Beranda Tafsir Tematik Menelisik Makna Idulfitri: Makna Ied dan Makna Fitri

Menelisik Makna Idulfitri: Makna Ied dan Makna Fitri

Hari ini, kita masih merasakan hari kemenangan umat Islam setelah sebulan penuh melaksanakan ibadah puasa Ramadhan. Hari raya Idulfitri merupakan puncak dari pelaksanaan ibadah puasa, yaitu menjadi manusia yang muttaqin dan kembali fitri kepada-Nya.

Pada kesempatan ini penulis akan mengulas makna Idulfitri dalam dua bagian, yaitu makna Ied dan makna Fitri.

Makna Ied

Ibnu Manzur dalam Lisan al-Arab mengatakan, ‘ied bermakna,

كل يوم فيه جَمْع، واشتقاقه من عاد يعود، كأنهم عادوا إليه

“Hari yang penuh kebersamaan (mampu menyatukan), di hari itu manusia kembali sebagaimana ia kembali (suci) kepada-Nya”.

Ibn Mandzur memberikan pemaknaan tersendiri terhadap redaksi isytaqaqa min ‘ada, yaitu hari di mana semua umat Islam kembali (suci dan bersatu), hari pengganti (kegundahan menjadi kebahagiaan), dan bukan permusuhan.

Sedangkan Syekh Azhari mendefinisikan kata ‘Ied dari perspektif orang Arab, yaitu waktu yang di mana semua umat Islam berbahagia dan sedih (karena Ramadhan telah berlalu) (al-waqtu al-ladzi ya’udu fihi al-farh wa al-hazn). Lebih dari itu, Ahmad Warson Munawwir dalam Kamus al-Munawwir-nya, kata ‘Ied memunculkan beragam makna, di antaranya raja’a (kembali), shara (menjadi), al-syai’ au al-amri (mengulangi), ‘alaihi (kembali kepada keadaan semula), dan nafa’ahu (mendatangkan manfaat, faedah).

Yusuf Qardhawi mendefinisikan yaum al-‘ied,

العيد هو أشبه بمحطة استراحة في رحلة الحياة، أو واحة في صحراء الحياة؛ ولذلك كانت الأمم تخترع المناسبات المختلفة من قديم لتحتفل فيها وتفرح وتمرح

“Tempat persinggahan dalam perjalanan hidup atau oase di padang pasir kehidupan. Oleh karena itu, umat manusia menciptakan sesuatu yang berbeda dari yang dulu guna bahagia, suka cita dan membahagiakan”

Hari kembali (yaum al-ied) merupakan hari kegembiraan dan kebahagiaan (yaum farah wa surur), sebaik-baik hari bagi orang mukmin baik di dunia maupun akhirat karena di hari itu keutamaan Allah swt dilimpahruahkan kepada seluruh umat Islam (afrah al-mu’minin fi dunyahum wa ukhrahum innama hiya bi fadhli maulahum) sebagaimana dilukiskan-Nya dalam Q.S. Yunus [10]: 58,

قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

Katakanlah (Muhammad), “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik daripada apa yang mereka kumpulkan.” (Q.S. Yunus [10]: 58)

Imam al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan menafsirkan redaksi bifadhillahi wa birahmatihi dengan mengutip riwayat qaul dari Ali bin al-Hasan al-Azdari, dari Abu Muawiyah, dari al-Hajjaj, dari ‘Atiyyah, dari Abi Said al-Khudri bahwa yang dimaksud bifadhlillahi ialah Al-Quran, sedangkan wa birahmatihi adalah menjadikan kamu sekalian ahl al-Quran.

Mufassir lain mengatakan, seperti al-Zamakhsyari, al-Qurtuby, bahwa yang dimaksud dengan karunia Allah swt (bifadhlillahi) adalah Islam, sementara rahmat-Nya (wa birahmatihi) adalah Al-Quran.

