan yang kontinyu. Belajar menjadi sederhana dan berterima kasih atas segala yang diterima merupakan kunci utamanya. Ketika pribadi syakir dapat dijalankan, maka insecure pun juga dapat ditekan. Wallahu A’lam.

Saibatul Hamdi
Minat Kajian Studi Islam dan Pendidikan Islam
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Kitab Tafsir yang Tak Terselesaikan oleh Penulisnya

0
Melimpahnya literatur tafsir di abad ini tak lepas dari keseriusan para mufasir terdahulu dalam menyusun karya tafsir. Mereka rela mengorbankan...