BerandaTafsir TematikKeistimewaan Pohon Bidara (Sidr) dalam Al-Quran

Keistimewaan Pohon Bidara (Sidr) dalam Al-Quran

Nama pohon bidara mungkin terdengar agak asing bagi sebagian telinga penduduk Indonesia. Karena memang pohon ini tidak tumbuh dalam skala besar di setiap kawasan di Nusantara. Selain itu, pohon ini lebih cenderung memilih kawasan tertentu sebagai tempat pertumbuhannya, terutama di kasawan yang kering.

Terlepas dari hal itu, pohon sidr bisa dimasukkan ke dalam kategori pohon yang istimewa. Untuk melihat keistimewaan dari buah bidara secara eksplisit dapat dilihat dari kegunaannya. Buah pohon bidara atau sidr dapat dikonsumsi sebagai makanan maupun dijadikan minuman dengan cara diperas, bahkan pohon bidara juga dapat dijadikan manisan. Sedangkan bagi kesehatan, buah bidara juga dapat digunakan sebagai pengobatan.

Dalam artikel ini akan dijelaskan mengenai bagaimana al-Quran menyebutkan pohon bidara. Kemudian dalam konteks seperti apa pohon ini disebutkan dalam al-Quran. Setidaknya ada dua hal yang dapat digarisbawahi yang dapat penulis dapatkan.

Pohon yang Dinotasi oleh Al-Qur’an dan Hadis

Keistimewaan yang pertama ini berkaitan dengan penyebutan pohon sidr dalam sabda Nabi Muhammad saw.,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَطَعَ سِدْرَةً صَوَّبَ اللَّهُ رَأْسَهُ فِي النَّارِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menebang pohon bidara maka Allah akan membenamkan kepalanya dalam api neraka.” (HR. Abu Dawud).

Tentu terdapat maksud tersendiri mengapa Rasulullah mengecam sekeras itu ketika melarang mengeksploitasi pohon bidara. Asumsi penulis, selain untuk menjaga keberlangsungan hidup dari pohon bidara. Pohon bidara merupakan pohon yang mulia, hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat ibn abbas. (Ibn Katsir: 2000).

Baca Juga: Inilah 8 Manfaat Buah Zaitun, Buah yang Disebut dalam Al-Quran

Selain itu, keistimewaan pohon sidr juga dibuktikan dengan pengakuan al-Qur’an terkait eksistensi pohon sidr. Setidaknya terdapat dua ayat yang secara jelas menyebutkan nama bidara, yakni:

  1. (QS. As-Saba’[34]: 16)

فَأَعْرَضُوا فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنَاهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَاتَيْ أُكُلٍ خَمْطٍ وَأَثْلٍ وَشَيْءٍ مِنْ سِدْرٍ قَلِيلٍ

“Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirim kepada mereka banjir yang besar dan Kami Ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit pohon Sidr.”

2. (QS. Al-Waqi’ah[56]: 28)

فِي سِدْرٍ مَخْضُودٍ

“(Mereka) berada di antara pohon bidara yang tidak berduri.”

Dalam bahasa (arab) al-Qur’an kata sidr atau sidrah merupakan sejenis pohon, dan jika dibahasakan ke bahasa Indonesia menjadi pohon bidara. (Munawwir: 1997).

Namun untuk memperjelas apakah benar sidr yang disebut al-Qur’an itu bidara, perlu untuk melihat beberapa pandangan sejarah masa lalu.vKemunculan pohon sidr ini, bisa dikatakan lama, berdasarkan sejarah pohon sidr dapat ditelusuri keberadaannya bersamaan dengan kemunculan Kaum Saba’ yang tinggal di selatan Jazirah Arab sejak 1.000-750 SM.

Berdasarkan data-data ilmiah, pohon sidr merupakan kelompok jenis pohon Celtis yang tumbuh di gurun pasir, dan kalau sekarang dapat disebut sebagai pohon bidara.

Meski dalam pandangan yang lain, pohon sidr sebenarnya dapat diasosiasikan kepada dua kelompok jenis tumbuhan. Pertama, pohon Cedar yang berasal dari marga cedrus. Kedua, pohon Lote atau Hackbarry yang berasal dari marga Celtis. (LPMA: 2010).