Tidak jauh berbeda, al-Razi misalnya, dalam Mafatih al-Ghaib, ia menafsiri ayat di atas,

والمقصود منه الإشارة إلى ما قرره حكماء الإسلام من أن السعادات الروحانية أفضل من السعادات الجسمانية وقد سبق في مواضع كثيرة من هذا الكتاب المبالغة في تقرير هذا المعنى

“Adapun maksud (isyarah) dari ayat di atas adalah merujuk kepada hukum Islam bahwa kebahagiaan ruhaniyah (al-sa’adah al-ruhaniyyah) lebih utama daripada kebahagiaan jasmaniyah atau materi (al-sa’adah al-jasmaniyyah) sebagaimana disinggung dalam kitab-kitab terdahulu”.

Berpijak pada beberapa mufasir di atas bahwa kata “Ied” memiliki beragama interpretasi. ‘Ied juga bermakna kembali kepada kesucian, rasa sedih karena ramadhan telah pergi, kembali kepada persatuan dan kesatuan, kembali kepada fitrah manusia (untuk beribadah kepada-Nya, kembali dari pribadi yang kurang baik (bahkan buruk) menuju pribadi yang muttaqin (bertakwa), dan tentunya semua itu memunculkan rasa kebahagiaan dan kegembiraan baik di dunia maupun akhirat.

Makna Fitri

Kata fitri secara bahasa berakar kata dari lafadz ifthar (afthara-yufthiru-iftharan), artinya makan pagi, sarapan, memberi makanan buka puasa. Ibn Mandzur dalam Lisan al-Arab, kata fitri bermakna naqidh al-shaum wa qad afthara (kebalikan puasa, yaitu berbuka). Kata fitri juga berdasar pada hadits Nabi saw yang termaktub dalam Fathul Bari, Sunan al-Tirmidzi, Shahih Ibn Khuzaiman Ibn Hibban wal Hakim yaitu

حدثنا محمد بن عبد الرحيم حدثنا سعيد بن سليمان قال حدثنا هشيم قال أخبرنا عبيد الله بن أبي بكر بن أنس عن أنس بن مالك قال كان رسول الله صلى الله عليه وسلم لا يغدو يوم الفطر حتى يأكل تمرات وقال مرجأ بن رجاء حدثني عبيد الله قال حدثني أنس عن النبي صلى الله عليه وسلم ويأكلهن وترا

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahim, Sa’id bin Sulaiman berkata kepada kami Hasyim, telah mengabarkan kepada kami Ubaidillah bin Abi Bakr bin Anas dari Anas bin Malik berkata, “Tidak sekali pun Rasulullah saw pergi (untuk shalat) pada hari raya Idulfitri tanpa makan beberapa kurma terlebih dahulu”. Dalam riwayat lain, “Nabi saw makan kurma dalam jumlah yang ganjil”. (H.R. Bukhari)

Berpijak pada hadits di atas makna Idulfitri adalah hari raya umat Islam untuk kembali berbuka atau menikmati hidangan bersama-sama dengan penuh kebahagiaan dan suka cita. Maka tak heran, jika salah satu sunnah sebelum melaksanakan shalat Idulfitri adalah memakan makanan atau minum meski sedikit sebagai penanda bahwa sudah waktunya berbuka dan haram untuk berpuasa.

Makna lain yang kerapkali disepadankan adalah fitrah. Fitrah bermakna kembali suci, kembali kepada kejadian atau penciptaan awal manusia. Secara istilah, dalam Mausu’ah Mafahim al-Islamiyah al-Ammah sebagaimana dinukil dari Kitab al-Kulliyat li Abi al-Baqa dan Kamus al-Muhith, kata fitrah memiliki dua arti utama;

Pertama, terkait dengan penciptaan asal mula wujud manusia itu sendiri (tata’allaqu bil khalqi wal ibtida’i wal ikhtira’i lil maujudat). Allah swt telah menanamkan fitrah-Nya kepada manusia berupa rasa kasih sayang dan keselamatan bukan sebaliknya. Lebih dari itu, fitrah manusia adalah makhluk Allah yang tunduk patuh atas segala perintahnya, beriman dan penciptaan manusia oleh-Nya diproyeksikan untuk membawa kebahagiaan dan sebagai khalifah di muka bumi.

