Beranda Ulumul Quran Mengenal Terma-Terma Perempuan dalam Al-Quran

Mengenal Terma-Terma Perempuan dalam Al-Quran

Perempuan menjadi salah satu tema yang masih banyak dibahas dan diperdebatkan. Al-Quran menjelaskan terma perempuan dengan menggunakan tiga kata yaitu al-mar’ah, an-nisa dan al-untsa. Adanya kesalahan penafsiran yang dianggap masih mengandung budaya patriarki salah satunya dikarenakan mufasir tidak bisa membedakan tiga terma perempuan dalam Al-Quran tersebut.

Tiga terma ini sebenarnya mempunyai perbedaan yang sangat signifikan. Dalam buku Argumen Kesetaraan Jender dalam Al-Quran, Nasaruddin Umar menjelaskan perbedaan ketiga terma perempuan dalam Al-Quran.

Baca Juga: Mengapa Al-Quran Memperhatikan Perempuan? Inilah Alasannya

Pertama,  kata al-mar’ah atau imraah. Menurut Ibn al-Anbari, kata al-mar’ah dan al-imra’ah mempunyai arti yang sama yaitu perempuan. Sebagaimana al-mar’, kata al-mar’ah menunjukkan arti kedewasaan dan kematangan (al-kamilah).

Itulah sebabnya dalam Al-Quran kata imraah yang terulang sebanyak 13 kali selalu diartikan dengan istri seperti istri Nabi Nuh dalam QS. at-Tahrim [66]: 10, kemudian QS. al-Qashash [28]: 9 tentang istri Fir’aun, QS. Ali-Imran[3]: 35 juga menunjukkan kisah istri Imran. Hanya dalam QS. an-Naml saja kata imraah tidak menunjukkan istri Nabi, namun Ratu Balqis di situ adalah pemimpin sebuah kerajaan dan sudah mempunyai tanggung jawab. Ini menunjukkan bahwa kata imraah menunjukkan perempuan yang sudah dewasa.

Kedua, kata an-nisa. Kata an-nisa merupakan bentuk jamak dari al-mar’ah. Kata an-nisa juga berarti perempuan, dalam hal ini diartikan sebagai perempuan dalam konteks jender karena sepadan dengan kata ar-rijal.

Kata an-nisa terulang sebanyak 59 kali dalam Al-Quran. Dalam QS. an-Nisa [4]: 7 dan 32, kata an-nisa menunjukkan perempuan dalam arti jender. Surat an-Nisa ayat 7 yang berbunyi,

لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدٰنِ وَالْاَقْرَبُوْنَۖ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا تَرَكَ الْوَالِدٰنِ وَالْاَقْرَبُوْنَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ اَوْ كَثُرَ ۗ نَصِيْبًا مَّفْرُوْضًا

Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan Ibu-Bapak dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan Ibu-Bapak dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.

Kata an-nisa menunjukkan jender perempuan. Pembagian porsi hak dalam ayat ini tidak hanya semata-mata ditentukan secara biologis sebagai seorang perempuan dan laki-laki namun berkaitan dengan realitas jender yang ditentukan oleh adanya pengaruh budaya. Pembagian waris yang dimaksudkan dapat berubah sesuai dengan keadaan budaya dan adanya realitas yang terjadi di antara laki-laki dan perempuan. Ar-Rijal dan an-nisa dapat berganti posisi antara laki-laki dan perempuannya. Dalam ayat ini dijelaskan dengan mimma iktasabn.

Baca Juga: Kisah Al-Quran: Ratu Balqis, Pemimpin Perempuan nan Demokratis dan Diplomatis

Ketiga, al-untsa. Dalam Al-Quran kata al-untsa selalu disandingkan dengan adz-dzakar. Kata al-untsa berasal dari kata unts yang artinya lemas, lembek dan halus. Kata al-untsa mengacu pada faktor biologis.

Kata al-untsa terulang sebanyak 30 kali dalam berbagai bentuknya dan semuanya mempunyai makna perempuan dalam hal jenis kelamin. Seperti dalam QS. al-Nisa [4]: 124 yang berbunyi,

وَمَنْ يَّعْمَلْ مِنَ الصّٰلِحٰتِ مِنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَاُولٰۤىِٕكَ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يُظْلَمُوْنَ نَقِيْرًا

Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.”

Dalam ayat ini baik laki-laki maupun perempuan akan masuk surga jika keduanya mengerjakan amal kebaikan, tidak ada perbedaan di antara keduanya.

Baca Juga: Tafsir Surat Al-Ahzab Ayat 33: Perempuan sebagai Pemeran Domestik dan Publik

Ketiga terma perempuan dalam Al-Quran ini menunjukkan bahwa ada perbedaan peran di antara ketiganya, meskipun jika diartikan mempunyai arti yang sama yaitu perempuan.

Dalam terjemahan bahasa Indonesia memang semuanya diartikan dengan perempuan. Namun akan berbeda jika dilihat dalam terjemahan bahasa Inggris maka kata an-nisa diterjemahkan dengan the woman/women dan kata al-untsa dengan the female.

Ini memperlihatkan bahwa sebenarnya ada fungsi yang berbeda di antara terma perempuan dalam Al-Quran. Kata al-mar’ah menunjukkan makna perempuan dewasa kemudian an-nisamenunjukkan makna perempuan dalam hal jender, sedangkan al-untsa merupakan perempuan dari segi jenis kelamin.

Jika saja para mufasir menggunakan analisis perbedaan makna terma perempuan dalam Al-Quran tersebut sebagai landasan dalam penafsirannya, maka pembahasan tentang ayat-ayat perempuan ini lebih pas, sesuai dengan posisinya.

Siti Robikah
Pegiat Gender, Alumni Sekolah Kemanusiaan dan Kebudayaan Maarif Institute 3
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Empat Artikel Pilihan terkait Kisah Awal Mula Ibadah Kurban

Empat Artikel Pilihan terkait Kisah Awal Mula Ibadah Kurban

0
Hari raya Iduladha identik dengan pelaksanaan ibadah kurban sehingga kadang disebut pula dengan hari raya kurban. Masyarakat muslim yang berkemampuan secara finansial dianjurkan menyisihkan...