Beranda Ulumul Quran Mengapa Para Pecinta Rasulullah Sulit Mengisahkan Kemuliaan Nabi Saw?

Mengapa Para Pecinta Rasulullah Sulit Mengisahkan Kemuliaan Nabi Saw?

Apa yang terjadi jika pembaca memiliki seseorang yang teramat dicinta, dapatkah memberikannya sanjungan yang memuaskan, yang mampu memberikan gambaran sepenuhnya, atau paling tidak dapat mewakili segenap perasaan yang tengah dirasa? Atau justru tak satu pun kata yang terucap? Bagaimana jika ternyata seseorang tersebut merupakan special case dan worth study, layak dipelajari?. Seseorang yang dimaksud tentulah kemuliaan Nabi Saw.

Maka tak mengherankan jika mulut para pujangga maulid, yang karyanya sering kita baca, menjadi ‘tergagap’ tatkala hendak mengisahkan kemuliaannya, shallallahu ‘alaih wa sallam. Al-Imam al-Jalil ‘Abdurrahman al-Diba‘iy dalam karyanya, al-Maulid al-Diba‘iy menyebutkan,

قَالَ بَعْضُ وَاصِفِيْهِ مَا رَأَيْتُ قَبْلَهُ وَلَا بَعْدَهُ مِثْلَهُ. فَيَعْجِزُ لِسَانُ الْبَلِيْغِ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُحْصِيَ فَضْلَهُ.

“Beberapa dari mereka yang menggambarkan Rasulullah Saw berkata, “Tak pernah aku melihat sebelumnya atau bahkan suatu hari nanti sosok seperti Rasulullah Saw”. Maka setiap tutur kata para pujangga akan menjadi lemah tatkala hendak membilang keutamaannya.”

Begitu juga dengan Al-Imam Muhammad bin Sa‘id bin Hammad bin ‘Abdullah al-Shanhajiy al-Bushiriy dalam Qashidah al-Burdah-nya, serta Al-Habib ‘Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyiy dalam maulid Simth al-Durar-nya secara berturut-turut,

فَإِنَّ فَضْلَ رَسُوْلِ اللهِ لَيْسَ لَهُ * حَدٌّ فَيُعْرِبُ عَنْهُ نَاطِقٌ بِفَمِ

“Karena sungguh keistimewaan Rasulullah tak terbatas, hingga tak satu pun lisan mampu menuturkannya”

وَعَلَى تَفَنُّنِ وَاصِفِيْهِ بِوَصْفِهِ * يَفْنَى الزَّمَانُ وَفِيْهِ مَا لَمْ يُوْصَفِ

“Betapa pun luasnya pengetahuan seseorang akan keluhurannya, hingga waktu terhenti, akan selalu ada sesuatu yang belum ia dapati”

Penyebab Sulit Menggambarkan Kemuliaan Nabi Saw

Namun demikian, selain aspek psikologis yang mendasari kesulitan pengisahan kemuliaan Rasulullah Saw. sebagaimana dapat dimengerti dari syair-syair di atas, penulis memahami adanya faktor lain yang menyebabkan hal itu terjadi. Dimana posisi Rasulullah Saw. adalah seorang nabi yang diturunkan kepadanya Al-Qur’an, hingga menciptakan sebuah hubungan yang tak terpisahkan antara pribadi Rasulullah dengan Al-Qur’an itu sendiri.

Baca juga: Tafsir Surah al-Baqarah Ayat 237: Bagaimana Mahar Jika Terjadi Perceraian dalam Pernikahan?

Hubungan ini lah yang disebut Prof. Heddy Shri Ahimsa-Putra sebagai The Living Al-Qur’an. Dalam ulasannya, Prof. Ahimsa menyebutkan bahwa Rasulullah Saw., dalam artian yang sebenarnya yakni sosok Muhammad, merupakan Al-Qur’an yang hidup. Hal ini dikarenakan kuatnya pemahaman di kalangan internal umat Islam bahwa akhlak Rasulullah Saw. merupakan Al-Qur’an.

