Beranda Tafsir Tematik Tafsir Tarbawi Menghormati Guru Adalah Bagian dari Jihad

Menghormati Guru Adalah Bagian dari Jihad

“Tidak akan sukses orang yang tidak menghormati gurunya”, begitulah pesan KH. Hasyim Asy’ari kepada pelajar. Kunci keberkahan dan kebermanfaatan ilmu bagi pelajar, selain rida orang tua, adalah rida guru. Pada posisi ini, orang tua dan guru sudah bisa dilihat sama. Menghormati guru juga bagian dari jihad fi sabilillah (jihad di jalan Allah). Tidak heran, orang yang sukses biasanya beriringan dengan ketawaduan kepada gurunya.

Mengingat posisi guru bagi seorang pelajar sama dengan orang tua, maka sebagai legitimasi perintah untuk menghormati guru bisa kita kaji dalam surah Al-Isra [17]: 23.

Baca Juga: Kedudukan Guru Menurut Tafsir Surah Hud Ayat 88

Tafsir Surah Al-Isra Ayat 23

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. (Q.S. al-Isra’ [17]: 23)

Dalam hal ini saya akan fokus pada kalimat walidaini dan fala takun lahuma uffin. Namun, sebelum itu, kami akan menjelaskan konteks ayat tersebut dengan merujuk pada penafsiran Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah. Menurut Shihab, konteks ayat di atas masih merupakan rumpun ayat yang berbicara tentang kesempurnaan al-Qur’an. Rumpun ayat-ayat ini berbicara tentang kaidah-kaidah etika pergaulan dan hubungan timbal balik. Kandungan ayat-ayat ini juga menunjukkan betapa kaum muslimin memiliki kedudukan yang sangat tinggi dibanding dengan kaum yang mempersekutukan Allah.

Selanjutnya, makna walidaini jika di dalam ayat tersebut secara literal diartikan dengan orang tua, maka dalam hal ini saya mengalihbahasakan menjadi guru, karena guru pada hakikatnya adalah orang tua di sekolah atau tempat pendidikan bagi pelajar. Guru juga memiliki hak untuk dihormati dan dimuliakan oleh pelajar laiknya orang tua. Maka barang siapa yang tidak menghormati gurunya, tidak akan pernah sukses selamanya, begitulah ungkapan KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama.

Yang menarik dari ayat ini, khususnya berkaitan dengan adab kepada guru adalah kata ihsana. Shihab sendiri sudah mengulas kata tersebut panjang lebar, persisnya di surah An-Nisa ayat 36. Makna ihsana, kata Shihab, setidaknya untuk dua hal. Pertama, memberi nikmat kepada orang lain, dan kedua, perbuatan baik. Karena itu, kata ihsana lebih luas dari sekadar memberi nikmat atau nafkah.

“Maknanya, bahkan lebih tinggi dan mendalam ketimbang makna adil. Karena adil adalah memperlakukan orang lain sama dengan perlakuannya kepada anda. Sedang ihsan, memperlakukannya lebih baik dari perlakuannya terhadap anda. Adil adalah mengambil semua hak anda atau memberi semua hak orang lain. Sedang ihsan adalah memberi lebih banyak daripada yang harus anda beri dan mengambil lebih sedikiti dari yang seharusnya Anda ambil”, ungkap Mufasir kenamaan Indonesia.

Sungguhpun demikian, Quraish Shihab menggarisbawahi bahwa baktinya murid kepada guru tidak sebatas ketika semasa hidupnya saja, melainkan ketika sudah wafat. Sebagai misal, ketika gurunya telah wafat, maka murid memiliki kewajiban untuk mendoakannya sehingga hubungan murid kepada gurunya tetap tersambung sampai ila yaumil qiyamah. Hal itu pula yang akan menunjang keberhasilan seorang murid dalam meniti karir hidupnya.

Redaksi berikutnya adalah fala takullahuma uffin (maka janganlah kamu berkata “uh”/ kasar” kepada keduanya). Sekadar mengucapkan kata ah (atau kata-kata kasar lainnya) kepada orang tua tidak dibolehkan oleh agama, apalagi memperlakukan mereka dengan lebih kasar. Al-Tabari dalam Jami’ al-Bayan menafsiri redaksi tersebut bahwa janganlah kalian wahai murid membentak atau berkata kasar, atau menatap guru dengan tatapan sinis dan bersabarlah atas perilaku mereka jikalau kurang elok menurut pandanganmu sebab kesabaran mereka atas dirimu ketika mendidikmu di usia belia, hitunglah/ anggaplah sebagai balasan kesabaranmu terhadap mereka, sebagaimana mereka bersabar atasmu sewaktu kecil.

Baca Juga: Lima Kriteria Seorang Guru yang Tergambar dalam Al-Qur’an

Menghormati dan meuliakan guru adalah bagian dari jihad

Ayat di atas sekalipun secara eksplisit mengandung perintah memuliakan dan kewajiban berbuat ihsan kepada orang tua, juga dapat dikontekstualisasikan untuk pelajar dalam hal menghormati guru, karena status guru sejatinya tidak jauh berbeda dengan orang tua. Jikalau orang tua adalah bapak ibu yang melahirkan anak atau orang tua biologis, maka guru adalah orang tua yang menemani, membersamai, dan membimbing serta mengajarkan ilmu dan akhlak kepada sang anak selama proses menuntut ilmu.

