Beranda Ulumul Quran Kata Ridha dan Penjelasannya dalam al-Qur’an

Kata Ridha dan Penjelasannya dalam al-Qur’an

Kata ridha ( رِضَا) merupakan salah satu kata yang sudah tidak asing bagi masyarakat secara umum. Kata tersebut juga berkaitan erat dengan tujuan berbagai ibadah. Misalnya seseorang melaksanakan shalat untuk menggapai ridha Ilahi atau sebuah harapan agar Allah Swt meridhai kegiatan mujahadah santri. Kemudian apa sebenarnya penjelasan mendalam terkait kata ridha (رِضَا)?

Berdasarkan Kamus al-Munawwir, kata ridha ( رِضَا) berasal dari kata radhiya-yardha-ridwanan (رَضِيَ-يَرْضَي-رِضْوانًا) yang berarti senang, suka, rela, menyetujui, puas. Kata tersebut juga telah diadopsi ke dalam bahasa Indonesia, sehingga terdapat beberapa kata ridha (رضا) dalam al-Qur’an yang tetap diartikan sebagai ridha.

Baca juga: Mengenal Tujuh Istilah Angin yang Disebutkan dalam Al-Quran

Kata Ridha dalam Al-Qur’an

Di dalam al-Qur’an, kata ridha (رضا) cukup banyak digunakan dengan berbagai bentuk derivasinya, yakni kurang lebih 73 kata. Adapun derivasi kata ridha (رضا) yang banyak digunakan adalah kata radhuu (رَضُوْا) yang terdapat pada Q.S al-Maidah ayat 119, Q.S at-Taubah ayat 58, 59, 87, 93 dan 100, Q.S Yunus ayat 7, Q.S al-Mujadalah ayat 22, Q.S al-Bayyinah ayat 8.

اِنَّ الَّذِيْنَ لَا يَرْجُوْنَ لِقَاۤءَنَا وَرَضُوْا بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَاطْمَـَٔنُّوْا بِهَا وَالَّذِيْنَ هُمْ عَنْ اٰيٰتِنَا غٰفِلُوْنَۙ – ٧

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan (kehidupan) itu, dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami,” (Q.S Yunus: 7)

Kalimat radhuu bi al-hayah al-dunya  (رَضُوْا بِالْحَيٰوةِ الدُّنْيَا) pada ayat di atas sebagaimana dijelaskan dalam Tafsir al-Mishbah yakni berupa sifat seseorang yang puas terhadap kehidupan duniawi, sehingga seluruh waktunya dihabiskan untuk memperolehnya. Dengan kepuasan tersebut, seseorang tidak lagi memikirkan kehidupan akhirat. Berbeda halnya dengan kaum mukmin yang menilai bahwa kehidupan duniawi bukanlah kehidupan yang sempurna.

Pada Tafsir al-Azhar, dijelaskan lebih detail lagi, bahwa seseorang yang puas terhadap kehidupan duniawi, berarti ia tidak percaya dengan adanya surga dan neraka. Ia hanya melihat sesuatu secara fisik saja bukan secara metafisik. Sehingga ia tidak merasa diawasi atau dikontrol dan bebas untuk melakukan apapun yang disenanginya juga menguntungkannya dan dapat juga melakukan hal yang merugikan orang lain.

جَزَاۤؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗرَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۗ ذٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهٗ ࣖ – ٨

Artinya: “Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ’Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (Q.S al-Bayyinah: 8)

Baca juga: Kitab Tanwirul Qari’ Karya Kyai Mundzir Nadzir: Menggali Wejangan Sang Kyai dan Warisan Budaya Metalurgi

Ayat di atas menyebutkan derivasi kata ridha (رضا) sebanyak 2 kali, yakni kata radhuu (رضوا) dan radhiya (رضي). Kata radhuu (رضوا) merupakan fi’il (kata kerja) yang di dalamnya juga tersimpan dhomir (kata ganti) berupa mereka yang merujuk kepada orang-orang yang beriman dan beramal shalih pada ayat sebelumnya. Kata radhuu (رضوا) berarti seorang hamba ridha terhadap Tuhannya. Para ulama memahami bahwa berarti hati seorang hamba tersebut tidak keruh atau tidak enak menerima ketetapan Allah Swt dalam bentuk apapun.

