Beranda Tafsir Tematik Kunci Kemajuan Pendidikan Islam Terletak pada Learning by Doing

Kunci Kemajuan Pendidikan Islam Terletak pada Learning by Doing

Kunci kemajuan pendidikan Islam terletak pada learning by doing (belajar sambil melakukan). Learning by doing merupakan sebuah konsep besar (grand theme) yang berada pada pendidikan dengan menekankan belajar sambil mengajar.

Di sini doing saya memaknainya sebagai mengajar. Mengajar tidak melulu verbal (ceramah saja), melainkan non verbal (menulis, meriset, meneliti, mengabdi, keteladanan, pembiasaan, penanaman karakter). Sebab pada hakikatnya goal (tujuan) dalam pendidikan Islam adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Maka menerapkan learning by doing merupakan keniscayaan.

Kemajuan pendidikan Islam pada masa kekhalifahan ‘Abbasiyah ditandai dengan puncak kemajuan terkait ilmu pengetahuan dan sains, hal ini tidak terlepas dari pembumian konsep learning by doing secara besar-besaran seperti keproduktifan ulama dalam berkarya, pengajaran yang esensial, ulama fokus hanya belajar dan mengajar, dan sebagainya. Hal ini senada dengan firman Allah swt dalam Q.S. al-‘Alaq [96]: 1-5,

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. al-‘Alaq [96]: 1-5)

Tafsir Surat al-‘Alaq Ayat 1-5

Surat al-‘Alaq 1-5 merupakan wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad saw. Inilah wahyu pertama yang dianugerahkan oleh Allah swt kepada Nabi saw. Menurut penafsiran Ibnu Katsir dikatakan sebagai rahmat dan nikmat tiada tara yang dianugerahkan Allah swt kepada para hamba-hamba-Nya. Sekaligus menandai kebangkitan umat manusia menuju ajaran yang hanif dan ilmiah.

Wahyu ini pula menjadi tonggak perubahan peradaban dunia. Dengan turunnya wahyu ini, berubahlah garis sejarah umat manusia, umat yang dulunya jahiliyah bertransformasi menuju sinar ilmu pengetahuan yang terang benderang. Dan pentransformasian itu diawali dengan iqra’ (bacalah).

Kata Iqra dalam literatur khazanah Islam memiliki beragam makna, menyampaikan, menelaan, membaca, meneliti, mendalami, dan makna-makna lainnya. Iqra yang terdapat dalam ayat 1 dan 3, tidak menyebut objek yang dituju, sehingga mengindikasikan seruan bacaan itu bersifat umum.

Artinya, perintah membaca di sini tentu tak terbatas hanya membaca “lembaran buku”, melainkan juga membaca sekeliling, ciptaan-Nya bahkan dunia. Ayat tersebut memerintahkan kita untuk belajar (learning) kemudian mengamalkannya (doing).

Mengamalkan di sini banyak macamnya, misalnya mengajar pada umumnya, meneliti suatu objek, meriset, mengembangkan penelitian ulama atau tokoh terdahulu sehingga menghasilkan penelitian ilmiah yang mutakhir.

Baca juga: Tafsir QS. al-‘Alaq: Membangun Peradaban dengan Iqra dan Qalam

Yang perlu digarisbawahi, Allah swt tekankan pada redaksi berikutnya bismi rabbika. Ikutilah membaca itu dengan menyebut nama Allah swt. Syaikh Abdul Halim Mahmud dalam kitabnya mengatakan, “dengan kalimat Iqra’ bismi rabbika dan semangatnya sekaan mengatakan bacalah demi Tuhanmu, bergeraklah demi Tuhanmu, bekerjalah demi Tuhanmu. Begitupun tatkala hendak berhenti dari aktivitas. Sehingga, segala aktivitas di dunia ini, sujud, cara dan tujuan seseorang dilakukan semata karena Allah swt.”

Ayat itu seolah ingin menyatakan, “jangan lupakan Aku (Allah swt) sebagai Tuhanmu, Ingatlah semua ini Aku yang menciptakan, kau bisa menikmati, memanfaatkan, meneliti, mengkaji, meriset dan semua itu untuk bekal hidupmu sebagai pelaksana risalah mulia, yakni khalifatullah fil ardh. Tanpa Aku, kamu tak akan bisa melakukan semua itu. Maka, bersyukurlah kamu dan sertakan Aku dalam setiap langkahmu.”


