BerandaTokoh TafsirMaulana Abul Kalam Azad: Pemikir Muslim Kontemporer Asal India dan Kontribusinya terhadap...

Maulana Abul Kalam Azad: Pemikir Muslim Kontemporer Asal India dan Kontribusinya terhadap Kajian Al-Quran

Tulisan kali ini hendak membahas salah satu pemikir muslim kontemporer dari India, yaitu Maulana Abul Kalam Azad. Ia mempunyai salah satu karya di bidang Al-Quran yaitu Basic Concept of the Quran. Karya ini adalah bentuk kontribusinya terhadap kajian Al-Quran. Berikut biografi tentang Maulana Abul Kalam Azad dan pemikirannya tentang historisitas keilahian bagi manusia, eksistensi Tuhan, kesatuan Tuhan dan kesatuan agama.

Profil, Perjalanan Intelektual dan Karir Maulana Abul Kalam Azad

Maulana Abul Kalam Azad lahir di Makkah pada tahun 1888 dari keluarga yang ‘alim dengan nama asli Muhyiddin Ahmad. Namun, dalam perkembangan selanjutnya ia mengubah namanya menjadi Azad yang berarti bebas. Hal tersebut sebagai simbol kebebasan dirinya dari kungkungan ortodoksi dan bebas berpikir. Nama ini kemudian disandangnya hingga akhir hayatnya.

Azad belajar di bawah bimbingan ayahnya dalam lingkungan yang sangat konservatif dan juga oleh para ulama Arab yang masih merupakan teman-teman ayahnya. Azad menuntut penuh pelajaran bahasa Arab dan Persia, Filsafat, Logika, Aritmatika, yang ditempuhnya kurang dari empat tahun. Padahal ilmu-ilmu tersebut biasanya diselesaikan dalam masa empat belas tahun. Hal itu disebabkan kecerdesannya yang luar biasa, dan itu jugalah yang mendorong Azad untuk belajar secara otodidak, membaca berbagai macam buku. Bahkan di usianya yang menginjak 12 tahun, ia berkeinginan untuk menulis biografi Imam al-Ghazali

Pada masa mudanya, Maulana Abul Kalam Azad banyak mencurahkan tenaganya pada sastra dan kajian ilmiah. Ia banyak menulis artikel ilmiah di Makzan, majalah sastra yang paling terkenal saat itu. Lewat jalan inilah Azad nantinya bertemu dengan Syibli al-Nu’mani, tokoh yang yang kelak ikut berperan memengaruhi pemikirannya. Azad juga menyukai buku-buku yang ditulis oleh Sayyid Ahmad Khan, meskipun nantinya pola pikirnya berbeda dalam konteks pembebasan India.

Baca juga: Mengenal Toshihiko Izutsu, Poliglot Asal Jepang, Pengkaji Semantik Al-Quran

Maulana Abul Kalam Azad menikah dengan istrinya dengan umur yang sangat muda, yaitu 12 tahun dan istrinya yang baru berusia 8 tahun. Namun dua tahun sebelum pernikahannya ia bersama keluarganya pindah ke India dan menetap di Calcutta yang merupakan ibukota bagi penjajah Inggris di India. Berawal dari sinilah kemudian awal pemikiran Azad tentang Tuhan dipengaruhi oleh kondisi dan budaya yang di hadapinya

Dalam perjalanan yang panjang dan latar belakang historis, agama Hindu dan Islam menjadi tabu untuk saling tegur sapa. Kedua penganut agama ini dihalangi oleh tembok besar sejarah India yang mayoritas Hindu pernah dijajah selama lebih kurang delapan abad di bawah kepemimpinan Islam. Sehingga bahkan dalam konteks pembebasan India dari penjajah Inggris, kedua penganut agama ini tidak dapat disatukan.

Sekilas Tentang Basic Concept of The Qur’an: Tafsir Al-Fatihah, Kesatuan Tuhan & Agama

Secara umum, Azad ketika memahami Tuhan dalam Al-Quran mengangkat surah al-Fatihah sebagai objek kajiannya sebagaimana yang terdapat dalam bukunya Tarjuman Al-Quran dan Basic Concept of The Qur’an. Menurutnya pemahaman mengenai surah ini mengantarkan kepada makna umum Al-Quran. Demikianlah kemudian salah satu alasan penamaannya disebut Fatihah Al-Quran.

Azad memulai penafsirannya dari ayat al-hamdulillallah rabb al-‘alamin dengan memahami aspek kemanusian dari ayat tersebut. Pujian yang dimaksud adalah ditujukan kepada Allah swt. Pembatasan ini bertujuan untuk mengingatkan hati dan pikiran manusia akan kekuatan yang luar biasa yang mengatasi seluruh makhluk, sehingga aktivitas kehidupan pun hanya tertuju pada-Nya, Penafsiran ini kemudian diperkuat oleh Q.S. Ali Imran [3]: 191.

