Beranda Tafsir Tematik Tafsir Ekologi Membaca Ayat Antopokosmik: Menjaga Alam Kewajiban Kita Bersama

Membaca Ayat Antopokosmik: Menjaga Alam Kewajiban Kita Bersama

Semenjak tanggal 31 Oktober hingga 12 November 2021 mendatang, Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim Conference of the Parties, atau forum COP26 resmi diselenggarakan.

Kegiatan yang digelar di Glasgow, Skotlandia ini mengumpulkan para pemimpin dunia dalam rangka menuntaskan aksi dan kebijakan perubahan iklim internasional. Tidak terkecuali pimpinan bumi pertiwi, Presiden Joko Widodo, yang dengan karismatik menyampaikan fakta-fakta lingkungan hidup di Indonesia. Namun sayangnya, di tengah klaim dan negosiasi Presiden Republik Indonesia di hadapan dunia, masih berbanding terbalik dengan fakta lingkungan hidup yang terjadi.

Hingga saat ini, bencana ekologis terus berjalan di Indonesia, berita aktual beberapa hari lalu mengabarkan berita duka terjadinya banjir bandang di Desa Sumber Brantas, Kota Batu, Jawa Timur. Di lembar lain, mengutip dari WALHI, kebakaran hutan dan lahan masih banyak terjadi. Bahkan menurut cacatan FWI, masih terdapat 229 ribu Ha hutan dan lahan yang terbakar di Indonesia sepanjang tahun 2021.

Sedihnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya mineral (ESDM) malah memutuskan adanya peningkatan target produksi batu bara dari 550 juta ton menjadi 625 juta ton di tahun 2021. Artinya, suasana iklim dan lingkungan hidup Indonesia sedang tidak baik-baik saja.

Dalam kehidupan nyata, fakta krisis iklim benar adanya. Ini menjadi gelombang keresahan kedua setelah menyeruaknya wabah covid-19 di dunia. Namun sayangya, menurut Sahiron Syamsuddin dalam wawancara bersama Republika, tema ini malah jarang dijamah dalam diskursus keislaman.

Peran Indonesia sebagai negeri paru-paru dunia ini menjadi sangat penting untuk menekan suhu bumi. Upaya perlindungan planet bumi tidak boleh berhenti hanya di titik negosiasi pemimpin dunia, namun juga aksi nyata collaborative action, bumi harus segara dipulihkan bersama. Lantas, pada fakta ini, apa kaitan al-Quran dengan masa depan planet bumi?

Baca juga: Memperingati Earth Day: Simak Perhatian Al-Quran Terhadap Lingkungan

Merespons pernyataan di atas, Islam merupakan agama yang memiliki banyak perhatian terhadap alam. Tidak ada satu pun narasi Al-Quran atau hadis yang menuntun umatnya untuk bersikap apatis terhadap lingkungan. Gagasan al-Quran banyak mengajak manusia untuk menggunakan proses mental, yakni mengingat, memperhatikan, memikirkan, dan memahami “tanda” tentang ihwal Allah yang ada pada bumi. Sebagaimana pesan QS. Fussilat: 53 berikut:

سَنُرِيْهِمْ اٰيٰتِنَا فِى الْاٰفَاقِ وَفِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُ الْحَقُّ ۗ اَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ اَنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda kebesaran Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagimu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?

Baca juga: Tafsir Ekologi: Mengenal Ayat-Ayat Lingkungan dalam Al-Quran

Ayat tersebut menghantarkan manusia pada pemahaman antropokosmik. Bahwa alam semesta dan manusia merupakan satu kesatuan yang saling bertaut. Bumi diciptakan sebagai sarana ibrah bagi manusia dalam menggali rahasia Allah. Ada banyak tanda-tanda Allah yang tersimpan pada semesta. Kemudian al-Quran, mengajak manusia melihat, memikirkan, dan mentadaburi wujud manifestasi tersebut secara kritis, yakni kebesaran Allah.

Pengakuan ini menggiring manusia menemukan citra Allah, dan menumbuhkan sebuah etika yang memandang lingkungan sebagai bagian dari dirinya. Hemat kata, manusia akan meraih hikmah besar jika mampu memanfaatkan alam semesta dengan bijaksana.

Menjaga lingkungan merupakan upaya mencegah sekaligus mengobati kondisi alam yang telah mengalami degradasi. Selain ketegasan pemerintah, kesadaran sosial dan gerakan-gerakan personal harus terus digalakkan di Indonesia melalui berbagai terobosan, strategi, pendekatan, Jika bukan di bumi ini, lalu di mana lagi? Wallahu a’lam bishawab.

Baca juga: Mengenal Green Deen: Persepektif Keberislaman yang Ramah Lingkungan dan Berbasis Nilai-Nilai Qur’ani

Mufidatul Bariyah
Mahasiswa Ilmu Alquran dan Tafsir Institut Kiai Haji Abdul Chalim (IKHAC) Mojokerto, aktif di CRIS (Center for Research and Islamic Studies) Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Kitab Tafsir yang Tak Terselesaikan oleh Penulisnya

0
Melimpahnya literatur tafsir di abad ini tak lepas dari keseriusan para mufasir terdahulu dalam menyusun karya tafsir. Mereka rela mengorbankan...