Baca juga: Kisah Romantis Khaulah bint Tsa’labah Dibalik Ayat-Ayat Zihar


Kunci Kemajuan Pendidikan Islam Terletak Pada Learning By Doing

Kunci kemajuan Islam tidak terlepas dengan istilah learning by doing jika kita cermati pada ayat di atas tersirat dalam ayat ke-3, 4, dan 5. Terutama pada redaksi iqra, ‘allama bil qalam dan ‘allamal insana ma lam ya’lam. Ketiga ayat ini mengindikasikan secara serius bahwa belajar sambil mengajar adalah keharusan, yang dalam hal ini saya istilahkan learning by doing.

Kata Iqra’ dalam ayat ke-3 menurut Quraish Shihab, ada seorang ulama yang mengatakan bahwa Iqra’ pada ayat pertama mengindikasikan perintah untuk membaca diri sendiri (belajar) dan iqra’ dalam ayat ketiga adalah membaca untuk orang lain mengajar.

Bagaimana tidak, Allah swt sebagai Maha Pendidik, Maha Kuasa tentu tidak sulit Dia berfirman kun fayakun, jadilah kamu manusia berilmu, maka jadi. Namun Allah swt ingin meneladankan bahwa Dia tidak segan, tidak malu untuk mengajarkan manusia dengan perantara qalam (pena, media, ayat-ayat-Nya), yang sebelumnya ia tidak memiliki pengetahuan sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,

وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur. (Q.S. al-Nahl [16]: 78)

Mengajar dalam konteks ini bermakna dua hal, yakni verbal dan non verbal. Mengajar verbal seperti halnya ceramah pada umumnya. Pendidik menjelaskan, kemudian peserta didik mendengarkan. Sedangkan non verbal meliputi hal yang lebih luas seperti menulis, meneliti, meriset, keteladanan, pembiasaan hal-hal positif, penanaman karakter, dan sebagainya.

Sebab sabda Rasul saw, ada dua hal perkara yang dikategorikan sebagai sebaik-baik amalan yakni,

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآَنَ وَعَلَّمَهُ

Sebaik-baik kalian ialah yang belajar Alquran dan mengajarkannya. (H.R. Muslim)

Ulama Nusantara kita tatkala berceramah baik di forum ilmiah maupun masyarakat awam sebut saja KH. Bahauddin Nur Salim, kerap di sapa Gus Baha, ulama asal Rembang ini pernah menyampaikan bahwa jalan menuju Allah swt ialah dengan belajar dan mengajar.

أَفْضَلُ الطُّرُقِ اِلَى اللهِ طَرِيْقَةُ التًّعْلِيْمِ وَالتَّعَلُّمِ


Seutama-utama jalan menuju Allah SWT yaitu dengan belajar dan mengajar


Baca juga: Tersimpan di Perpustakaan Rotterdam Belanda, Inilah Mushaf Al Quran Tertua dari Nusantara


Sebab kunci kemajuan pendidikan Islam bisa dengan belajar dan mengajar, ilmu pengetahuan dan sains berkembang sejalan dengan kebutuhan manusia. Sebagaimana kita dahulu sebagai umat Islam pernah mencapai puncak keemasan ilmu pengetahuan pada masa Kekhalifahan Abbasiyah.

Di mana lahir ilmuwan-ilmuwan Islam yang mendunia, bahkan kontribusinya sampai sekarang masih kita nikmati. Bukankah pesatnya kemajuan peradaban Islam kita dahulu juga tidak terlepas dari kemajuan pendidikan Islam yang menerapkan learning by doing? Maka sudah waktunya learning by doing direvitalisasi kembali sebagai ruh dalam pendidikan Islam, semoga secepatnya. Wallahu A’lam.

Senata Adi Prasetia
Redaktur tafsiralquran.id, Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya, aktif di Center for Research and Islamic Studies (CRIS) Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

qiraat al-quran

Mimpi Imam Hamzah dan Kemuliaan Penjaga Alquran

0
Salah satu di antara imam qiraah yang mutawatir adalah Imam Hamzah. Beliau lahir di Kuffah pada tahun 80 H. Bernama lengkap Hamzah bin Habib...