BerandaTafsir TematikLarangan Memuji Berlebihan

Larangan Memuji Berlebihan

Sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Oleh karena itu, Islam melarang melakukan sesuatu dengan berlebihan, makan  berlebihan, minum berlebihan, tidur berlebihan, tertawa berlebihan, cinta berlebihan, bahkan juga benci berlebihan. Dalam hal ini juga, termasuk larangan memuji berlebihan.

Dalam surah An-Najm ayat 32 Allah swt. berfirman,

فَلَا تُزَكُّوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ

“Maka janganlah menganggap diri kalian suci.” (QS. an-Najm ayat 32).

Dalam Tafsi at-Tahrir wa at-Tanwir, Ibn Asyur menafsirkan ayat tersebut dengan dua makna, yaitu larangan menyucikan diri sendiri dan larangan menyucikan orang lain. (at-Tahrir wa at-Tanwir, 27/125). Menyucikan diri sendiri artinya merasa diri sendiri lebih baik dan merendahkan yang lain. Menyucikan orang lain berarti memujinya.

Baca Juga: Maksud Larangan Berlebihan Memuji Rasulullah SAW, Tafsir Surah an-Nisa 49

Bagaimana konteks memuji yang dimaksud oleh ayat ini?

Dalil tentang pujian

Perihal bahaya pujian, terdapat sebuah hadis dari Abu Bakrah, dia menceritakan bahwa ada seorang sahabat sedang memuji sahabat yang lain di hadapan Rasulullah saw., Mendengar hal tersebut, lantas Rasulullah saw. bersabda,

“Celaka engkau, engkau telah memotong leher temanmu (berulang kali beliau mengucapkan perkataan itu). Jika salah seorang di antara kalian terpaksa/harus memuji, maka ucapkanlah, ‘Sebatas yang saya tahu si fulan demikian kondisinya.’ Jika dia menganggap seseorang yang dipuji itu demikian adanya. Adapun yang mengetahui kondisi sebenarnya adalah Allah dan janganlah menyucikan seseorang di hadapan Allah.” (H.R. Bukhari)

Dalam hadis lain, dari Miqdad bin al-Aswad, Rasulullah saw. bersabda, “jika engkau melihat orang yang memuji, maka taburkanlah debu di wajahnya.” (HR. Muslim).

Dua hadis tersebut sering digunakan sebagai dalil larangan memuji seseorang, namun di saat yang sama bisa saja dapat dipahami sebagai pembolehan memuji orang lain dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Rasulullah saw. bukannya tidak pernah memuji para sahabatnya. Beliau memuji para sahabat yang dikaguminya, seperti dalam hadis berikut,

“Pria terbaik adalah Abu Bakr, ‘Umar, Abu ‘Ubaidah, Usaid bin Hudhair, Tsabit bin Qais bin Syammas, Mu’adz bin Amru ibnul Jamuh dan Mu’adz bin Jabal.” Kemudian beliau mengatakan, “Pria terburuk adalah fulan dan fulan.” Beliau menyebutkan tujuh nama. (Ash Shahihah, 875)

Imam Nawawi mencoba mengetengahi dua hadis sebelumnya (larangan Rasulullah dan pujian Rasulullah kepada para sahabatnya). Beliau berpendapat bahwa hadis yang melarang itu dimaksudkan untuk orang yang memuji berlebihan, atau pujian yang lebih dari sifat yang sebenarnya, atau pujian yang ditujukan kepada orang yang dikhawatirkan tertimpa fitnah berupa sifat ujub dan semacamnya ketika dia mendengar pujian.

Adapun orang yang dikhawatirkan tidak tertimpa fitnah, baik karena bagusnya ketakwaannya dan kokohnya akal dan ilmunya, maka tidak ada larangan memuji di hadapannya, itu pun jika pujian tersebut bukan pujian yang berlebihan. Bahkan, jika pujian tersebut mengandung maslahat, misalnya membuat seseorang semakin semangat dalam berbuat baik, serta ada unsur supaya orang lain pun meneladani orang yang dipuji tersebut, maka hukumnya dianjurkan.” (Syarh Shahih Muslim, 9/382)

Penjelasan Imam Nawawi tersebut setidaknya bisa dipahami bahwa pujian itu boleh, bahkan sangat dianjurkan bila sebuah pujian mengandung maslahat. Namun apabila pujian itu dilakukan dengan berlebihan, maka akan menjadi berbahaya.