Menghormati dan memuliakan guru juga bagian dari jihad di jalan Allah (jihad fi sabilillah). Pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus Maha Guru Ulama Nusantara, KH. Hasyim Asy’ari mengatakan,

مَنْ تَرَكَ حُرْمَةَ الشَّيْخِ لَا يُفْلِحُ أَبَدًا

“Barang siapa yang tidak menghormati gurunya, tidak akan pernah sukses selamanya” (Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari)

Senada dengan KH. Hasyim Asy’ari, Syekh Az-Zarnuji dalam Ta’lim Muta’allim berkata,

اِعْلَمْ بِأَنَّ طَالِبَ الْعِلْمِ لَا يَنَالُ الْعِلْمَ وَلاَ يَنْتَفِعُ بِهِ اِلَّا بِتَعْظِيْمِ الْعِلْمِ وَاَهْلِهِ وَتَعْظِيْمِ الْأُسْتَاذِ وَتَوْقِيْرِهِ وَمِنْ تَعْظِيْمِ الْعِلْمِ تَعْظِيْمُ الْمُعَلِّمِ

“Ketahuilah! Sesungguhnya orang yang mencari ilmu itu tidak akan memperoleh ilmu beserta kemanfaatannya kecuali dengan memuliakan ilmu beserta ahlinya dan memuliakan guru. Termasuk memuliakan ilmu adalah memuliakan guru.”

Di era yang serba digital ini, guru lebih banyak hadir di ruang-ruang maya atau pembelajaran daring, terlebih ketika tingginya angka pandemi Covid-19. Meskipun pembelajaran dilakukan secara daring, murid tetap memiliki kewajiban untuk berlaku sopan santun. Salah satunya adalah menyimak secara seksama penjelasan guru, tidak hanya bergabung kemudian ditinggal main atau tidur.

Barangkali, hal-hal semacam ini terkadang banyak diremehkan dan dianggap enteng oleh sebagian pelajar. Hormat kepada guru merupakan sebuah kewajiban bagi seorang pelajar. Darinya kita mendapat asupan ilmu, bacaan, pengayaan perspektif dan diversitas pandangan, dan segenap keterampilan lainnya. Lewat guru pula kita bisa bertanya, berdiskusi tentang segala sesuatu yang belum kita ketahui. Guru, dalam hal ini, tidak terbatas hanya di ruang kelas atau sekolah, melainkan di pesantren, majelis taklim, tempat mengaji, maupun di tengah masyarakat, karena setiap orang yang mengajarkan satu huruf, baginya layak disebut sebagai guru.

Lebih dari itu, bentuk hormat murid kepada guru, salah satunya, adalah ketika sang guru telah wafat, dia berziarah ke makamnya dan mendoakannya serta bersedekah yang pahalanya ditujukan kepada para guru. Dalam Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya KH. Hasyim Asy’ari diterangkan bahwa seorang pelajar tidak boleh mendahului gurunya dalam menjelaskan sebuah permasalahan atau menjawab beberapa persoalan kecuali atas seizin dari sang guru.

Juga, termasuk bagian dari menghormati guru adalah pelajar tidak boleh menempati tempat duduk gurunya, tempat salatnya, dan di atas tempat tidurnya. Seandainya sang guru memerintahkan hal itu kepada muridnya, maka jangan sampai dia melakukannya, kecuali bila sang guru memang memaksa sehingga murid tidak mungkin dapat menolak untuk melakukan perintahnya.

Namun, KH. Hasyim Asy’ari memberi batasan atas perintah sang guru kepada murid. Batasan tersebut adalah jikalau perintahnya tidak bertentangan dengan syariat Islam dan mengandung maslahat (kebaikan), maka murid wajib melakukannya. Dan sebaliknya, jika bertentangan dengan syariat Islam dan mengandung mudharat (kerusakan), seperti pelecehan seksual, narkoba, dan semacamnya, maka murid wajib menolak perintah guru. Semoga kita semua mampu menghormati dan memuliakan orang tua dan guru kita sesuai dengan batas kemampuan masing-masing sehingga Allah swt. mencurahkan taufik, hidayah dan rida-Nya kepada kita semua. Wallahu A’lam.

Senata Adi Prasetia
Redaktur tafsiralquran.id, Alumnus UIN Sunan Ampel Surabaya, aktif di Center for Research and Islamic Studies (CRIS) Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Dhalla Tidak Hanya Bermakna ‘Sesat’, Simak Penjelasannya

0
Makna dhalla dalam Alquran tidak selalu diartikan sesat, tersesat atau menyimpang dari jalan yang benar. (Ar-Raghib al-Asfahani, Kamus al-Qur’an, Jilid 2, ,545). Ia selalu...