Materialisme dan Konsumerisme Sebagai Tantangan Terhadap Kehidupan Muslim di Era Digital

0
99

Materialisme adalah suatu fenomena konsumsi, sehingga dapat menghasilkan gaya hidup konsumerisme. Gaya hidup konsumerisme adalah kegiatan membeli, yang mejadikan barang sebagai konsumsi penting dalam kehidupan, sehingga membeli sesuatu tidak lagi dibeli karena membutuhkan, melainkan ingin menunjukkan kepada orang lain.

Modernitas telah melahirkan penyakit materialisme dan konsumerisme yang menyasar pada kaum Muslimin di era digital. Perkembangan teknologi digital membuat gaya hidup konsumtif semakin cepat menyebar dan memengaruhi masyarakat untuk memiliki gaya hidup yang mewah.

Bagi kaum Muslimin ini menjadi tantangan tersendiri, pada hakikatnya Islam tidak melarang untuk menikmati nikmat dunia, namun perlu adanya batasan agar terhindar dari sifat berlebihan. Dengan demikian, penulis akan menerangkan bagaimana pandangan al-Qur’an terhadap fenomena ini.

أَلۡهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ حَتَّىٰ زُرۡتُمُ ٱلۡمَقَابِرَ

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.”

Ayat ini mengkritik persaingan dalam memperbanyak harta, status, dan kepemilikan yang dapat membuat kaum Muslimin lalai terhadap urusan akhirat.

Baca Juga: Perilaku Konsumtif Masyarakat Jahiliah

Asbābun Nuzūl Ayat

Q.S. At-Takatsur [102]: 1-2 turun berkenaan dengan kabilah dari Anshar yaitu Bani Haritsah dan Bani Al-Haris, yang saling membangga-banggakan dan bermegah-megahan.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Buraidah, ia mengatakan; ayat ini turun berkenaan dengan kabilah dari Anshar yaitu Bani Haritsah dan Bani Al-Haris. Mereka saling membangga-banggakan dan bermegah-megahan. Salah satu dari keduanya mengatakan; “Apakah kalian memiliki seseorang yang seperti si Fulan dan si Fulan?” Yang lain juga mengatakan hal serupa.

Mereka saling membanggakan para tokoh yang masih hidup di antara mereka. Kemudian mereka berkata, “Marilah pergi bersama kami ke kuburan.” Salah satu dari kedua kelompok itu kemudian berkata, “Apakah kalian memiliki orang meninggal yang seperti si Fulan dan si Fulan?” Mereka menunjuk ke arah kubur, sementara yang lain juga melakukan hal serupa. Maka Allah menurunkan ayat, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (As-Suyuthi, 2014: 610)

Sebagai sarana untuk memahami lebih dalam, penulis akan menerangkan pandangan para mufassir terhadap Q.S. At-Takatsur [102]: 1-2.

Baca Juga: Jahiliyah Modern: Membaca Ulang Al-Mā’idah [5]:50 sebagai Kritik Hedonisme, Materialisme dan Kemerosotan Moral

Tafsir Ayat

Sayyid Quthub dalam tafsirnya menerangkan bahwa manusia kerap kali terlena dalam kesenangan dan kenikmatan dunia. Mereka sibuk mengumpulkan harta, memperbanyak keturunan, serta membanggakan berbagai kenikmatan hidup, seakan-akan mereka miliki selamanya.

Ayat ini bertujuan menyadarkan manusia dari kelalaian, Allah memberikan peringatan yang tegas agar mereka menyadari kenyataan setelah kematian, yaitu ketika segala bentuk kesombongan dan perlombaan dunia tidak lagi berarti. (Sayyid Quthub, 1992: 408)

Buya Hamka dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini menyinggung perihal manusia yang lalai dari tujuan hidup, karena terperdaya oleh kemegahan dunia. Akibatnya, manusia melupakan akhirat, dan mengabaikan Tuhan yang telah menciptakannya. Kesibukan dunia menjadikan manusia terlengah hingga datang kematian, dan saat itulah disadari waktu telah habis untuk hal-hal yang fana. (Hamka, 1990: 8097)

Imam Asy-Syaukani menafsirkan ayat ini sebagai teguran terhadap manusia yang sibuk mengejar urusan dunia. Cinta terhadap kenikmatan dunia adalah sikap yang tercela yang dapat melalaikan manusia dari ketaatan kepada Allah. (Asy-Syaukani, 1414 H: 532)

Baca Juga: Godaan “Promo” Dunia: Tafsir Surah At-Takatsur Ayat 1

Refleksi Ayat

Surah At-Takatsur memiliki makna yang begitu besar sehingga setiap kali dibaca, muncul pertanyaan kepada diri sendiri, apa sebenarnya yang membuat lalai? Nikmat apa yang akan dimintai pertanggungjawaban?

Pada akhir surah At-Takatsur disebutkan bahwa manusia pasti akan ditanya tentang (an-na’īm), yaitu keadaan hidup atas berbagai nikmat. Rasulullah saw. bersabda:

لَو أَنَّ لِابْنِ آدَمَ وِادِياً مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ وَادِيَان، وَلَن يَملَأَ فَاهُ إِلَّا التُّرَابُ، وَيَتُوبُ الله عَلَى مَن تَابَ

“Seandainya anak cucu Adam memiliki satu lembah emas, niscaya ia tetap ingin memiliki dua lembah. Tidak ada yang bisa memenuhi mulutnya (membuatnya puas) selain tanah (kematian), dan Allah menerima taubat bagi siapa saja yang bertaubat”. HR. Bukhari (Alawi, 2006: 107)

Hadis ini menggambarkan kecenderungan manusia yang tidak pernah merasa puas atas apa yang dimiliki. Ketika memiliki suatu kenikmatan, muncul dorongan untuk memiliki lebih banyak lagi.

Ungkapan “tidak ada yang bisa memenuhi mulutnya selain tanah” merupakan kiasan bahwa keinginan atas nikmat dunia baru akan berhenti ketika manusia meninggal. Hadis ini menjadi peringatan bagi manusia agar terhindar dari sikap tamak dan tidak menjadikan dunia sebagai tujuan.

Penutup

Materialisme dan konsumerisme memberi dampak buruk bagi kehidupan Muslim. Arus perkembangan teknologi adalah manifestasi gaya hidup yang berlebihan, banyak orang lebih mementingkan harta dan penampilan dibandingkan nilai spritual.

Hal inilah yang dapat melemahkan rasa syukur serta membuat seseorang mengukur kebahagian dari apa yang dia miliki, bukan dari kedekatan dengan Allah. Problematika ini telah menggeser fokus hidup ibadah dan nilai moral menjadi kepuasan duniawi.

Oleh karena itu, untuk menghindari materialisme dan konsumerisme, seorang Muslim harus memperkuat keimanan dan kesadaran bahwa kenikmatan dunia hanya sementara, serta menanamkan rasa syukur, qana’ah, dan mengingat harta hanyalah sarana bukan tujuan hidup.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini