Beranda Khazanah Al-Quran Mushaf Al-Quran Perbandingan Mushaf Al-Qur’an Standar Usmani Indonesia dan Aplikasi Qur’an Kemenag

Perbandingan Mushaf Al-Qur’an Standar Usmani Indonesia dan Aplikasi Qur’an Kemenag

Seperti yang telah penulis kemukakan pada tulisan yang lalu (baca selengkapnya: Menyoal Kelaziman Waqaf Lazim dalam Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia (Part 2)), bahwa temuan perbedaan pembubuhan tanda waqaf hanya penulis dasarkan pada mushaf-mushaf cetak non-Kemenag dan aplikasi Qur’an Kemenag, tanpa merujuk pada mushaf cetak Kemenag, baik tahun 1986 atau pun 2012.

Karena tidak melakukan rujukan pada mushaf cetak ini, penulis juga memberikan catatan bahwa ada kemungkinan ditemukannya perbedaan antara Al-Qur’an Kemenag versi cetak dengan versi aplikasi. Nah, beberapa waktu yang lalu penulis mendapatkan kiriman capture gambar mushaf cetak Kemenag tahun 1986 dan 2011, yang setelah penulis bandingkan dengan versi aplikasinya memang memiliki beberapa perbedaan.

Dalam tulisan kali ini, ijinkan penulis bagikan hasil tangkapan perbedaan yang telah penulis kompilasi dan klasifikasi dalam beberapa aspek: kaligrafi, rasm ‘utsmaniy, dan tanda waqaf. Temuan perbedaan ini hanya penulis dasarkan pada research singkat dan terbatas pada objek yang sama pada tulisan sebelumnya, yakni halaman mushaf yang berisi Surah Ali Imron ayat 3-11.

Oleh karenanya, hasil temuan penulis ini boleh jadi belum merepresentasikan keseluruhan perbedaan mushaf cetak Kemenag dengan versi aplikasinya. Sehingga pintu penelitian masih terbuka lebar bagi pembaca sekalian yang memiliki minat kajian terhadap dunia permushafan Indonesia. Okay, tanpa berpanjang lebar langsung kita simak saja ulasannya.

Mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama

Objek perbandingan dalam tulisan kali ini adalah mushaf-mushaf Al-Qur’an Kementerian Agama versi cetak dan aplikasi. Versi cetak yang penulis rujuk adalah cetakan tahun 1985/1986 dengan sampul luar berwarna biru, cetakan tahun 2011 dengan sampul berwarna hijau, dan cetakan tahun 2016. Sedangkan untuk versi aplikasi menggunakan Qur’an Kemenag.

Data sementara yang penulis miliki, menunjukkan bahwa mushaf Kemenag cetakan 2011 dan 2016 merupakan remake atau barangkali penyempurnaan (?) dari edisi 2002 (edisi kedua). Mushaf edisi 2002 sendiri merupakan pembaharuan dari mushaf edisi pertama tahun 1983 yang kemudian mengalami penyempurnaan pada dua cetakan berikutnya, yakni 1984/1985 dan 1985/1986.

Perbandingan antara kedua mushaf edisi ini (edisi 1983 dan 2002) dapat pembaca rujuk selengkapnya pada kajian Zainal Arifin Madzkur berjudul Mengenal Mushaf Al-Qur’an Standar Usmani Indonesia: Studi Komparatif atas Mushaf Standar Usmani 1983 dan 2002. Diantara perubahan dan penyempurnaan yang diulas oleh Arifin adalah bentuk kaligrafi yang menjadi lebih gemuk, penyederhanaan tanda waqaf, dan pembenahan rasm ‘utsmaniy.

Sementara versi aplikasi yang penulis gunakan adalah versi 2.0.0 beta 4 dengan format android, sebagaimana tertera dalam deskripsi singkat aplikasi. Deskripsi ini juga menyebutkan bahwa ayat Al-Qur’an yang tertulis menggunakan Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia Rasm Usmani. Artinya bukan Mushaf Al-Qur’an Standar Bahriyah atau bahkan Mushaf Al-Qur’an Standar Braille.

