BerandaTafsir TematikKeistimewaan Baitullah dalam Tafsir Surah Ali Imran Ayat 96-97

Keistimewaan Baitullah dalam Tafsir Surah Ali Imran Ayat 96-97

Dalam catatan ilmu pengetahuan, Ka’bah atau Baitullah merupakan satu dari tujuh keajaiban dunia. Sebagaimana situs keajaiban dunia lainnya seperti Piramida di Mesir, Candi Borobudur di Indonesia, Menara Pisa di Italia dan lain sebagainya, Ka’bah memiliki keistimewaan dan rahasia yang lambat laun mulai terungkap seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Ka’bah adalah bangunan persegi empat yang dalam catatan sejarah dibangun pertama kali oleh Nabi Ibrahim a.s. dan putranya Nabi Isma’il. Ia merupakan kiblat yang menjadi pusat peribadatan umat Islam dan menjadi arah salat seluruh muslim di berbagai belahan dunia.

Baca Juga: Beragam Pendapat Mufasir tentang Asal Usul Ka’bah

Sebagai tempat suci yang menjadi sentral peribadatan umat Islam, baitullah memiliki kelebihan dan keistimewaan yang mengandung aspek mukjizat.

Keistimewaan Baitullah, sebagiannya disebutkan dalam surah Ali Imran ayat 96-97.

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ (96) فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ  (97)

Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” Q.S. Ali Imran [03]: 96-97

Terdapat perbedaan di kalangan ulama terkait asal muasal Ka’bah. Namun yang jelas, ayat tersebut mengabarkan bahwa ia merupakan bangunan pertama yang dibangun untuk manusia sebagai tempat ibadah. Menurut Imam Ibnu Jarir at-Thabari, Ka’bah adalah bangunan pertama di dunia yang sempat hilang (dalam sebagian riwayat diterangkan diangkat ke langit ketika banjir Nuh), kemudian Nabi Ibrahim a.s. mendirikan kembali bangunan tersebut di tempat semula. (Tafsir at-Thabari, juz 3, hal. 64)

Dalam Tafsir Ta’wilat Ahl as-Sunnah, Imam al-Maturidi menjelaskan bahwa realita Ka’bah atau kota Makkah secara umum sudah cukup menjadi bukti bahwa ia bukan bangunan biasa. Dengan kondisi terletak di antara pegunungan dan tempat yang tandus, tidak ada pemandangan alam yang menawan sebagai tempat rekreasi, tetapi ia tetap didatangi oleh jutaan manusia dari seluruh penjuru dunia. Andai ini bukan sebuah keajaiban dari Allah, mana mungkin manusia mau berkunjung ke tempat tandus seperti itu? (Ta’wilat Ahl as-Sunnah, juz 2, hal. 429)

Baca Juga: Tafsir Surah Ali Imran Ayat 97: ‘Istito’ah’ Sebagai Syarat Wajib Haji

Syaikh Wahbah al-Zuhaili dalam kitab tafsirnya menyebutkan beberapa keistimewaan Baitullah yang Allah swt. anugerahkan. Di antaranya:

Pertama, Baitullah atau Makkah secara keseluruhan merupakan lokasi yang penuh berkah. Hal ini terlihat dari kondisi sosial-ekonomi masyarakatnya yang hidup makmur dan serba berkecukupan. Meskipun secara geografis, lokasi kota Makkah terbilang cukup tandus dan sedikit sekali jenis pepohonan yang dapat tumbuh, tetapi segala jenis buah dan sayuran dapat ditemui dengan mudah meski bukan berasal dari kota Makkah sendiri.

Kedua, keistimewaan Baitullah yang kedua yaitu ia merupakan sumber petunjuk bagi manusia. Baitullah, Ka’bah sebagai bangunan suci umat Islam bagaikan magnet yang menarik jutaan umat Islam berkunjung ke sana. Ia merupakan pusat peribadatan umat Islam dalam melaksanakan ritual ibadah haji dan menjadi kiblat salat muslim di seluruh penjuru dunia.

Ketiga, di lokasi baitullah, terdapat sebuah monumen yang disebut sebagai Maqam Ibrahim. Di sana terdapat jejak kaki yang diyakini secara turun temurun merupakan jejak kaki Nabi Ibrahim a.s. ketika beliau berpijak di tempat tersebut saat menaikkan batu-bata bangunan Ka’bah. Ini menjadi bukti nyata bahwa Ka’bah merupakan tempat ibadah pertama yang dibangun pertama kali sebab Nabi Ibrahim a.s. sendiri dijuluki sebagai bapak para nabi.

Bahkan dalam suatu riwayat, di akhir zaman nanti, Dajjal akan merongrong masuk ke semua tempat di seluruh penjuru dunia kecuali Makkah dan Madinah. Kedua kota ini mendapat perlindungan langsung dari Allah swt. dari fitnah Dajjal yang mampu menjangkau seluruh dunia.

Keempat, Makkah merupakan tempat yang menjanjikan keamanan dari segala macam ancaman dan ketakutan. Bahkan, sebagian ulama berpendapat bahwa orang yang telah divonis hukuman mati oleh syariat karena telah melakukan suatu pelanggaran, hukumannya harus ditunda apabila ia memasuki Kota Makkah. Hal ini bertujuan untuk menghormati kesucian kota Makkah dari pertumpahan darah dan segala tindak kejahatan.

Kelima, menjadi tempat berkumpulnya manusia di seluruh dunia untuk melaksanakan ibadah haji. Kewajiban ibadah haji berikut seluruh rangkaiannya merupakan suatu bentuk pengagungan terhadap baitullah. (Tafsir al-Munir, juz 4, hal. 14)

Baca Juga: Keistimewaan Ka’bah dalam Al-Quran dan Pahala Memandangnya

Masih terdapat banyak keistimewaan yang Allah swt. anugerahkan terhadap rumah suci tersebut, baik yang sudah terlihat maupun yang masih belum diketahui. Banyak penelitian-penelitian mutakhir yang membuktikan informasi-informasi qurani maupun hadis nabawi seputar bangunan Ka’bah. Semoga hal ini dapat menambah keimanan kita sebagai umat Islam, dan menjadi hujjah bagi mereka yang belum beriman. Wallah a’lam.

Muhammad Zainul Mujahid
Muhammad Zainul Mujahid
Mahasantri Mahad Aly Situbondo
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Manuscript Culture Naskah Jalalain MAJT

Manuscript Culture Naskah Jalalain MAJT 

0
Studi parateks pada naskah kuno terinspirasi dari karya Gerard Genette berjudul Seuils. Alih-alih menyajikan teks yang siap ‘dikonsumsi’ pembaca khas kajian filologi, parateks lebih...