Beranda Tokoh Tafsir Tokoh Tafsir Indonesia Kiai Zaini Mun’im dan Naskah Tafsirnya

Kiai Zaini Mun’im dan Naskah Tafsirnya

Selama ini pesantren selalu saja dikenal dengan sosok kiai, santri, asrama dan kitab kuning. Kajian kitab kuning, suatu istilah untuk karya berbahasa arab yang tertulis tanpa harakat, di pesantren selalu menjadi bahan ajar yang tembus zaman dan tembus generasi. Selain itu, satu hal lagi kekayaan yang dialamatkan pada pesantren namun jarang terekpos adalah bahan ajar barupa naskah atau manuskrip.

Kondisi naskah pesantren Jawa-Madura bisa dikatakan kurang mendapatkan perhatian serius. Sebagaimana pernah diungkap oleh Litbang Kemenag Semarang, bahwa ada sekitar 268 naskah yang tidak terurus sebelumnya, dan baru sedikit diurus ahir-ahir ini dan akan dimasukkan ke repositori. 268 naskah tersebut cukup dijadikan kesimpulan bahwa Kiai hususnya di wilayah Madura cukup produktif meski karyanya tidak terbit.

Sebagai salah satu khazanah pesantren, terdapat satu tafsir yang dikarang oleh salah satu ulama asal Madura yang kemudian mendirikan pesantren di daerah Jawa Timur. Kiai Zaini Mun’im yang kemudian akrab disapa Kiai Zaini, pendiri pesantren Nurul Jadid, Paiton ini sempat mengejakan sebuah tafsiran ayat Alquran kepada para santrinya. Kiai Muwafiq Amiruddin yang berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur adalah salah satu santri Kiai Zaini yang ditunjuk untuk menulis isi pengajian tafsir gurunya saat itu. Tafsir yang dikaji itu kemudian dikenal dengan nama Tafsir bi al-Imla’.

Baca Juga: Belajar dari Mbah Fadhal al-Senory, Guru Besar Ulama Nusantara dan Tafsir Fikihnya

Siapakah Kiai Zaini?

Sedikit tentang Kiai Zaini, dia merupakan alim yang dilahirkan pada tahun 1906 M. di Madura, tepatnya di desa Galis kecamatan Galis. Anak dari pasangan Kiai Abdul Mun’im dan Nyai Hamidah ini sejak kecil sudah ditempa pendidikan agama langsung oleh ayahandanya. Ayahnya memberi perhatian khusus dalam hal pelajaran mengaji, menghafal Alquran dan mendalami ilmu-ilmu agama dasar. Untuk kematangan keilmuan agama, Kiai Zaini menyantri di beberapa pesantren, di antaranya pondok pesantren Banyuanyar, Pamekasan asuhan Kiai Abdul Hamid dan Kiai Abdul Majid, pondok pesantren Pademangan, Bangkalan asuhan Syaikhona Kholil, pondok pesantren Tebuireng, Jombang asuhan Kiai Hasyim Asy’ari.

Pada tahun 1917 M. saat Zaini berusia 11 tahun, dia masuk sekolah Volk School (Sekolah Rakyat). Ini juga menjadi sekolah pertama dan terahir baginya, selanjutnya semua tempaan mengenai pendidikan ia hadapi di Pesantren. Setelah selesai di jenjang formal, Zaini menyelesaikan hafalan Alquran serta kitab gramatikal Arab Alfiya Ibnu Mālik dalam kurun waktu satu tahun di pondok pesantren Pademangan, asuhan Syaikhona Kholil.

Setelah itu, sekitar tahun 1922 M, Zaini pindah ke pesantren Banyuanyar, Pamekasan dalam asuhan Kiai Abdul Hamid dan Kiai Abdul Majid.  Di sini dia belajar tafsīr, adī, uūl al-fiqh, fiqh, taawwuf, bahasa Arab dan Ilmu Tajwid. Utamanya dalam bidang tafsir, Zaini memiliki kelebihan dibanding ilmu-ilmu lainnya. Dalam beberapa hal, Zaini telah dapat memberikan penafsiran terhadap beberapa ayat dalam Alquran.