Kekuatan tersebut berhubungan dengan penggunaan kata Allah untuk menyebutkan zat tuhan, dan penggunaan term inilah yang menurut Azad mewakili kebesaran Tuhan dalam pengertian yang paling umum. Ini berbeda dengan ungkapan sifat-sifat Tuhan lainnya yang hanya mewakili satu kekuatan tertentu.

Sifat-sifat Tuhan yang dimaksudkan oleh Azad adalah kelanjutan dari penggalang ayat sebelumnya, yakni rabb al-‘alamin, al-rahman, al-rahim, dan malik al-yaumiddin. Keempat sifat tersebut digolongkan menjadi tiga bagian besar sebagaimana yang termaktub dalam Basic Consept of The Qur’an dan Tarjuman Al-Quran (rububiyyah, rahmah dan ‘adalah).

Rububiyyah (The Attribute of Providence)

Kata rububiyyah merupakan derivasi dari kata rabb yang dalam dalam bahasa Hebrew, Syirah, dan Arab berarti memelihara. Rububiyyah bagi Azad tidak sekadar bermakna pengasuhan dalam makna yang sempit. Lebih dari itu, ia bermakna sebuah pengembangan dan pemeliharaan segala sesuatu secara berkelanjutan setahap demi setahap sehingga mencapai sifatnya yang ideal di setiap tahapan tersebut. Ketika sifat ini disandarkan kepada ‘alamin, maka bentuk pengasuhan dan pemeliharaan Allah yang tidak berkesudahan secara universal, termasuk pengembangan manusia sesuai fitrah kemanusiaannya.

Baca juga: Mengenal Nasr Hamid Abu Zaid, Pengkaji Al-Quran Kontemporer Asal Tanta, Mesir

Rahmah (The Attribute of Graciousness)

Keteraturan seluruh proses kreatif Tuhan sebagaimana yang disebutkan sebelumnya, di satu sisi memperlihatkan sifat rububiyyah-nya tuhan, di sisi lain mengindikasikan karakter rahmahnya Tuhan. Sifat ini disimpulkan Azad dari dua istilah yaitu al-rahman yang memiliki rahmah, dan al-rahim yang tidak sekadar memiliki sifat rahmah, tetapi secara intens memberikan rahmah-Nya kepada seluruh makhluk tanpa terkecuali.

Adalah (The Attribute of Justice)

Tuhan tidak selalu mencurahkannya dalam bentuk lahir yang ditangkap manusia secara sederhana sebagai sesuatu yang indah dan baik, demikianlah salah satu bagian pemaknaan ‘adalah. Lebih dalam, term ini menunjukkan konsekuensi logis terhadap tindakan manusia, baik atau pun buruk. Sifat ini mengajarkan koreksi yang tidak pernah berhenti dalam kehidupan manusia, karena semua yang dilahirkan manusia dimungkinkan untuk mengandung kesalahan. (Maulana Abul Kalam Azad, Basic Concept of The Qur’an, hal 75-80)

Untuk menjustifikasi argumen tersebut, dipandang penting untuk memahami kembali term al-haq dan al-batil secara benar dan proporsional. Demikian pula term kufr, ‘adl, ‘amal salih, dan ‘udwan. Kesemua term tersebut diterapkan dalam koridor Tuhan berdasarkan sifat-sifat-Nya (rububiyyah, rahmah, ‘adalah) yang ditujukan untuk setiap makhluk.

Selanjutnya, ayat iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in dipahami Azad selain adanya unsur takhsis (keesaan Allah), juga mengindikasikan adanya kesatuan Tuhan dan kesatuan untuk seluruh makhluk yang ada di bumi. Hal tersebut didasarkan atas fakta-fakta antropologis tentang bangsa-bangsa terdahulu yang tunduk pada satu kekuatan luar biasa yang sama dalam mengatasi kehidupan mereka. Dari sini Azad berkesimpulan bahwa seluruh umat manusia dari generasi ke generasi adalah penganut monoteisme. Wallahu A’lam.

Neny Muthi'atul Awwaliyah
Neny Muthi'atul Awwaliyah
Peneliti, dosen di Fakultas Adab dan Humaniora IAIN Salatiga.
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Menyikapi Keburukan Orang Lain Tidak Harus dengan Memaafkan 

Menyikapi Keburukan Orang Lain Tidak Harus dengan Memaafkan 

0
Alquran memberikan petunjuk dan panduan bagi seseorang dalam menyikapi keburukan atau kejahatan orang lain. Solusi yang ditawarkan Alquran bersifat kondisional dan bijak, tidak serta...