Perbandingan Mushaf Cetak dan Aplikasi Qur’an Kemenag

Seperti yang telah penulis sebutkan di atas bahwa aspek perbandingan yang ingin penulis bicarakan mencakup 3 aspek: kaligrafi, rasm ‘utsmaniy, dan tanda waqaf. Kaligrafi dalam aplikasi Qur’an Kemenag mengalami perubahan dari mushaf cetak edisi kedua. Deskripsi singkat aplikasi menyebutkan bahwa kaligrafi (font) yang digunakan adalah Isep Misbah. Font ini berasal dari tulisan tangan kaligrafer bernama Isep Misbah yang mengalami penyesuaian dan penambahan karakter, yang karenanya dinamakan dengan Isep Misbah.

Bentuk kaligrafi aplikasi Qur’an ini mengalami perampingan dari mushaf cetak edisi kedua (2002) yang agak gemuk dan tebal, mirip dengan mushaf Bombay. Sebelumnya, mushaf cetak edisi kedua ini juga mengalami perubahan dengan penggemukan anatomi huruf dari mushaf cetak edisi pertama (1983) yang cenderung ramping.

Perubahan bentuk kaligrafi, terutama dari segi kerampingan tubuh huruf, dari yang semula ramping (mushaf 1983), menjadi gemuk (mushaf 2002), dan kembali menjadi ramping (mushaf aplikasi) agaknya terpengaruh oleh gaya penulisan modern yang cenderung ramping. Gaya penulisan modern ini barangkali dipengaruhi oleh dominasi dan hegemoni mushaf Madinah cetakan Mujamma‘ Malik Fahd yang menggunakan kaligrafi Uthman Taha yang ramping dan menimbulkan kesan elegan.

Sedangkan dari aspek rasm ‘utsmaniy, terlihat bahwa mushaf versi aplikasi telah mengalami sedikit penyempurnaan dari versi cetak baik edisi pertama (1983) maupun edisi kedua (2002). Hal ini penulis temukan pada penulisan kata والراسخون yang tidak lagi menggunakan alif madd setelah huruf ra’ dan digantikan dengan fatah berdiri.

Hal ini sesuai dengan kaidah penulisan rasm ‘utsmaniy yang menyebutkan bahwa penulisan kata yang mengikuti bentuk jama‘ mudzakar salim ditulis dengan menggunakan tanpa alif, seperti halnya pada jama‘ mu’annats salim yang ditulis dengan tanpa alif jama‘. Hanya saja, penulisan jama‘ mu’annats sudah dilakukan tanpa alif sejak mushaf cetak edisi pertama (1983).

Namun demikian, penulis tidak mengetahui sejauh mana konsistensi pembaharuan rasm ini. Apakah berlaku pada setiap penulisan jama‘ mudzakar salim yang lain atau tidak. Tetapi jika melihat kasus jama‘ mu’annats, pembaharuan ini boleh jadi berlaku secara konsisten. Selain itu, penulis juga tidak mengetahui perluasan penerapan kaidah rasm pada kaidah yang lain mengingat keterbatasan data yang penulis miliki.

Adapun aspek yang terakhir, yakni tanda waqaf, penulis tidak mendapati banyak perubahan. Namun secara umum ada beberapa pengurangan tanda waqaf pada mushaf versi aplikasi. Hal ini sebagaimana telah dibicarakan pada tulisan yang lalu, yakni waqaf lazim (mim) sebelum kata wa al-rasikhun. Namun pengurangan tanda ini agaknya memiliki implikasi yang cukup berarti pada sisi pemaknaan dan pemahaman, sebagaimana juga telah dibicarakan pada tulisan yang lalu.

Kesimpulan

Dari pemaparan perbandingan di atas dapat diketahui bahwa secara umum aplikasi Qur’an Kemenag mengalami perubahan yang positif dari mushaf versi cetak sebelumnya. Hal ini terlihat dari penempatan tanda waqaf yang lebih tepat dan penyempurnaan kaidah rasm ‘utsmaniy dalam beberapa penulisan. Selain itu, model kaligrafi yang lebih slim dan elegan juga sesuai dengan keinginan pasar pembaca mushaf modern saat ini. Wallahu a‘lam bi al-shawab.

Nor Lutfi Fais
Santri TBS yang juga alumnus Pondok MUS Sarang dan UIN Walisongo Semarang. Tertarik pada kajian rasm dan manuskrip kuno.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Khalifah Allah

Kedudukan Manusia Sebagai Khalifah Allah Swt di Muka Bumi

0
Kata khalifah secara harfiah diartikan dengan “pengganti, wakil.” Khalifah Allah berarti pengganti Allah, atau wakil Allah. Khalifatullah fil ardh, artinya “pengganti atau wakil Allah...