Kata radhiya (رضي) merupakan fi’il dan subjeknya disebutkan setelahnya yakni Allah, maka arti keduanya menjadi “Allah Swt ridha”. Kemudian dilanjutkan kata selanjutnya yang berarti bahwa Dia ridha terhadap hamba-Nya yang beriman dan beramal shalih. Ulama memahaminya dengan tercerminnya keadaan seorang hamba di tempat atau situasi yang dikehendaki oleh Allah Swt dan menerima amal baik yang dikerjakannya serta melimpahkan ganjaran yang dijanjikan-Nya.

قُلْ اِنْ كَانَ اٰبَاۤؤُكُمْ وَاَبْنَاۤؤُكُمْ وَاِخْوَانُكُمْ وَاَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَاَمْوَالُ ِۨاقْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَآ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَجِهَادٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَبَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَمْرِهٖۗ وَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ ࣖ – ٢٤

Artinya: “Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai dari pada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (Q.S at-Taubah: 24)

Kata tardhauna (ترضون) merupakan fi’il yang menyimpan dhamir berupa kalian. Kata tersebut menunjukkan makna “yang kalian sukai”, kata tersebut merujuk pada kata sebelumnya yakni tempat tinggal sehingga gabungan kata tersebut menjadi “tempat tinggal yang kalian sukai”.

Dalam kitab Mafatih al-Ghaib disebutkan bahwa ayat tersebut menjadi jawaban terhadap ayat sebelumnya. Yakni sekelompok mukmin yang tidak ingin melepaskan hubungan dengan kaum kafir karena mereka menyandarkan hidupnya pada kaum kafir. Hal tersebut dikhawatirkan akan goyahnya keimanan sekelompok mukmin.

Baca juga: Konsep Taaddud As-Sabab Wa An-Nazil Wahid di Dalam Ulumul Al-Quran (Bagian 2)

Dari penjelasan beberapa potongan ayat di atas dapat dipahami bahwa kata ridha (رضا) tidak hanya ditujukan kepada Tuhan saja tetapi kata tersebut juga dapat ditujukan kepada sesama manusia, bahkan juga terhadap sifat keduniawian meskipun dengan maksud dan tujuan yang berbeda-beda sesuai konteks suatu kalimat.

Sebagai seorang hamba hendaklah selalu berusaha agar Allah Swt ridha terhadap sikap maupun ucapan hamba-Nya, termasuk dalam hal berlapang dada menghadapi cobaan-cobaan dari-Nya. Juga hendaklah berusaha agar orang lain terutama orangtua ridha terhadap segala perbuatan juga ucapan anaknya, yakni tentunya dengan menghormati orangtua.

Di sisi lain, kata ridha yang berarti puas terhadap hal-hal keduniawian seharusnya dapat diambil pelajaran yakni dengan menjadikan seseorang lebih berhati-hati dengan hal-hal duniawi. Karena, dengan seseorang puas atau senang terhadap kehidupan duniawi akan menjadikannya lalai terhadap akhirat. Ia hanya fokus memenuhi kebutuhan dunia yang sejatinya adalah fana. Wallahhu a’lam.

Faridah
Mahasiswi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bisa disapa di @idahzara
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tipologi Penafsiran Menurut Johanna Pink

Tipologi Penafsiran Al-Quran Menurut Johanna Pink (Part I)

Penafsiran Al-Qur’an pasca era kanonisasi terus mengalami perkembangan. Perkembangan penafsiran ini kemudian menemukan momentum geliatnya di zaman klasik dan pertengahan, ditandai dengan begitu banyaknya...