Beranda Khazanah Al-Quran Makna Ar-Rahman dan Ar-Rahim dalam Lafaz Basmalah

Makna Ar-Rahman dan Ar-Rahim dalam Lafaz Basmalah

Lafaz Basmalah yang lazim dibaca oleh seorang muslim ketika hendak mengerjakan sesuatu, ternyata memiliki makna yang sangat dalam. Sebagaimana ketika menyoroti kata ar-raḥmān dan ar-raḥīm yang menjadi sifat dari kata Allah sekaligus menjadi indikator bahwa Allah memiliki sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada hamba-Nya.

بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

Artinya:

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Mengetahui kekayaan makna dalam al-Quran sekedar menggunakan terjemahan tentu jauh dari kata cukup. Begitu pun dengan memahami makna dari ar-raḥmān dan ar-raḥīm Allah dalam kalimat basmalah. Sekedar memahaminya dengan “Maha Pengasih” dan “Maha Penyayang” bisa jadi mendistorsi maknanya yang luas dan mendalam.

Secara keseluruhan, kata yang berakar dari kata rahima setidaknya memiliki lebih dari 30 bentuk derivasi, dengan jumlah keseluhan penyebutan kata tersebut, tidak kurang dari 200 kali dalam al-Qur’an. Dari ratusan penyebutan kata tersebut, terdapat dua bentuk yang mendominasi, yakni ar-raḥmān dan ar-raḥīm yang kebetulan, dua bentuk kata ini juga dapat ditemukan secara sekaligus dalam lafaz basmalah. (Ibrahim: 1988).

Baca Juga: Benarkah Basmalah Termasuk Ayat Al-Quran?

Meski kedua kata tersebut mempunyai akar huruf yang sama, namun tidak secara otomatis membawa makna yang sama, terutama dalam lafaz Basmalah. Untuk memperjelas perbedaan tersebut, penulis akan mencoba mengutip beberapa pandangan ulama terkait distingsi antara ar-raḥmān dan ar-raḥīm.

Secara bahasa, ar-raḥmān dan ar-raḥīm mempunyai akar kata yang sama yakni raḥima yang berarti: menyayangi, menaruh kasihan, dan mengasihi. (A.W. Munawwir: 1997). Dalam padangan lain, Ibn Anbāri meyakini bahwa ar-raḥmān bukanlah berasal dari Bahasa Arab, namun ia berasal dari bahasa ibrani. Ahmad bin Yahya menguatkan pandangan Ibn Anbāri dengan mengatakan bahwa ar-raḥīm merupakan bahasa arab, sedangkan ­ar-raḥmān merupakan bahasa ibrani. (Ismail ibn Katsir; 2000).

Telepas dari perbedaan asal muasal dua kata tersebut, yang pasti mayoritas ulama meyakini bahwa keduanya berasal dari bahasa Arab dan secara umum mengandung arti kasih sayang.

Dalam lafaz basmalah kedua kata tersebut menempati posisi sebagai sifat Allah sekaligus menjadi dua dari sekian banyak nama-nama Allah. Kata raḥmān diambil dari kata raḥmah (kasih sayang), dan keberadaan nama tersebut hanya diperuntukkan kepada Allah semata. Sedangkan ar-raḥīm dalam lafaz basmalah bermakna ‘aḍzīm al-raḥmah (besarnya kasih sayang). Di sisi lain, kata tersebut menjadi sifat yang kedua, yang jatuh setelah kata raḥmān (Ibrahim: 1988).

Ibn Abbas yang dikutip oleh Imam al-Baghawi, mengatakan bahwa kedua nama tersebut; ar-raḥmān dan ar-raḥīm sama-sama menunjukkan nama Dzat yang mempunyai sifat yang lembut. Imam al-Baghawi menambahkan bahwa kedua nama tersebut mempunyai makna yang sama, yakni sama-sama bermakna dzūr raḥmah (yang mempunyai sifat kasih-sayang) (al-Baghawi; 2002)

Meski demikian, terdapat pendapat lain yang membedakan antara ar-raḥmān dan ar-raḥīm, sebab asumsinya bahwa kedua lafadz tersebut dibentuk dengan dua wazān yang berbeda. Yang pertama dengan wazan fa’lān dan yang kedua menggunakan wazan fa’īl (Zamakhsyari; 2009). Kemudian hal ini dipertegas, bahwa ar-raḥmān menunjukkan makna yang umum, sedangkan ar-raḥīm menunjukkan makna yang khusus.