Sehingga, dalam bingkai teori Prof. Ahimsa ini, gambaran terhadap Rasulullah Saw., etika misalnya, menjadi sangat sulit karena seorang ‘pujangga’ mau tak mau harus memahami juga nilai-nilai yang tersebutkan dalam Al-Qur’an. Padahal di sisi lain, pemahaman terhadap nilai Al-Qur’an sendiri selalu mengalami perkembangan. Maka menggambarkan (ihsha’) kemuliaan Rasulullah Saw. agaknya menjadi sesuatu yang barangkali hampir mustahil dilakukan.

Tendensi yang digunakan Prof. Ahimsa sebelumnya adalah sebuah hadis yang masyhur diriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah r.a.,

حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُبَارَكٌ، عَنْ الْحَسَنِ، عَنْ سَعْدِ بْنِ هِشَامِ بْنِ عَامِرٍ، قَالَ: أَتَيْتُ عَائِشَةَ، فَقُلْتُ: يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ، أَخْبِرِينِي بِخُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَتْ: ” كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ، أَمَا تَقْرَأُ الْقُرْآنَ، قَوْلَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ: {وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ}”

“Telah menceritakan kepada kami Hasyim bin al-Qasim, ia berkata: “Telah menceritakan kepada kami Mubarak, dari Al-Hasan, dari Sa‘ad bin Hisyam bin ‘Amir, ia berkata: “Saya mendatangi ‘Aisyah seraya berkata: “Wahai Umm al-Mu’minin, kabarkan kepadaku tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaih wa sallam.” ‘Aisyah berkata: “Akhlak beliau adalah Al-Qur’an. Tidakkah engkau membaca firman Allah (Surah Al-Qalam [68]: 4): “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (HR. Ahmad)

Baca juga: Uraian Singkat Beberapa Mufasir Indonesia Modern dari A. Hassan hingga Quraish Shihab

Dalam hadis ini terlihat bahwa Sayyidah ‘Aisyah r.a. berusaha memberikan penjelasan terhadap karakter sifat Rasulullah Saw. dengan menggunakan kandungan ayat Al-Qur’an. Yang dalam bahasa kajian saat ini dikenal dengan syarh al-hadits bi al-qur’an, dimana karakter sifat yang disebutkan menjadi representasi dari hadis nabawiy, dan ayatnya merupakan Al-Qur’an itu sendiri.

Jika demikian, adanya relasi yang terbangun antara Al-Qur’an dan hadis nabawiy, maka aktifitas menggambarkan (ihsha’) Rasulullah Saw. menjadi semakin sulit. Karena seperti halnya Al-Qur’an, kajian mengenai hadis juga terus mengalami perkembangan.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa kesulitan yang dialami oleh para pujangga maulid sebagaimana telah penulis sebutkan di awal, selain didasarkan pada faktor psikologis bahwa Rasulullah Saw. merupakan sosok yang menjadi utusan, juga disebabkan adanya tuntutan terhadap pemahaman yang menyeluruh terhadap nilai-nilai yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadis nabawiy, yang mencakup aqwal, af’al, dan taqrir. Wallahu a‘lam bi al-shawab. []

Nor Lutfi Fais
Santri TBS yang juga alumnus Pondok MUS Sarang dan UIN Walisongo Semarang. Tertarik pada kajian rasm dan manuskrip kuno.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tafsir Ahkam: Serba-Serbi Kesunnahan Memotong Kuku dalam Islam

Tafsir Ahkam: Serba-Serbi Kesunnahan Memotong Kuku dalam Islam

0
Islam memberikan perhatian terhadap kebersihan dan kerapian penampilan. Ini ditunjukkan dengan disyariatkannya kesunnahan memotong kuku. Aktivitas memotong kuku, meski tampak remeh, memperoleh perhatian dalam...