Beranda Ulumul Quran Mengenal Makna Majaz dalam Al-Quran

Mengenal Makna Majaz dalam Al-Quran

Upaya memahami makna Al-Quran tidak bisa melewatkan pembahasan tentang majaz. Sebagai kitab suci yang memuat sisi kemukjizatan sastra tertinggi, Al-Quran menyimpan sekian banyak kata dan susunan yang dinilai sebagai majaz. Sejatinya, nilai keindahan sastra yang terkandung dalam ungkapan Al-Quran merupakan ruh dari ungkapan itu sendiri.

Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal istilah ‘majas’ sebagai model atau gaya bahasa yang diperoleh dari kekayaan bahasa itu sendiri. Tidak jauh berbeda dengan Istilah ‘majaz’ yang digunakan untuk memahami makna al-Quran, Sayyid al-Hasyimi dalam kitab Jawahirul Balaghoh bab majaz menjelaskan, majaz merupakan perpindahan makna dasar kepada makna lainnya, atau pelebaran medan makna dari makna aslinya disebabkan indikator tertentu.

Secara etimologis, majaz berasal dari bahasa Arab yang seakar dengan kata tajawaza (تجاوز), Menurut para ulama ilmu bayan istilah majaz adalah susunan yang pertalian lafadz-nya saling menyerupai disebabkan penggunaannya yang luas. Sedangkan menurut M. Quraish Shihab dalam Kaidah Tafsir-nya, majaz bermakna pengalihan makna dasar dari suatu lafadz atau susunan kata ke makna lainnya disebabkan adanya indikator yang mendukung pengalihan makna tersebut.

Secara umum, terdapat dua pembagian majaz, yakni majaz lughawi atau mufrad dan majaz Isnad atau ‘aqli, kedua majaz ini juga terbagi dalam beberapa bagian, majaz mursal dan majaz isti’arah bahkan sebagian ulama menambahkannya dengan majaz kinayah. Namun bukan disini tempat kita memerinci, yhang ditekankan dalam tulisan ini hanya beberapa contoh dari Al-Quran sebagai pertanda betapa menarik pesan-pesan yang disajikan oleh Al-Quran.

Baca juga: Multi Meaning dalam Kosakata Al-Quran

Pertama, majaz lughawi, dinamakan majaz lughawi karena berkaitan dengan konteks kata dasar yang berdiri sendiri, misalnya kata asad اسد, kata yang memiliki makna singa ini dapat dialihkan maknanya sebagai binatang yang digelari “raja hutan”, gelar ini juga dapat diistilahkan sebagai seorang pemberani. Pengalihan ini bisa terjadi disebabkan alasan tertentu yang mendukungnya. Salah satu contohnya, sebagaimana terekam dalam Al-Quran surah al-Rahman ayat 27:

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ

Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu.

Lafadz وَجْهُ (wajah) yang dimaksud pada ayat ini bukan mengambil makna sebagaimana wajah anggota tubuh pada umumnya, melainkan dimaknai sebagai ذات  (Dzat) Tuhan. Dalam hal ini, majaz yang termuat adalah makna luasnya bukan makna asli dari makna tersebut.

Kedua, majaz isnad atau ‘aqli, maksud dari majaz ini adalah penisbatan suatu aktivitas atau yang serupa dengannya karena adanya keterkaitan antara kedua kata tersebut. Keterkaitan tersebut beraneka ragam, bisa karena waktu dan peristiwanya, sebagian dari makna keseluruannya dan masih banyak lagi. Misalnya, contoh dalam konteks waktu dan peristiwanya, dilukiskan dalam firman Allah atas peristiwa hari kiamat sebagaimana berikut;

يَوْمَ يَجْعَلُ الْوِلْدَانَ شِيْبًا

Hari yang menjadikan anak-anak beruban (QS. al-Muzammil 73:17)

Yang dimaksud “hari” dalam ayat di atas bukan sebagaimana yang menjadikan mereka demikian, akan tetapi “peristiwa” menakutkan yang terjadi pada hari tersebut. Pada titik ini, terdapat keterkaitan antara peristiwa yang terjadi dan hari yang dimaksud dalam ayat ini.

Baca juga: Jenis-Jenis Teks Alquran yang Belum Banyak Diketahui

Contoh majaz isnad yang menjelaskan sebagian dari makna keseluruannya dapat dilihat dalam redaksi Al-Quran ketika merekam perkataan Nabi Ibrahim (QS. al-An’am: 79);

اِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِيْ فَطَرَ السَّمَوَتِ وَالاَرْضَ حَنِيْفًا وَمَا اَنَا مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

“Sesunggunya aku mengarahkan wajahku dengan lurus kepada Dia yang menciptakan langit dan bumi dan aku tidak termasuk kelompok yang mempersekutukan Allah”

Meski pada ayat diatas hanya menyebut “wajah” namun yang dimaksud dalam lafadz ini mencakup totalitas diri manusia, lafadz wajah dipilih karena dianggap dapat mewakili totalitas tersebut.

Segala sesuatu yang berhubungan dengan Al-Quran selalu mengandung hikmah yang tersimpan didalamnya, tidak terkecuali faedah penggunaan majaz, dalam Kitab al-Khulaashah fi ‘Ilmu al-Balaghah di jelaskan beberapa faedah penggunaan majaz:

  1. Meringkas ungkapan yang ingin disampaikan.
  2. Memperluas makna lafadz.
  3. Menyajikan pemaknaan yang paling logis melalui ilustrasi yang paling dekat dengan akal fikiran.

Demikian sekilas penjelasan tentang majaz, semoga membantu untuk merasakan betapa indah susunan kalam ilahi itu. Wallahu A’lam.

Mufidatul Bariyah
Mahasiswa Ilmu Alquran dan Tafsir Institut Kiai Haji Abdul Chalim (IKHAC) Mojokerto, aktif di CRIS (Center for Research and Islamic Studies) Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Dasar legalitas badal haji

Dasar Legalitas Badal Haji

0
Baru-baru ini, Kemenag memberi pernyataan akan memberikan badal haji pada jemaah Indonesia yang meninggal dunia saat menunaikan ibadah haji. Hal ini menyusul kabar adanya...