Beranda Khazanah Al-Quran Mengenal Mushaf Al-Qur'an Blawong Gogodalem yang Dianggap Mistis (Part 1)

Mengenal Mushaf Al-Qur’an Blawong Gogodalem yang Dianggap Mistis (Part 1)

Memang benar dikatakan jika Indonesia menyimpan begitu banyak khazanah naskah kuno. Kendati telah dilakukan berbagai upaya katalogisasi, jumlah yang belum tercatat kemungkinan lebih banyak katimbang yang sudah tercatat. Apa yang hendak penulis ulas kali ini mungkin diantara naskah-naskah yang belum banyak tereksplor publik. Koleksi milik warga Gogodalem, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang yaitu mushaf al-qur’an blawong Gogodalem.

Desa Gogodalem terletak di Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Jaraknya yang cukup jauh dari pusat kabupaten, sekitar 36 km ke arah tenggara, serta letaknya yang agak tinggi membuat Gogodalem menjadi desa yang asri dengan potensi wisata yang cukup beragam. Didukung dengan kemudahan akses jalan dan keindahan view alam di sepanjang perjalanan.

Secara geografis, letak Desa Gogodalem tidak jauh dengan daerah Ngaliyan, Kota Semarang. Sehingga jika ditempuh dari arah kota, perjalanan memakan waktu sekitar 1,5 jam dengan sepeda motor. Namun sayangnya, naskah ini masih jarag diketahui oleh pengkaji naskah dan para akademisi lainnya. 

Penulis Mushaf Al-Qur’an Blawong Gogodalem

Adalah naskah mushaf kuno. Masyarakat Desa Gogodalem biasa menyebutnya dengan Mushaf Blawong atau Qur’an Blawong. Menurut kepercayaan masyarakat setempat, naskah yang saat ini tersimpan di Masjid At-Taqwa Gogodalem ini merupakan tulisan tangan asli Mbah Jamaluddin, salah satu awliya’ yang menjadi cikal-bakal Desa Gogodalem selain Mbah Nitinegoro dan Mbah Marto Ngasono.

Baca juga: Perbedaan Fungsi Mushaf dan Tafsir dalam Internal Umat Islam

Menurut informasi yang diberikan oleh Kiai Ahsin, juru kunci mushaf yang juga dzuriyah Mbah Nitinegoro ke-14, Mbah Jamaluddin hidup sebelum masa Mbah Nitinegoro dan Mbah Marto Ngasono. Makamnya dapat diziarahi di sekitar komplek Makam Sentono Gogodalem. Mbah Jamaluddin juga diriwayatkan memiliki tiga saudara, yakni Mbah Basyaruddin, Mbah Sirojuddin dan Mbah Tholabuddin. Dan konon, salah satunya -yaitu Mbah Basyaruddin- juga memiliki Mushaf Blawong yang berada di Desa Pringapus, Kabupaten Semarang.

Tiga Makna Kata Blawong

Ada beberapa riwayat yang penulis terima berkaitan dengan maksud dari kata blawong. Dari penuturan Amin Musthofa, putra Kiai Ahsin, ada setidaknya tiga makna dari kata blawong. Pertama, kata blawong berasal dari bentuk mblawur dalam Bahasa Jawa yang berarti kabur, tidak jelas. Makna ini merujuk pada bentuk dan model penulisan tangan Mushaf Blawong yang kadang menyulitkan mereka yang hendak membacanya, sehingga dibutuhkan kemampuan dan keterampilan khusus.

Kedua, ia berarti sebuah mushaf yang dikeramatkan karena lahir dari buah tulisan tangan asli. Dan ketiga, kata blawong merujuk pada konten-konten mistis yang ada dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang lantas diresepsi sebagai ‘kitab dukun’. Arti kedua dan ketiga ini lebih dipandang sebagai asal kata secara mistis.

Baca juga: Ilmu Rasm dalam Filologi Mushaf Al-Quran Kuno dan Upaya Kritik Teks

Selain riwayat dari Amin ini, penulis mendapati sebuah kajian yang telah dilakukan Pipit Mugi Handayani tahun 2008 di Pringapus menyebutkan bahwa kata blawong memiliki dua versi arti sesuai asal gabungan katanya. Pertama, mbelani wong atau secara literal berarti membela seseorang. Dan kedua, mbelaheni wong atau berarti mencelakakan seseorang. Dua arti ini merujuk pada fungsi Mushaf Blawong yang dulu dijadikan sebagai media bersumpah. Sehingga ia akan memberikan kemanfaatan atau kemudaratan tergantung pada perbuatan pelaku sumpahnya.

Amin Mustofa menceritakan bahwa dahulu Mushaf Blawong ini berjumlah lima buah. Empat naskah yang tersisa saat ini ditambah satu lagi naskah yang hilang. Menurutnya, naskah yang hilang adalah justru naskah terindah dari kelima naskah yang ada, dengan penggunaan tinta berwarna emas. Hilangnya naskah ini setelah sebelumnya sempat dibawa ke Istana untuk mendapatkan penghargaan dari Presiden yang kala itu masih dijabat oleh Soeharto.

Baca juga: Benarkah Mencium Mushaf Al-Quran Itu Bid’ah?

Sementara empat naskah yang masih tersisa kini telah terdaftar dengan masing-masing berkode BRI 82, BRI 83, BRI 84 dan BRI 85. Deskripsi singkat keempatnya akan penulis sajikan pada tulisan di part berikutnya, insyaAllah.

Nor Lutfi Fais
Santri TBS yang juga alumnus Pondok MUS Sarang dan UIN Walisongo Semarang. Tertarik pada kajian rasm dan manuskrip kuno.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Fungsi Gramatika dalam Pemahaman Ayat Alquran

Empat Fungsi Gramatika dalam Pemahaman Ayat Alquran

0
Pemahaman Alquran berawal dari susunan kalimat yang ditampilkannya. Alquran berbahasa Arab, di dalamnya memuat rangkaian fungsi kalimat dengan ragam bentuk kalimat. Setiap fungsi kalimat...