Beranda Tafsir Tematik Penjelasan Makna Kata dalam Kalimat Basmalah

Penjelasan Makna Kata dalam Kalimat Basmalah

Kalimat basmalah adalah: بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ. Arti dari kalimat basmalah adalah: Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Kalimat basmalah ini mengandung 5 kata, yaitu بــ (bi), اسم (ism), الله (Allah), الرحمن (ar-Rahman), dan الرحيم (Ar-Rahim).

Kata-kata yang terdapat di dalamnya dapat diuraikan sebagai berikut. Kita mulai dengan menguraikan makna kata “بــــــ”.

Kata بــ dari segi kategori atau pengelompokan kata adalah sebuah preposisi (kata depan), yang disebut harf al-jarr. Harf dalam istilah ilmu bahasa Arab adalah sebuah preposisi (kata depan) yang tidak hanya memberikan makna tersendiri dalam sebuah kalimat bahasa Arab, tetapi juga mengubah tanda baca bagi huruf terakhir kata yang mengikuti. Al-Jarr adalah kata yang memberikan perubahan hukum membaca di dalam bahasa Arab sehingga kata yang mengikutinya di-jarr.

Jadi “harf al-jarr” adalah sekelompok kata di dalam bahasa Arab yang membuat kata benda sesudah dibaca dengan hukum kata yang berbunyi “i”. Ada sekelompok kata yang mempunyai fungsi yang sama dengan بـ ini. Kata yang sekelompok dengan “بــــــ” itu adalah kata-kata berikut: مِنْ (dari, daripada), إِلَى (ke, kepada), عَنْ (dari, daripada, tentang, mengenai), عَلَى (atas, di atas), فِيْ (di, di dalam, pada), رُبَّ (kadang-kala), كَـ (seperti, bagai, bagaikan, sama dengan), لِـ (bagi, untuk).

Baca Juga: Tadabbur Atas Surat Al-‘Alaq Ayat 1-5: Wahyu Pertama Perintah Membaca

Salah satu tanda baca kata yang di-jarr adalah kasrah (bunyi “i” yang terdapat di dalam kata, seperti بِاللهِ. Kata اللهُ sebelum dimasuki oleh “بــــــ” dibaca dengan bunyi “u.” Setelah dimasuki oleh “بــــــ”, kata itu dibaca dengan bunyi “i” (اللهِ).

Dari sisi maknanya, kata بـ mengandung banyak arti (makna). Salah satu di antara maknanya ialah “dengan”. Kata بـ dalam basmalah ini diartikan “dengan”. Dengan demikian, kata بـ yang dirangkaikan dengan اسم di atas mengandung arti “dengan nama”. Dari sisi fungsinya untuk mengubah tanda baca, maka kata بـ membuat kata اسم yang terletak sesudahnya dibaca dengan kasrah (tanda baca bawah) dengan bunyi “i”.

Kata سْمِ, pada dasarnya memiliki alif sebelum kata سْمِ sehingga menjadi اسْمِ. Di dalam rangkaian basmalah di dalam Al-Qur’an, kata سْمِ memang harus ditulis demikian (tanpa alif), sehingga menjadi بِسْمِ. Di dalam kitab-kitab bahasa Arab dan dalam penggunaan sehari-hari kata سم ini harus ditulis dengan اسم (dengan alifnya) sehingga berbentuk بِاسْمِ, yang berarti “dengan nama.” Bentuk seperti ini juga dapat dilihat di dalam ungkapan: مَا اسْمُكَ؟, yang berarti “Siapa namamu.” Al-Qurthubi, salah seorang mufasir, mengatakan bahwa penggunaan kata سم tanpa alif, yang digunakan dengan بـ dalam بسم selalu digunakan seperti itu.

Sementara dalam kata yang lain, kata itu harus digunakan dengan alif, karena jarang digunakan seperti itu. Perhatikan bentuk kata itu dalam ayat: اقرأ باسم ربك الذي خلق, yang ditulis dengan alif.

Kata سم yang tanpa alif dan kata اسم yang ditulis dengan alif tetap mengandung makna yang sama, yaitu berarti “nama”. Kata ini adalah bentuk mufrad (tunggal). Jamaknya adalah أَسْمَاءٌ yang berarti “nama-nama”. Tidakkah kita sering menggunakan kata ini, seperti dalam ungkapan الأَسْمَاءُ الْحُسْنَى (nama-nama yang paling indah/baik).

Karena itulah, maka بِسْمِ dalam rangkaian kata basmalah itu tetap diartikan “Dengan nama”. Kata اسم sebelum dimasuki oleh kata بـ harus dibaca dengan اسمُ. Setelah dimasuki oleh kata بـ harus dibaca dengan kasrah (tanda baca “i”) sehingga berbunyi بسمِ.