Kedua, makna fitrah berkaitan dengan agama dan religiusitas (tata’allaqu bi al-din wa al-tadyin). Makna fitrah di sini merujuk pada iman kepada Allah swt. Hal ini termaktub dalam firman-Nya Q.S. al-Rum [30]: 30,

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui, (Q.S. al-Rum [30]: 30)

Para mufassir sepakat bahwa kata fitrah di sini bermakna agama Islam. Sebagaimana disampaikan al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan, bahwa fitrah bermakna al-Islam mudz khalaqahum min Adam jami’an, yuqirruna bidzalik (agama Islam sejak Allah swt menciptakan dari Nabi Adam hingga sekarang, dan mereka mengakuinya).

Tidak jauh berbeda, al-Razi dalam Mafatih al-Ghaib bahwa fitrah manusia adalah

أي إذا تبين الأمر وظهرت الوحدانية ولم يهتد المشرك فلا تلتفت أنت إليهم وأقم وجهك للدين

“Tatkala perkara menjadi jelas, keesaan-Nya tampak nyata sedangkan mereka (kaum musyrik) belum memperoleh petunjuk, maka berpalinglah darinya (dari kaum musyrik) dan hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam)”.

Sementara al-Suyuthi dalam al-Dur al-Mantsur ketika menjelaskan kata fitrah, menukil dari beberapa qaul, misalnya, Mujahid memaknai al-fitrah dengan agama Islam. Ibn Abi Syaibah, Ibn Jarir, Ibn al-Mundzir dari Ikrimah, al-fitrah adalah Islam. Ibn Abi Hikam dari al-Dhahhak memaknai al-fitrah dengan agama Allah di mana semua ciptaan-Nya beragama dengan agama Allah. Begitu pula al-Hakim al-Tirmidzi dalam Nawadir al-Ushul juga mengatakan hal serupa.

Dalam konteks ini, kata fitri bermakna al-fitrah sebagai kembali kepada Islam, kembali kepada agama Allah dan kembali kepada naluri keberagamaan yaitu kepada Allah swt. Setiap manusia yang dilahirkan di muka bumi telah mengandung naluri Islam dan ia terikat oleh perjanjian-Nya.

Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa Idul Fitri bermakan kembali kepada fitrah manusia, kesucian atau terbebas dari belenggu dosa dan egosentrisme sehingga berada dalam keadaan yang suci.

Hikmah Idulfitri

Hari raya Idulfitri yang tengah kita rayakan bersama keluarga dan sanak saudara tercinta mengandung dua makna, yaitu makna ketuhanan dan manusia. Idulfitri sebagai makna ketuhanan bahwa manusia tidak “boleh” melupakan Tuhannya sehingga Idulfitri tidak berdasarkan selebrasi kosong tanpa arti, melainkan diawali dengan takbir (Allahu akbar wa lillahil hamd). Lebih lanjut, Idulfitri adalah momentum untuk kembali kepada makna tauhid dan mengesakan-Nya kembali. Betapa banyak umat manusia acapkali “menduakan-Nya” dengan yang lain, harta tahta misalnya, dan sebagainya.

Akhir kata, kami menghaturkan, “Selamat Hari Raya Idulfitri 1 Syawal 1442 H”. Taqabbalallahu minna wa minkum, taqabbal ya karim. Minal aidzin wal faizin. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga amal ibadah kita semua diterima oleh Allah swt dan di tahun depan kita semua masih dipertemukan kembali dengan ramadhan dan Idulfitri dalam keadaan yang lebih baik lagi, dan menjadi pribadi yang muttaqin, serta dirindukan oleh Allah swt. Aamiin. Wallahu A’lam.

Senata Adi Prasetia
Redaktur tafsiralquran.id, Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya, aktif di Center for Research and Islamic Studies (CRIS) Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

kedudukan guru menurut tafsir surah Hud ayat 88

Kedudukan Guru Menurut Tafsir Surah Hud Ayat 88

Seorang guru dengan kapasitasnya sebagai pengajar dan pendidik merupakan salah satu nilai inti (core value) dalam proses pendidikan. Oleh karena itu, memahami definisi, kedudukan,...