Termasuk ketentuan larangan dalam memuji yaitu pujian yang tidak benar, seseorang memuji atas suatu hal yang tidak dimiliki orang yang dipuji. Sebagaimana ditulis oleh Ibnu Hajar, ‘jika memuji orang dengan hal yang benar-benar ada pada dirinya, maka seperti itu tidak terlarang. Rasulullah saw. pernah dipuji dalam hal sya’ir dan khutbah beliau, namun beliau tidak menyiram pasir di hadapan orang yang memuji.” (Fath Al-Bari, 10/477)

Baca Juga: Walid bin Mughirah, Tokoh Kafir Quraish yang Memuji Al-Quran

Cara bijak memuji dan dipuji

Seringkali kita mendengar pujian yang bisa membuat seseorang terkena ‘ain (kondisi mental yang bangga berlebihan terhadap diri sendiri). Itulah mengapa ketika memuji, kita dianjurkan oleh Rasulullah saw. untuk mengingat keagungan Allah dengan ungkapan MasyaAllah atau Barakallah. Ini juga merupakan tips agar seseorang tidak memuji berlebihan. Sahabat Abdullah bin Amir meriwayatkan hadis yang berkaitan dengan hal ini,

“Jika salah seorang di antara kalian melihat sesuatu yang menakjubkan dari saudaranya atau dirinya atau hartanya, maka hendaklah dia mendoakannya agar diberikan keberkahan kepadanya. Sebab ‘ain itu nyata adanya.” (HR. Ahmad, 15700). Adapun ucapan MasyaAllah dilandaskan pada surat Al-Kahfi ayat 39.

Anjuran sebelumnya berlaku pada orang yang memuji. Lantas, bagaimana sikap yang baik dari orang dipuji? Ada riwayat dari Aisyah dalam hal ini. Ketika istri Rasulullah saw. itu ditanya, “Kapan seseorang dikatakan buruk? beliau menjawab, “Jika dia menyangka bahwa dia adalah orang baik.” (At-Taisir bisyarh Al-Jami’ ash-Shaghir, 2/606)

Dalam riwayat lain, ada seseorang melihat ibadah Bisyr Al-Hafi yang khusyu’, lalu tokoh sufi tersebut berkomentar, “Janganlah engkau terperdaya dengan apa yang kau lihat dariku, sesungguhnya Iblis beribadah kepada Allah ribuan tahun kemudian dia menjadi kafir kepada Allah” (At-Taisir bisyarh Al-Jami’ as-Shaghir, 2/606)

Betapa dua riwayat yang luar biasa tentang sikap orang yang dipuji. Berdasarkan dua riwayat itu pula dapat dipahami bahwa pujian adalah ujian. Cara seseorang menyikapi sebuah pujian akan menentukan nasibnya. Bila pujian menjadikan seseorang sombong, maka dia telah terperangkap dalam bahaya pujian. Semoga Allah melindungi kita dari pujian yang membahayakan.

Mari meneladani doa Abu Bakr as-Siddiq r.a. ketika beliau dipuji:

اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ

“Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku dari pada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku dari pada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka.” (HR. Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4/228).

Wallah a’lam

Shopiah Syafaatunnisa
Shopiah Syafaatunnisa
Alumni UIN Sunan Gunung Djati Bandung
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Tiga Bentuk Amanah dalam Q.S. Alnisa’ Ayat 58 Perspektif al-Razi

0
Saling menjaga kepercayaan satu sama lain merupakan salah satu komponen terpenting dalam memelihara hubungan sosial, sekaligus menjadi bentuk ketakwaan kepada Allah. Kata amanah sendiri...