Namun setidaknya data-data di atas menunjukkan kebenaran pohon bidara yang ditemukan saat ini dengan apa yang dimaksud oleh al-Qur’an.

Pohon Bidara adalah Tanaman Surga

Petunjuk pertama bahwa pohon bidara merupakan salah satu di antara pohon yang tumbuh di surga dapat di lihat melalui narasi penyebutan sidrah al-muntaḥā dalam al-Qur’an. Term sidrah al-muntaḥā ini erat kaitannya dengan perjalanan supranatural Nabi saat Isra’ Mi’raj di mana ketika beliau diangkat ke tingkatan tersebut, di mana kemudian beliau menyaksikan banyak hal yang berkaitan dengan surga dan neraka.

Quraish Shihab kemudian mendefinisikan kata Sidrah sebagai jenis pohon yang rindang. Pohon ini memiliki tiga keistimewaan. 1. Rindang. 2. Lezat. 3. Beraroma harum. Sedang al-muntaḥā berarti tempat terakhir. Tidak jelas apa yang dimaksud dengan tempat itu. Beberapa Riwayat menyatakan bahwa tempat tersebut berada di langit ke tujuh. (Quraish Shihab: 2005).

Adapun petunjuk selanjutnya yakni berdasarkan pada (QS. Al-Waqi’ah[56]: 28). Pada dasarnya ayat ini berkaitan dengan ayat eskatologis yakni kelompok ayat yang membicarakan tentang masakah ke-akhiratan.

Petunjuk bahwa pohon sidr merupakan pohon surga dapat diketahui berdasarkan riwayat Salim bin Amir yang juga masih berkenaan dengan ayat di atas. Salim bin Amir meriwayatkan, bahwa pada satu saat, terdapat seseorang dari kaum Arab yang meminta klarifikasi kepada Rasulullah saw., Allah telah menyebutkan di dalam surga pohon yang dapat menyakiti penghuninya ? Rasulullah malah bertanya Kembali: pohon apa itu? Oorang arab tadi berkata, yakni pohon sidr, karena sesungguhnya pohon sidr itu penuh dengan duri yang bisa membuat luka.

Rasulullah kemudian bersabda,”Bukankah Allah telah berfirman fī sidrin mandhūḍ (pohon bidara yang tidak berduri).” Allah telah mencabut semua durinya, dan menjadikan tempat yang awalnya dipenuhi dengan duri menjadi tempat munculnya buah dari pohon sidr.

Baca Juga: Keistimewaan Jahe (Zanjabil) dalam Al-Qur’an

Petunjuk tersebut kemudian dijelaskan lagi oleh imam Qatadah bahwa pohon sidr yang ada di akhirat berbeda dengan pohon sidr yang ada di dunia. Jika di dunia, pohon sidr memiliki duri yang banyak sedang buahnya sangat sedikit, namun ketika di akhirat (surga) pohon sidr penuh dengan buah tanpa ada satu duripun yang menempel di pohonnya. (Ibn Katsir: 2000).

Dalam kaitannya dengan surga, pohon bidara divisualisasikan sebagai pohon yang sangat besar; akarnya berada di langit ke-6 sedangkan cabang-cabangnya di langit ke-7. Meski demikian, sebagian ulama lainnya menempatkan pohon sidr berada di luar kemampuan akal manusia; yang tidak bisa divisualisasikan. (LPMA: 2010). Wallahu A’lam

Moh. Nailul Muna
Moh. Nailul Muna
Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Alumni Penerima Beasiswa PBSB S1 Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga dan Alumni Pesantren Mahasiswa LSQ Ar-Rohmah Yogyakarta.
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Mufasir Indonesia

Mengulas Naskah Tempo 1984 “Fatwa Kecil dari Kudus”

0
"Fatwa Kecil dari Kudus" merupakan judul artikel dalam Majalah Tempo, 4 Agustus 1984. Majalah ini didapat dari arsip Perpustakaan Medayu, Surabaya. Artikel yang dimuat...