Beranda Khazanah Al-Quran Keutamaan Tarawih pada Sepuluh Malam Kedua

Keutamaan Tarawih pada Sepuluh Malam Kedua

Selain sepuluh malam pertama, bertarawih pada sepuluh malam kedua Ramadan juga menyimpan keutamaan-keutamaan khusus. Berikut penjelasan keutamaan Tarawih dari malam 11 sampai 20 Ramadan, yang disarikan dari kitab Durrat al-Nashihin.

Baca juga: Dalil Kesunahan dan Keutamaan Tarawih di Sepuluh Hari Pertama

Keutamaan bertarawih malam kesebelas,

وفِى اللَّيلَةِ الحَادِى عَشرَةَ يَخرُجُ مِن الدُّنيَا كيومِ ولد من بَطنِ اُمِّهِ

“Orang yang bertarawih pada malam kesebelas Ramadan, kelak dia akan keluar dari dunia  (meninggal) dalam kondisi sebagaimana dia lahir dari perut ibunya.”

Keutamaan bertarawih malam kedua belas,

وفى اللَّيلَةِ الثَانِيةِ عشرةَ جَاءَ القيامةِ ووجهُهُ كَالقَمَرِ لَيلةَ البَدرِ

“Orang yang bertarawih pada malam kedua belas Ramadan, wajahnya laksana rembulan di malam Purnama kelak ketika hari kiamat tiba.”

Keutamaan bertarawih malam ketiga belas,

وفى الليلة الثالثةِ عشرةَ جاء يَومُ القيامةِ أَمنا من كلِ سُوءٍ

“Orang yang bertarawih pada malam ketiga belas Ramadan, akan selamat dari keburukan kelak saat hari kiamat tiba.”

Baca juga: Keistemewaan Bulan Ramadan: Bulan Diturunkannya Kitab Suci

Keutamaan bertarawih malam keempat belas,

وفى الليلة الرابعة عشرة جاءت الملائكةُ يَشهَدُونَ له أنّهُ قَد صلى التراويحَ فَلَا يُحاسِبُه اللهُ يَومَ القِيَامَةِ

“Orang yang bertarawih pada malam keempat belas Ramadan, akan disaksikan oleh para Malaikat, bahwa dia telah salat tarawih, sehingga Allah SWT. tidak menghisabnya kelak di hari kiamat.”

Keutamaan bertarawih malam kelima belas,

وفى الليلة الخامسة عشرة تُصَلِّى عليه الملائكةُ وحَمَلَةُ العَرشِ والكُرسِىِّ

“Orang yang bertarawih pada malam kelima belas Ramadan, akan dimintakan ampun oleh para Malaikat, Malaikat penjaga Arsy, dan Malaikat penjaga singgasana kerajaan langit.”

Keutamaan bertarawih malam keenam belas,

وفى الليلة السادسة عشرة كَتَبَ اللهُ لهُ براءةَ النجاةِ مِن النّارِ وبراءةَ الدخولِ مِن الجَنّةِ

“Orang yang bertarawih pada malam keenam belas Ramadan, akan Allah SWT. pastikan kebebasan dari neraka dan kebebasan untuk masuk surga.”

Baca juga: Kewajiban Ibu Hamil dan Menyusui yang Tak Berpuasa

Keutamaan bertarawih malam ketujuh belas,

وفى الليلة السابعة عشرة يُعطَى مِثلَ ثَوابِ الأنبِياءِ

“Orang yang bertarawih pada malam ketujuh belas Ramadan, akan diberi pahala sebagaimana pahala para Nabi.”

Keutamaan bertarawih malam kedelapan belas,

وفى الليلة الثامنة عشر نادى مَلَكٌ ياعَبدَ اللهِ إنّ اللهَ رَضِىَ عَنكَ وعَن وَالِدَيكَ

“”Pada malam kedelapan belas, Malaikat akan berseru kepada orang yang bertarawih, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya Allah telah rida terhadapmu dan kedua orangtuamu.””

Keutamaan bertarawih malam kesembilan belas,

وفى الليلة التاسعة عشرة يَرفَعُ اللهُ درجاتِهِ فِى الفِردَوسِ

“Orang yang bertarawih pada malam kesembilan belas Ramadan, akan Allah angkat derajatnya di Surga Firdaus.”

Keutamaan bertarawih malam kedua puluh,

وفى الليلة العشرين يُعطَى ثوابَ الشُّهَدَاءِ والصَّالِحِينَ

“Orang yang bertarawih pada malam kedua puluh Ramadan akan diganjar sebagaimana pahala syuhada dan orang-orang saleh.” (Durrat al-Nashihin fi al-Wa’dz wa al-Irsyad, 19)

Momen untuk memohon ampunan

Sepuluh hari kedua Ramadan juga disebut sebagai momen mustajab untuk memohon ampunan. Keutamaan ini berdasar pada hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah berikut ini:

 أولُ شهْرِ رمضانَ رحمةٌ ، وأَوْسَطُهُ مغفِرَةٌ ، وآخرُهُ عتْقٌ مِنَ النارِ

“Permulaan Bulan Ramadan ialah rahmat, pertengahannya merupakan ampunan, dan akhirnya adalah kebebasan dari neraka.”(Jami’ al-Ahadith, jilid 23, 176)

Hadis di atas memang dinilai daif karena sanad yang lemah oleh jumhur ulama, seperti komentar al-Suyuthi dalam Jami al-Ahadith dan al-‘Asqalani dalam Bulugh al-Maram. Akan tetapi, masih menurut jumhur, tak mengapa menerapkan hadis ini dalam koridor fadail amal (keutamaan-keutamaan ibadah sunah), guna menambah semangat melakukan amal sunah tersebut (al-hath li al-‘amal). Sehingga, alangkah baik jika momentum turunnya ampunan Allah ini kita gunakan untuk taubat dan istighfar semaksimal mungkin, niscaya permohonan ampun kita akan diterima oleh Allah, Yang Maha menerima taubat. Sebagaimana FirmanNya dalam Q.S. Asysyura [42]: 25:

وَهُوَ الَّذِيْ يَقْبَلُ التَّوْبَةَ عَنْ عِبَادِهٖ وَيَعْفُوْا عَنِ السَّيِّاٰتِ وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُوْنَۙ

“Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan memaafkan kesalahan-kesalahan dan mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Demikian keutamaan tarawih pada sepuluh malam kedua Ramadan beserta momen penuh maghfirah di dalamnya. Semoga kita dapat memaksimalkan ibadah puasa dengan menyempurnakan kewajiban melalui amal sunah secara ikhlas. Wallahu a’lam[]

Redaksihttp://tafsiralquran.id
Tafsir Al Quran | Referensi Tafsir di Indonesia
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Hikmah dalam Polemik Rumah Tangga Zayd bin Haritsah dan Zainab binti Jahsyi

Hikmah dalam Polemik Rumah Tangga Zayd bin Haritsah dan Zainab binti...

0
Zayd bin Haritsah adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw. yang istimewa, karena dia adalah satu-satunya sahabat Nabi yang namanya disebut secara eksplisit dalam...