Beranda Ulumul Quran Makna dan Urgensi Perumpamaan dalam Al-Quran

Makna dan Urgensi Perumpamaan dalam Al-Quran

Tidak diragukan lagi, bahwa Al-Quran merupakan kitab petunjuk yang sempurna. Petunjuk yang sempurna harus mampu diakses setiap manusia tanpa terkecuali. Bahkan, ia bisa menjangkau manusia sepanjang masa dan di setiap penjuru dunia. Artinya, Al-Quran mengandung nilai-nilai universal dan disampaikan dengan beragam metode penyampaian (uslūb).

Sebagaimana telah diketahui, Al-Quran memiliki beragam cara untuk berkomunikasi dengan manusia. Jika dicermati lebih jauh, maka Al-Quran menggunakan berbagai pendekatan. Seperti, melalui perintah dan larangan, peringatan dan kabar gembira, atau kisah dan perumpamaan. Ini semua adalah bukti bahwa Al-Quran ingin menyapa seluruh manusia dengan ragam cara yang kompatibel dengan manusia.

Nah, salah satu model yang menarik untuk dicermati adalah perumpamaan. Lalu, apa yang dimaksud dengan perumpamaan? Dan mengapa Al-Quran menggunakannya sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesannya sebagai petunjuk manusia? Mari simak penjelasannya berikut!

Baca Juga: Empat Model Al Quran dalam Menyampaikan Informasi

Makna Perumpamaan dalam Al-Quran

Secara bahasa, perumpamaan di dalam bahasa Arab disebut dengan mathal (مثل) dan bentuk pluralnya adalah amthāl (أمثال). Menurut Ar-Rāghib al-Asfahāni dalam Mufradāt fī Gharīb Al-Quran, kata mathal bermakna ungkapan penyerupaan sesuatu dengan sesuatu yang lain.

Dalam Kaidah Tafsir, Quraish Shihab menyatakan bahwa mathal dalam banyak ayat Al-Quran digunakan dalam arti sifat atau keadaan yang menakjubkan atau mengherankan, selain itu juga mempunyai arti keserupaan. Keserupaan di sini dimaksudkan agar para pembaca Al-Quran bisa mencerna dan menghadirkan gambaran visual dari apa yang diserupakan dalam Al-Quran.

Dengan demikian, filosofi dari metode perumpamaan dalam Al-Quran adalah untuk menyederhanakan konsep-konsep yang abstrak sesuai dengan pemikiran manusia. Metode semacam ini menempati posisi yang sentral dalam penyampaikan pesan. Dengan begitu, Al-Quran dapat menyampaikan nasihat dan dapat mempengaruhi jiwa-jiwa manusia yang secara sadar menghayati ayat-ayat Al-Quran.

Baca Juga: Tafsir Tarbawi: Pentingnya Metode Perumpamaan dalam Pendidikan Islam

Tiga Tujuan Perumpamaan dalam Al-Quran

Apabila kita cermati di berbagai ayat tentang perumpamaan, maka ada tiga tujuan utama perumpamaan di dalam Al-Quran. Hal ini dapat dilihat dari tiga ayat berikut:

Dalam surat Ibrahim ayat 25, setelah menyerupakan perkataan yang baik dengan pohon yang baik, disebutkan bahwa:

تُؤْتي‏ أُكُلَها كُلَّ حينٍ بِإِذْنِ رَبِّها وَ يَضْرِبُ اللهُ الْأَمْثالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Artinya: Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat”.

Selanjutnya, dalam surat al-Hasyr ayat 21, setelah menyerupakan sebagian hati dengan gunung, dan menyebutkan bahwa keterpengaruhan pada gunung lebih besar ketimbang pada hati, lalu menyebutkan bahwa:

لَوْ أَنْزَلْنا هٰذَا الْقُرْآنَ عَلى‏ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خاشِعاً مُتَصَدِّعاً مِنْ خَشْيَةِ اللهِ وَ تِلْكَ الْأَمْثالُ نَضْرِبُها لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya: “Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk umat manusia supaya mereka berpikir.

Adapun yang terakhir, dalam surat al-Ankabut ayat 40-43, setelah menyerupakan para pemimpin/pelindung (auliya’) selain Allah dengan laba-laba yang membuat rumah yang rapuh, kemudian disebutkan bahwa:

وَ تِلْكَ الْأَمْثالُ نَضْرِبُها لِلنَّاسِ وَما يَعْقِلُها إِلاَّ الْعالِمُونَ

 Artinya: “Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang mendayagunakan akalnya”.

Berdasarkan tiga ayat di atas, ada tiga tujuan utama dari perumpamaan di dalam Al-Quran, yaitu: supaya manusia mengingat (تذكر), supaya manusia berpikir (تفكر) dan supaya manusia mendayagunakan akalnya (تعقل). Artinya, melalui perupamaan, manusia diingatkan, diminta berpikir dan mendayakan akalnya, agar pesan-pesan Al-Quran dapat dipahami dengan baik oleh manusia.

Baca Juga: Tafsir Surat Yasin Ayat 9-10: Perumpamaan Bagi Orang yang Tidak Beriman

Tiga tingkatan perumpamaan

Selain itu, melalui uraian tiga ayat di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat tiga tingkatan perumpamaan yang dapat memberi pengaruh positif pada jiwa-jiwa manusia. Pertama, tingkatan “Pengingat” melalui penyampaian pesan ilahi pada pikiran manusia. Kedua, tingkatan “Berpikir” melalui pemahaman atas tema perumpamaan beserta hikmahnya. Ketiga, tingkatan “Berakal” melalui mendayagunakan akal untuk mencerna hakikat dari perumpamaan tersebut.

Tingkatan pertama untuk orang-orang yang lupa, sehingga perlu diingatkan. Tingkatan kedua untuk orang yang ingat namun belum berpikir lebih jauh. Sementara tingkatan yang ketiga adalah untuk orang yang sudah selalu ingat dan berpikir, sehingga menggunakan pikiran dan hatinya dalam membaca ayat-ayat Al-Quran.

Dengan demikian, mari kita menghayati lagi pesan perumpamaan di dalam Al-Quran. Misalkan, saat membacanya dan menemukan ayat-ayat perumpamaan, kita bisa lebih sadar untuk mengingat, berpikir dan mendayakan akal kita, sehingga pelan-pelan kita mampu menangkap pesan-pesan yang tersirat di dalam Al-Quran.

Wallahu a’lam bisawab.

Ahmed Zaranggi Ar Ridho
Mahasiswa pascasarjana IAT UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Bisa disapa di @azzaranggi atau twitter @ar_zaranggi
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

lafal-lafal khafi ad-dalalah dalam Al-Quran

Tidak Semua Lafal Mudah Dipahami: Mengenal Lafal-Lafal Khafi ad-Dalalah dalam Al-Quran

0
Dua artikel penulis sebelumnya; Mengenal lafal Wadih ad-Dalalah Dan Khafi ad-Dalalah dalam al-Quran, dan Kaidah Wadih ad-Dalalah, Contoh Pertentangan dan Cara Penyelesaiannya, baru menjelaskan...