Beranda Khazanah Al-Quran Tradisi Al-Quran Ruwah: Momentum Pembersihan Hati

Ruwah: Momentum Pembersihan Hati

Bagi masyarakat Islam Jawa, bulan Syakban menempati posisi yang cukup penting. Posisi ini terutama dikaitkan dengan hubungan yang terjalin antara mereka yang hidup dan mereka yang telah meninggal. Itu lah sebabnya, sebagian masyarakat muslim Jawa menyebut bulan Syakban dengan nama ruwah.

Prof. Mudjahirin Thohir menjelaskan bahwa kata ruwah merupakan metatesis dari kata arwah dalam bahasa Arab, bentuk jamak dari kata ruh. Proses metatesis ini agaknya berkaitan dengan aktifitas yang dilakukan oleh masyarakat Islam Jawa atas mereka yang telah meninggal. Sebuah aktifitas yang lazim disebut dengan ruwahan.

Ada cukup banyak ragam aktifitas ruwahan yang dilakukan, seperti ziarah kubur, kirim doa, dan bersedekah. Mereka, yang meninggal, yang menjadi tujuan utama ruwahan juga tidak terkhusus pada kerabat saja, melainkan para ulama dan wali yang dianggap suci.

Dalam konteks pemaknaan ruh, aktifitas ruwahan semacam ini merupakan implementasi sebagian dari keseluruhan makna yang dimiliki. Kata ruh, sebagaimana dibakukan dalam bahasa Indonesia dengan redaksi roh, setidaknya memiliki tiga makna yang berbeda.

Makna yang terimplementasi dalam aktifitas ruwahan cenderung pada makna yang menyebut bahwa roh adalah makhluk hidup yang tidak berjasad, tetapi berpikiran dan berperasaan. Hal ini dikarenakan roh leluhur bagi masyarakat Islam masih dianggap memiliki kehidupan, kendati pun tidak berjasad.

Berpijak pada pemaknaan ini, ada kemungkinan implementasi lain dari metatesis kata ruwah yang menganggap penting unsur rohani. Implementasi yang didasarkan pada pemahaman sufistik terhadap kata ruh dan nafs dalam Alquran melalui perspektif yang disajikan Al-Ghazaliy dalam Al-Araba‘in fi Ushul al-Din.

Berbeda dari pemahaman masyarakat Islam Jawa, Al-Ghazaliy memahami ruh sebagai al-jauhar al-‘arif al-mudrik min al-insan. Pemahaman ini oleh KBBI dikatakan bahwa roh adalah unsur yang ada dalam jasad yang diciptakan Tuhan sebagai penyebab adanya kehidupan.

Dalam struktur penyusun kehidupan manusia, ruh (unsur batin) ini menurut Al-Ghazaliy memiliki posisi yang lebih penting ketimbang jasad (unsur fisik). Hal ini sebagaimana telah diisyaratkan dalam surah Shad [38] ayat 71-72 dan surah Alisra’ [17] ayat 85, sekira Allah menyandarkan keberadaan ruh kepada-Nya.

إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِنْ طِيْنٍ. فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُوْحِيْ.

“Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Kemudian apabila telah Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan roh (ciptaan)-Ku kepadanya.”

قُلْ الرُّوْحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّيْ

“Katakanlah (Muhammad): “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku.””

Baca juga: Peristiwa Bersejarah Islam dalam Bulan Syakban: Peralihan Kiblat

Implementasi ruh dalam pemaknaan ini oleh Al-Ghazaliy dipahami dengan adanya aktifitas tazkiyah al-nafs atau pembersihan hati, seperti telah disebutkan dalam rangkaian surah Asysyams [91] ayat 7-10,

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا. فَأَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوَاهَا. قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا. وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا.

“Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”

Sebagai catatan, Al-Ghazaliy menjelaskan bahwa kata ruh dan nafs dalam ketiga ayat di atas merupakan muradif atau sinonim.

Menariknya, aktifitas tazkiyah al-nafs yang diisyaratkan surah Asysyams di atas merupakan aktifitas yang menurut Allah sangat penting. Buktinya, dalam rangkaiannya, ia diperkuat dengan tujuh sumpah yang dikaitkan dengan seluruh entitas bumi dan langit beserta seluruh elemen di dalamnya, yakni ayat 1-7.

Lebih jauh, tazkiyah al-nafs sebagai implementasi pemaknaan ruh ini oleh Al-Ghazaliy secara khusus ditekankan dalam aplikasi husn al-khuluq atau etika yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah saw. bersabda,

بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ

“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia.”

Tazkiyah al-nafs dan husn al-khuluq adalah dua aktifitas berbeda yang harus berjalan beriringan. Ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Tazkiyah al-nafs adalah membersihkan hati dari segala etika buruk. Sedangkan husn al-khuluq adalah menghias hati dengan etika yang baik. Dalam bahasa lain, dua aktifitas ini disebut dengan takhalliy dan tahalliy (baca selengkapnya dalam Mengkaji Takhalli dan Tahali ala Imam Al-Ghazaliy).

Berdasar pada penjelasan Al-Ghazaliy ini, aktifitas ruwahan tidak melulu diselenggarakan melalui aktifitas yang berorientasi eksternal, yakni aktifitas yang tidak memiliki orientasi langsung kepada pelaku. Ia juga aktifitas yang memiliki orientasi internal. Selain itu, tazkiyah al-nafs sebagai implementasi ruwahan juga dapat memberikan sumbangsih yang signifikan terhadap kehidupan sosial beragama. Wallahu a‘lam bi al-shawab. []

Baca juga: Surah Al-Fajr Ayat 27: Bagaimana Manusia Mencapai Ketenangan Jiwa?

Nor Lutfi Fais
Santri TBS yang juga alumnus Pondok MUS Sarang dan UIN Walisongo Semarang. Tertarik pada kajian rasm dan manuskrip kuno.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Hukum Menikah dengan Tunasusila dalam Islam

Hukum Menikah dengan Tunasusila dalam Islam

0
Salah satu aspek kehidupan yang tak luput dari aturan agama adalah urusan pernikahan. Bukan hanya membahas terkait bagaimana membangun rumah tangga yang baik, syariat...