Kata الله yang terdapat di dalam Basmalah, di dalam Al-Qur’an maupun di dalam bahasa Arab adalah lafzhu al-jalālah (lafal (kata) yang agung). Ada beberapa pendapat ulama tentang hakikat dari kata الله itu. Ada yang berpendapat bahwa kata الله dilihat dari sisi bahasa adalah sebuah kata yang mendapat tambahan ال (alif dan lam). Kata dasarnya adalah إِلَهٌ yang berarti “suatu tuhan.” Dalam keadaan ini huruf “t” yang ada pada kata itu ditulis dengan huruf kecil, bukan huruf besar (kapital). Jamak dari kata ini adalah آلِهَةٌ, yang berarti “tuhan-tuhan.” Setelah ditambah ال pada kata إِلَهٌ, maka kata إِلَهٌ menjadi الله, yang berarti “Tuhan (itu)”. Yang dimaksud dengan Tuhan itu adalah Allah.

Pendapat ini dinilai oleh ulama yang lain tidak terlalu kuat karena argumen yang diberikan juga tidak kuat sehingga ulama lain tidak menyetujui kata الله diuraikan seperti itu. Tetapi, kata الله itu, menurut pendapat mereka, adalah nama dari sebuah Zat Yang Maha Suci, Yang Maha Esa, Yang Maha Tinggi dan Agung, wajib adanya, dan tidak bersekutu dengan sesuatu apa pun.

Perhatikanlah penggunaan kata إِلَهٌ dan kata الله dalam ungkapan atau kalimat tahlil sebagai berikut: لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ yang berarti: “Tidak ada tuhan selain Allah.” Jadi kata الله adalah nama Tuhan.

Ibn Katsir, seorang pakar tafsir, berpendapat bahwa الله merupakan nama bagi Tuhan Yang Maha Agung dan Maha Tinggi, yang memiliki segala sifat-sifat yang sempurna, seperti yang digambarkan di dalam Al-Qur’an, S. Al-Hasyr [59]: 23 yang menyatakan:

هُوَ ٱللَّهُ ٱلَّذِي لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلۡمَلِكُ ٱلۡقُدُّوسُ ٱلسَّلَٰمُ ٱلۡمُؤۡمِنُ ٱلۡمُهَيۡمِنُ ٱلۡعَزِيزُ ٱلۡجَبَّارُ ٱلۡمُتَكَبِّرُۚ سُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ عَمَّا يُشۡرِكُونَ ٢٣

“Dialah Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, yang Maha Suci, yang Maha Sejahtera, yang Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha perkasa, yang Maha Kuasa, yang memiliki segala Keagungan, Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”

Baca Juga: Akhlak Nabi saw yang Mempersatukan Umat dan Tafsir Surat At-Taubah Ayat 107-109

Al-Qurthubi, juga pakar tafsir lainnya, menyatakan bahwa Allah itu adalah nama yang paling besar dari nama-nama Allah. Ia adalah nama bagi wujud yang maha benar, yang menghimpun segala sifat ketuhanan, yang tidak ada Tuhan selain Dia.

Dari sisi tanda baca dapat dikatakan bahwa kata اللهِ di dalam kalimat basmalah itu dibaca dengan kasrah (berbunyi “i”) berstatus (berkedudukan) sebagai kata yang disandarkan oleh kata اسم yang terdapat sebelumnya. Dalam kajian ilmu bahasa Arab, hubungan antara kata اسم dan kata الله disebut idhāfah (disandarkan satu sama lain), yang menunjukkan arti milik atau kepunyaan”, sehingga اسم disebut mudhāf (kata yang disandarkan kepada kata الله dan الله disebut mudhāf ilaih, adalah kata yang disandari oleh kata اسم. Artinya adalah “Dengan nama Allah, nama (milik) Allah, nama (kepunyaan) Allah.” Seringkali kata بسم الله itu diartikan dengan “Dengan (menyebut) nama Allah.” Wallahu A’lam.

Ahmad Thib Raya
Guru Besar Pendidikan Bahasa Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dewan Pakar Pusat Studi Al-Quran (PSQ)
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tafsir Tartib Nuzul: al-Tafsir al-Hadits karya Muhammad ‘Izzat Darwazah

Tafsir Tartib Nuzul: al-Tafsir al-Hadits karya Muhammad ‘Izzat Darwazah

0
Telah saya sebutkan di tulisan sebelumnya bahwa saya menemukan sekurangnya empat tafsir model Tartib Nuzul, yaitu Bayan al-Ma’ani karya Abdul Qadir Mulla Huwaisy, al-Tafsir...