Beranda Tafsir Tematik Maksud Larangan Berlebihan Memuji Rasulullah SAW, Tafsir Surah an-Nisa 49

Maksud Larangan Berlebihan Memuji Rasulullah SAW, Tafsir Surah an-Nisa 49

Memuji Rasulullah SAW merupakan bagian dari takdzim umat Islam kepada  Nabi Muhammad saw. Bagi para muhibbin puji-pujian sudah menjadi ekspresi kecintaannya kepada sang Nabi, dan bagi umumnya manusia agar mudah meneladani akhlaknya setelah tertanam kecintaan yang mendalam.

Namun disayangkan jika puji-pujian ini dianggap berlebihan dan syirik oleh sebagian kelompok, padahal sangat jauh dari kata terlarang. Lantas apa maksud larangan berlebihan memuji Rasulullah saw. dalam hadits?

Jawaban dari pertanyaan di atas sebetulnya telah dijawab oleh para ahli tafsir ketika menjelaskan firman Allah swt. (QS. an-Nisaa’: 49),

  أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا (49)

Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih?, sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikitpun.”

Sebagaimana penjelasan al-Qurthuby, ayat ini adalah lanjutan ayat-ayat sebelumnya (dari ayat 44) yang menjelaskan tentang perbuatan tercela orang-orang yahudi dan nashrani. Yaitu pujian mereka terhadap diri sendiri, seperti pengakuan mereka sebagai anak tuhan, pengakuan hanya mereka yang masuk surga, dan pengakuan terbebasnya mereka dari dosa. Dan hakikat kesucian (keutamaan) adalah bagi orang-orang yang perilakunya baik di sisi Allah swt.


Baca juga: Riwayat Israiliyyat Batil dalam Kisah Nabi Sulaiman dan Ratu Balqis


Adapun pujian terhadap orang lain, jika pujiannya tidak sesuai realita atau melampaui batas, maka perbuatan ini dilarang dalam agama. Dan sebaliknya, apabila pujiannya sebab kebaikannya dan sesuai dengan realita, maka hal ini termasuk perbuatan terpuji karena bisa memantik motivasi melakukan kebaikan kepada yang lainnya. Dan sebaik-baiknya manusia dalam hal apapun adalah Rasulullah saw. (al-Qurthuby, al-Jami’ li Ahkam al-Quran, juz 5, hlm. 264 )

Al-Qurthuby juga meluruskan pemahaman maksud larangan terkait berlebih-lebihan memuji Rasulullah saw. seperti berlebihannya kaum Nashrani terhadap Nabi Isa as. dalam hadits (HR. al-Bukhari, no: 3189).

فمعناه لا تصفوني بما ليس فيّ من الصفات، تلتمسون بذلك مدحي، كما وصف النصارى عيسى بما لم يكن فيه، فنسبوه إلى أنه ابن الله، فكفروا بذلك وضلّوا.

Artinya: “Makna (haditsnya) adalah janganlah menyebutkan sifat-sifat yang tidak terdapat pada diriku, untuk memujiku. Sebagaimana orang-orang Nashrani menyebutkan sifat yang tidak terdapat pada Isa, dengan menisbahkannya sebagai putra Allah. Maka mereka menjadi kufur dan tersesat sebab hal itu.”   

Semua sifat-sifat kemuliaan, kesempurnaan dan keindahan yang dimiliki makhluk terdapat pada diri Rasulullah saw. Dan suatu sanjungan yang diperuntukkan baginda nabi dengan pujian-pujian indah yang menunjukkan luhurnya derajat beliau selama tidak melampaui batas seperti berlebihannya orang-orang Nashrani terhadap Nabi Isa, maka sah-sah saja. Bahkan pujian ini dinilai sangat baik, karena keberadaan Rasulullah sebagai suri tauladan yang memang perlu diketahui keluhuran akhlaknya agar dapat diikuti.


Baca juga: 3 Konsep Takwa dalam Surat Ali ‘Imran Ayat 133-134


Hal ini senada dengan ungkapan al-Bushiri dalam qasidahnya al-Burdah:

دع ما ادعته النصارى في نبيهم      واحكم بما شئت مدحا فيه واحتكم

وانسب إلى ذاته ما شئت من شرف     وانسب إلى قدره ما شئت من عظم

فإن فضل رسول الله ليس له      حد فيعرب عنه ناطق بفم

 

Tinggalkan tuduhan orang-orang Nasrani terhadap Nabi Mereka. Dan tetaplah menyanjung Nabi Muhammad saw. dengan pujian sesukamu, dan teruslah tetapkan keutamaannya.

Nisbahkan semua bentuk kemuliaan pada dzat Nabi Muhammmad saw. sesukamu. Dan nisbahkan pula semua penghormatan dan ketinggian sebuah derajat pada derajat Nabi Muhammmad saw. sesukamu

Sesungguhnya keutamaan Rosulullah Muhammad tidaklah terbatas, hingga tak dapat diungkapkan oleh seorang pun melalui kata-kata


Baca juga: Surat Al-Hujurat Ayat 13: Dalil Sila Kedua Pancasila


Maka dari itu, Rasulullah tidak pernah ingkar ketika mendapat pujian-pujian dari para sahabatnya, seperti Abbas, Hassan bin Tsabit dan Ka’ab bin Zuhair dalam syair-syairnya. Diantara syair mereka adalah:

وأحسن منك لم تر قط عيني         وأجمل منك لم تلد النساء

خُلِقْتَ مبرءاً من كل عيب         كأنك قد خُلِقْتَ كما تشاء

Mataku benar-benar tidak pernah melihat orang sebaik dirimu, dan tidak pernah ada seorang perempuan-pun yang melahirkan bayi seperti dirimu.

Engkau (wahai Rasulullah) diciptakan dalam keadaan suci dari segala aib, seakan engkau diciptakan sesuai keinginan dirimu sendiri.

Wallahu A’lam

M. Ali Mustaan
Alumnus STAI Imam Syafii Cianjur, mahasiswa pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pecinta kajian-kajian keislaman dan kebahasaaraban, penerjemah lepas kitab-kitab kontemporer
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Self-Healing

Keseimbangan Perspektif Al-Qur’an Sebagai Terapi Self-Healing

0
Pada umumnya, manusia tidak lepas dari permasalahan di sepanjang hidupnya. Hal ini dikarenakan manusia merupakan mahluk yang memiliki emosi. Emosi ini dapat mempengaruhi beberapa...