Wal hasil, jauh pengembaraan Kiai Zaini selesai saat ia menetap di pulau Jawa sepulangnya belajar dari Makkah. Pondok Pesantren Salafiyah, Sukerejo, Situbondo menjadi pelabuhan pertama saat ia di Jawa, sampai kemudian Kiai Syamsul saat itu, menyarankan Zaini untuk meninggalkan Sukorejo dan membangun pesantren di wilayah Probolinggo. Kiai Zaini memilih desa Karanganyar, Paiton, Probolinggo sebagai tempat bermukim dan mendirikan pesantren yang kemudian saat ini dikenal dengan Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Banyak karya yang ditulis oleh Kiyai Zaini, salah satunya adalah Tafsir Surah al-Fatiah bi al-Imlā dan al-Baqarah yang ditulis pada tahun 1973 M. Karya ini merupakan penafsiran Kyai Zaini terhadap Alquran yang ditulis oleh Kiai Muwafiq atas perintah dari Kiai Zaini. Karenanya, Kyai Muwafiq memberinya judul dengan tafsīr bi al-Imlā’ li sūrat al-fātiah dan al-Baqarah. (Filologi Naskah Tafsir bi al-Imlā’, hal. 149)

Baca Juga: Mufasir-Mufasir Indonesia: Biografi Syekh Nawawi Al-Bantani

Tentang Tafsir bi al-Imla’

Tafsīr bi al-Imlā’ karya Kiai Zaini Mun’im berawal dari pengajian di masjid pondok pesantren Nurul Jadid, Probolinggo yang berlangsung pada awal tahun 1972 M sampai tahun 1976 M. Kiai Muwafiq berkontribusi penting dalam penulisan tafsir ini, ketelatenan dan ketelitian dalam menyalin ejaan yang disampaikan pengajian Kiai Zaini dia tulis untuk kemudian dikoreksi oleh Kiai Zaini usai pengajian.

Saat Kiai Zaini membawakan materi di pengajian bersama santri, ada dua versi yang saya dapatkan. Pertama; Menurut Kiai Mursyid (salah satu santri Kiai Zaini juga), Kiai Zaini hanya berbekal Alquran dan kemudian menafsirkan ayat yang ia baca tanpa melihat tafsir apapun. Kedua, menurut Kiai Muwafiq, Kiai Zaini membawa dan membaca buku cacatan kecil yang telah dia persiapkan sebelum mengajar santri-santrinya. Keterangan pertama memberi kesan bahwa Kiai Zaini menafsirkan Alquran sesuai dengan kematangan ilmunya tanpa membawa catatan. Sementara keterangan kedua memberi kesan bahwa Kiai Zaini telah mencatat beberapa point penting sebelum dia mengajar para santrinya. (Filologi Naskah Tafsir bi al-Imlā’, hal.  151)

Mulanya, tafsir ini memiliki dua versi. Pertama, versi yang ditulis tangan oleh Kiai Muwafiq, santri yang ditunjuk oleh Kiai Zaini sebagai notulen pada masanya. Kedua, catatan pribadi Kiai Mursyid. Menurut Kiai Mursyid, catatannya lebih lengkap daripada catatan yang ditulis oleh Kiai Muwafiq. Pernyataan ini diakui oleh Kiai Muwafiq disebabkan kesibukan dirinya yang saat itu juga diberi amanah menjadi pengurus pesantren. Akan tetapi, catatan Kiai Mursyid ini hilang terbakar bersamaan dengan tumpukan kertas-kertas lain yang dikira sampah. Kejadian tersebut tidak ia ketahui lantaran pada saat itu ia pulang saat mendengar kabar ayahnya mengalami sakit parah dan wafat. (Filologi Naskah Tafsir bi al-Imlā’, hal.  150)

Oleh karena itu, tafsir yang masih beredar sampai saat ini merupakan tulisan tangan Kiai Muwafiq. Sejauh ini, yang saya ketahui, Tafsir bi al-Imla’ masih berupa salinan dari tulisan tangan Kiai Muwafiq dan belum dibukukan, sehingga terkadang harus mengalami kesulitan saat membaca karena tulisan yang mulai pudar dan tidak jelas akibat disalin berkali-kali.

Satu lagi khazanah tafsir Indonesia kita dapatkan dari sosok alim yang belum terlalu banyak dikenal oleh publik. Hal ini menarik untuk kita pelajari, khususnya oleh pencinta tafsir.

Umarul Faruq
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Budaya

Relasi Islam, Alquran, dan Budaya

Secara umum, budaya merupakan buah pikir dan batin manusia yang berkesadaran dalam bentuk kepercayaan, kesenian, maupun adat istiadat. Budaya kerap kali berkaitan erat dengan agama...