Sifat ar-raḥmān Allah mengandung makna pemberian rizki di dunia dan hal ini berlaku kepada makhluk-makhluk-Nya secara menyeluruh, tanpa terkecuali; baik itu hewan, tumbuhan, terutama manusia tanpa melihat apa keyakinannya.

Adapun makna yang terkandung dalam sifat ar-raḥīm yakni ampunan Allah di akhirat, dan hal ini hanya diperuntukkan secara khusus kepada orang mukmin yang beriman kepada Allah. (Baghawi; 2002)

Melalui sudut pandang lain, Imam Ibn Katsir menguatkan argumen tentang perbedaan makna dari dua kata tersebut, dengan landasan bahwa ar-raḥmān dan ar-raḥīm adalah kata jadian dari rahmah dengan bentuk mubāghah (pleonastis), di mana kata ar-raḥmān itu lebih pleonastis (mengandung kata belebihan) jika dibanding ar-raḥīm. Oleh karena itu, makna yang bisa dimunculkan yakni ar-raḥmān merupakan kasih sayang Allah di dunia dan akhirat, sedangkan ar-Raḥīm merupakan kasih sayang Allah di akhirat saja.

Meski tidak dipungkiri, terdapat pendapat lain yang mengatakan bahwa ar-raḥīm yang datang belakangan itu mempunyai makna yang lebih tinggi jika dibanding ar-raḥmān yang telah datang lebih awal.

Adapun landasannya bahwa kata ar-raḥīm yang jatuh setelah ar-raḥmān bukanlah sifat, namun lebih ke arah taukīd (penguat) dari kata ar-raḥmān. Jadi, tidaklah mungkin kata ar-raḥmān (yang dikuatkan) itu lebih tinggi maknanya jika dibanding dengan ar-raḥīm yang menguatkan makna ar-raḥmān. (Ismail ibn Katsir; 2000). Namun pendapat yang terakhir ini lemah, sebab ar-raḥīm merupakan kata sifat yang merujuk ke lafal Allah. Jadi Allah mempunyai dua sifat yakni ar-raḥmān dan ar-raḥīm.

Baca Juga: Mengapa Surat At-Taubah Tanpa Basmalah? Begini Penjelasannya Dalam Tafsir Al-Mishbah

Dengan demikian, terdapat beberapa pelajaran yang dapat diambil melalui topik pembahasan ini. Pertama, banyaknya penyebutan kata raḥima (kasih-sayang) dalam al-Qur’an mengindikasikan besarnya kasih sayang Allah kepada hamba-hamba-Nya.

Kedua, pentingnya memahami al-Qur’an melalui kitab tafsir. Sebagaimana dalam kasus perbedaan makna di atas, di mana dua kata yang berasal dari bahasa yang satu saja, dapat mengandung banyak arti.

Ketiga, menunjukkan i’jaz lughawi (kemukjizatan bahasa) yang dimiliki al-Qur’an. Jangankan untuk struktur kalimat yang panjang. Susunan dua kata saja dapat berisi makna yang luas dan sangat indah.

Dengan demikian benar Firman Allah yang menyatakan bahwa “Kalam Allah itu tidak akan pernah cukup untuk dituliskan dengan menggunakan tinta, meski tinta yang didatangkan sebanyak lautan” (QS. Al-Kahfi [18]: 109).

Maka tidak heran, jikalau kalam-kalam Tuhan itu berhasil dituliskan dalam kitab-Nya, tentu ia akan mengandung makna yang sangat luas dan tidak akan pernah habis untuk dikaji oleh manusia. Wallāhu A’lam bis Ṣhowāb.

Moh. Nailul Muna
Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Alumni Penerima Beasiswa PBSB S1 Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN Sunan Kalijaga dan Alumni Pesantren Mahasiswa LSQ Ar-Rohmah Yogyakarta.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

kedudukan guru menurut tafsir surah Hud ayat 88

Kedudukan Guru Menurut Tafsir Surah Hud Ayat 88

Seorang guru dengan kapasitasnya sebagai pengajar dan pendidik merupakan salah satu nilai inti (core value) dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, memahami definisi, kedudukan,...