BerandaKhazanah Al-QuranMushaf Al-QuranManuskrip Alquran dari Kertas Kuno di Museum Gusjigang Kudus

Manuskrip Alquran dari Kertas Kuno di Museum Gusjigang Kudus

Kudus merupakan salah satu kota religi yang mendapat julukan “Kota Santri”. Ada beberapa wisata religi di kota Kudus yang cukup terkenal dan ramai didatangi wisatawan dan peziarah, seperti Makam Sunan Kudus, Menara Kudus, dan Makam Sunan Muria. Selain itu, ada pula museum bernuansa religi, yaitu Museum Gusjigang.

Museum Gusjigang

Museum Gusjigang yang terletak di kota Kudus merupakan salah satu museum unik yang ada di Indonesia. Bangunan bersejarah ini menyimpan banyak koleksi. Museum bersejarah ini dibangun pada bulan Mei 2017 yang menyuguhkan miniatur Kabupaten Kudus dan juga miniatur Masjid Menara Kudus yang merupakan ikon dari kota Kudus. Museum ini terletak di Jl. Sunan Muria No. 33, Kelurahan Glantengan, Kecamatan Kota Kudus, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah.

Filosofi Gusjigang terdiri dari tiga kata kunci yaitu GusJiGang. Gus berarti bagus akhlake (berakhlak mulia), ji berarti pinter ngaji (pandai mengaji/menuntut ilmu agama), dan gang yang berarti pinter dagang (pandai berdagang/memiliki jiwa entrepreneur). Filosofi tersebut merupakan ajaran dari Sunan Kudus (Sumintarsih et al., 2016).

Baca juga: Mengenal Empat Museum Alquran di Indonesia

Museum Gusjigang banyak menyimpan koleksi menarik, seperti manuskrip kuno, lukisan kapal, ruang trilogi ukhuwah, dan miniatur Ka’bah. Selain itu, museum ini juga menyuguhkan gambar beberapa tokoh terkemuka yang ada di Kudus, seperti Sunan Muria, Sunan Kudus, Kiai Telingsing, dan masih banyak lagi.

Museum Gusjigang juga menyimpan cukup banyak koleksi manuskrip Alquran dengan nama Galeri Alquran yang menyuguhkan berbagai macam Alquran dengan berbagai macam bahan dan ukuran. Di antaranya Alquran dari bahan kertas kuno, Alquran kuno daun lontar, Alquran bahan kulit sapi, Alquran mini Istanbul Turki, dan Alquran sampul pintu Ka’bah.

Karakteristik Mushaf

Nah, sekarang pembaca akan dikenalkan lebih dalam lagi mengenai manuskrip mushaf Alquran dari kertas kuno yang menjadi salah satu koleksi di museum Gusjigang dalam sudut pandang ilmu filologi. Sebagai pengantar, filologi ialah suatu pengetahuan tentang sastra-sastra dalam arti yang luas mencakup bidang kebahasaan, kesastraan, dan kebudayaan (Baried et al., 1985).

Dalam referensi lain, filologi ialah cabang ilmu bahasa yang menelaah naskah-naskah kuno dan menentukan bentuk asli serta artinya untuk mengetahui kebudayaan bangsa yang memiliki naskah tersebut (Attas, 2017). Sasaran dari studi filologi ialah karya tulis masa lampau yang ada pada kertas, kulit kayu, papyrus, kulit binatang, dan sebagainya.

Baca juga: Syekh Husin Fallugah dan Museum Manuskrip Kajian Keislaman Terbesar di Kalimantan Barat

Mushaf koleksi museum Gusjigang tersebut berisi Alquran lengkap 30 Juz yang terbuat dari kertas kuno. Tidak disebutkan secara detail kertas apa yang digunakan, karena dalam keterangan di museum hanya tertulis kertas kuno. Naskah ini diserahkan dan disimpan di Museum Gusjigang oleh seorang kolektor Alquran di Banyuwangi, Jawa Timur.

Mansukrip ini ditulis menggunakan khat naskhi yang merupakan khat standar dalam penulisan Alquran. Khat ini bahkan dijuluki sebagai Khadim alQuran (pelayan Alquran) (Hakim, 2021). Mushaf ini ditulis menggunakan Rasm Usmani. Hal ini dapat dilihat dari penulisannya yang menerapkan kaidah Rasm Usmani seperti kaidah Hadzf.

Kondisi manuskrip ini masih cukup baik, hanya saja terdapat kerusakan kecil berupa sobekan di bagian atas halaman. Manuskrip ini memiliki sampul dengan ketebalan kurang lebih 0,5 cm, berwarna coklat, dan memiliki berat total 7,2 kg. Bagian yang diperlihatkan oleh museum ialah bagian tengah mushaf yakni surah Al-Kahf ayat 1-5. Dalam mushaf ini tidak ada penomoran ayat, halaman, keterangan nama surah, keterangan juz, serta tidak adanya tahun penulisan mushaf.

Iluminasi Mushaf

Iluminasi yang dimaksud disini ialah hiasan naskah yang bersifat abstrak dan berfungsi sebagai “penerang” bagi teks yang ditampilkan (LPMQ Kemenag, 2019). Mushaf ini memiliki iluminasi ornamen islami dengan ciri khas mushaf Nusantara, yakni motif floral (tumbuhan) yang menunjukkan kekayaan kultural bangsa (LPMQ Kemenag, 2019). Iluminasi dalam mushaf ini terdapat di dua halaman simetris kiri-kanan pada bagian awal, tengah, dan akhir mushaf. Iluminasi tengah terdapat pada awal surah al-Kahf.

Baca juga: Ilmu Rasm dalam Filologi Mushaf Alquran Kuno dan Upaya Kritik Teks

Iluminasi dalam mushaf ini menggunakan tinta warna hijau, merah, hitam, dan keemasan yang menambah kesan mewah dan elegan. Adapun ayatnya ditulis menggunakan tinta hitam dengan berbingkai persegi dengan tinta keemasan dan dihiasi motif bunga.

Sri Rejeki
Sri Rejeki
Mahasiswi IAIN Kudus
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Hikmah dan Manfaat Sosial Ibadah Haji

Hikmah dan Manfaat Sosial Ibadah Haji

0
Terdapat banyak hikmah dan manfaat sosial haji yang dapat dipetik dari pengalaman seorang muslim yang berhaji. Nilai-nilai sosial dalam ritual haji dapat diaplikasikan dalam...