Beranda Ulumul Quran Pandangan Imam Al-Ghazaly terhadap Tafsir Isyari dalam Ihya Ulumuddin

Pandangan Imam Al-Ghazaly terhadap Tafsir Isyari dalam Ihya Ulumuddin

Sedikitnya ada tiga tipologi metode tafsir yang disepakati oleh sementara pengkaji tafsir Al-Qur’an saat ini, sebagaimana disebutkan Al-‘Allamah Muhammad ‘Ali al-Shabuny dalam karyanya, Al-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an. Ketiga tipologi yang dimaksud adalah tafsir bi al-riwayah, tafsir bi al-dirayah, dan tafsir bi al-isyarah.

Apabila pembaca sekalian melihat ulasan yang ditulis Imam Al-Ghazaly dalam masterpiece-nya, Ihya’ ‘Ulum al-Din, pembaca akan menjumpai tipologi lain yang cukup menarik. Dimana Al-Ghazaly menggolongkan tafsir bi al-isyarah atau isyari (selanjutnya disebut dengan isyari), merupakan bagian dari tafsir bi al-dirayah atau ra’y (selanjutnya disebut ra’y).

Meskipun hal ini tidak secara eksplisit beliau sebutkan. Akan tetapi, jika menilik keseluruhan ulasan yang beliau tuliskan, agaknya pemahaman yang didapat akan berkata demikian. Hal ini yang setidaknya didapatkan oleh penulis.

Baca Juga: Ikhwanus Shafa dan Tafsir Isyari tentang Tingkat Spiritualitas Manusia

Dalam kitab Ihya’, Imam Al-Ghazaly secara eksklusif menghimpun satu part berjudul Kitab Adab Tilawah al-Qur’an. Dari judulnya, pembaca dapat menerka bahwa konten yang disajikan dalam part ini merupakan etika-etika yang harus dipenuhi terkait tilawah Al-Qur’an.

Sebagaimana langkah metodis yang lazim ditempuh Imam Al-Ghazaly, etika-etika ini lantas diklasifikasikan dalam empat sub-sub bab, yakni Fadll al-Qur’an wa Ahlih wa Dzam al-Muqashshirin fi Tilawatih atau keutamaan Al-Qur’an, para pembacanya, dan kritik terhadap mereka yang ceroboh; Dzahir Adab al-Tilawah wa Hiy ‘Asyrah atau sepuluh adab zahir dalam bertilawah; A‘mal al-Bathin fi al-Tilawah wa Hiy ‘Asyrah atau sepuluh amal-amal batin dalam bertilawah; dan Fahm al-Qur’an wa Tafsiruh bi al-Ra’y min Ghair Naql atau memahami dan menafsirkan Al-Qur’an berlandaskan ra’y (pendapat) dengan tanpa menukil riwayat.

Apa yang penulis maksudkan sebelumnya tentang tipologi lain dari Imam Al-Ghazaly dapat dirujuk pada sub bab ketiga, yang menjelaskan amal-amal batin dalam ‘membaca’ Al-Qur’an serta sub bab keempat yang berisi penjelasan tentang kebolehan memahami Al-Qur’an dan menafsirkannya dengan berlandaskan pada ra’y.

Penggolongan tafsir isyari ke dalam ra’y terlihat pada sebuah dialog imajiner yang dilontarkan Imam Al-Ghazaly pada awal bab. Sebuah dialog yang mengantarkan pada ulasan panjang mengenai sederet argumentasi kebolehan memahami dan menafsirkan Al-Qur’an dengan ra’y.

لَعَلَّكَ تَقُوْلُ: “عَظَّمْتَ الأَمْرَ فِيْمَا سَبَقَ فِي فَهْمِ أَسْرَارِ القُرْآنِ وَمَا يَنْكَشِفُ لِأَرْبَابِ القُلُوْبِ الزَّكِيَّةِ مِنْ مَعَانِيْهِ، فَكَيْفَ يُسْتَحَبُّ ذَلِكَ وَقَدْ قَالَ صلى الله عليه وسلم: “مَنْ فَسَّرَ القُرْآنَ بِرَأْيِهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ”؟”

“Kamu mungkin bertanya-tanya, “Sungguh dirimu telah melebih-lebihkan masalah pemahaman terhadap rahasia-rahasia Al-Qur’an dan makna-makna tertentu yang akan diperoleh oleh mereka, Arbab al-Qulub al-Zakiyyah, orang-orang yang berhati bersih. Bagaimana mungkin hal itu sangat dianjurkan sementara Rasulullah Saw. telah bersabda, “Barangsiapa menafsirkan Al-Qur’an atas dasar ra’y-nya maka hendaklah ia mempersiapkan tempatnya di neraka”?”

Hubungan antara asrar al-qur’an, inkisyaf (terbukanya hati), arbab al-qulub al-zakiyyah dengan sabda Rasulullah Saw., yang biasa dijadikan argumentasi penolakan terhadap tafsir ra’y, agaknya mengindikasikan keterlibatan ra’y dalam tafsir isyari, yang dalam bahasa penulis, Imam Al-Ghazaly seolah telah memasukkan tafsir isyari ke dalam macam dari ra’y.

Hubungan ini juga dapat dikaitkan dengan arti kata ra’y, yang selain berarti i‘tiqad (keyakinan) dan qiyas (analogi), juga dapat berarti ijtihad (kerja keras, ketekunan), sebagaimana disebutkan oleh Muhammad Husain al-Dzahaby dalam Al-Tafsir wa al-Mufassirun. Jika demikian, maka segala ijtihad yang dilakukan dalam rangka memahami dan menafsirkan Al-Qur’an dapat dikatakan sebagai ra’y, termasuk suluk dan riyadlah dalam dunia tasawuf.

Pembaca tentu memahami sosok Imam Al-Ghazaly yang memiliki concern dalam dunia tasawuf. Begitu banyak karya yang beliau dedikasikan dalam bidang ini. Ihya’ ‘Ulum al-Din, Minhaj al-‘Abidin, Al-Arba‘in fi Ushul al-Din adalah sedikit dari sekian banyak daftar panjang karya beliau.

Baca Juga: Tafsir Sufistik Ibn Ajibah: Memahami Al-Quran dan Memahami Allah Swt

Selain itu, masih dalam kerangka arti kata ra’y, sering kali kata ini dihubungkan dengan kemampuan inteligensi akal. Dalam perspektif Manna‘ Khalil dalam Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, kemampuan inteligensi ini memang memiliki potensi yang luar biasa. Akan tetapi ia memiliki kelemahan tatkala dihadapkan pada nafsu yang cenderung bengkok, menyimpang. Maka tafsir isyari yang menekankan aspek kebersihan hati dan jiwa menemukan relevansinya di sini.

‘Ala kulli hal, apa yang telah penulis ulas ini boleh jadi merupakan opini subjektif penulis saat mengkaji pemikiran Imam Al-Ghazaly. Pembaca lain sangat mungkin memiliki opini lain berdasar pada pembacaan yang telah dilakukan. Wallahu a‘lam bi al-shawab.

Nor Lutfi Fais
Santri TBS yang juga alumnus Pondok MUS Sarang dan UIN Walisongo Semarang. Tertarik pada kajian rasm dan manuskrip kuno.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Mengenal Diksi Tanya Jawab dalam Alquran

Mengenal Diksi Tanya Jawab dalam Alquran

0
Salah satu diksi yang sering digunakan Alquran untuk menyampaikan informasi adalah diksi tanya jawab. Dalam kajian asbabunnuzul, disebutkan bahwa pertanyaan yang diajukan kepada Nabi...