Beranda Khazanah Al-Quran Sanggahan Terhadap Pandangan Orientalis Christoph Luxenberg: Problematika Pembacaan Ulang Al-Qur’an Menggunakan Bahasa...

Sanggahan Terhadap Pandangan Orientalis Christoph Luxenberg: Problematika Pembacaan Ulang Al-Qur’an Menggunakan Bahasa Syiriak-Aramaik

Kajian studi Al-Qur’an beserta disiplin ilmu yang menopangnya semakin hari semakin menarik untuk dikaji, tidak hanya umat Islam, pun demikian bagi para pemerhati Islam di Barat. Hal ini, selain karena Al-Qur’an menjadi kitab suci yang diyakini bersumber dari wahyu sekaligus pedoman bagi pemeluknya, juga karena Al-Qur’an menyisakan banyak misteri yang membuat para Orientalis tertarik dan tertantang untuk mengkajinya. Salah satunya ialah pandangan orientalis Christoph Luxenberg terhadap kajian linguistik Al-Qur’an. Sehubungan dengan itu, penulis hendak menyajikan bagaimana linguistik Al-Qur’an dalam pandangan Christoph Luxenberg dan bantahan pengkaji keislaman atas kajian tersebut.

Selayang Pandang tentang Christoph Luxenberg

Christoph Luxenberg ialah satu diantara orientalis yang tertarik mengkaji Al-Quran. Luxenberg sendiri merupakan nama samaran dari Ephraem Malki. Adapun alasan Luxenberg menggunakan nama samaran menjadi Christoph Luxenberg ialah agar menjaga dirinya dari berbagai bahaya. Ia merupakan warga negara Jerman yang berasal dari Lebanon, penganut fanatik Kristian (Syriac Orthodox), memperoleh gelar M.A. dan Dr.Phil dalam bidang Arabistik. Pada 28 Mei 2003 yang lalu ia sempat dijemput memberikan syarahan di Universitat des Saarlandes berkenaan pengaruh bahasa Aramaik ke atas bahasa al-Qur’an (Der Einfluss des Aramaischen auf die Sprache des Korans). Di samping bertugas sebagai pensyarah, ia juga aktif menulis dan memberikan interview untuk media masa.(Syamsudin Arif, 2005).

Baca juga: Tiga Karakter Pemuda Ideal Menurut Al-Qur’an

Pemikiran Christoph Luxenberg Terhadap Linguistik Al-Quran

Dalam bukunya yang telah diterjemah ke dalam bahasa Inggris yang bertajuk The Syro-Aramaic Reading of The Quran: A Contribution to the Decoding of the Quranic Language (Cara Membaca al-Qur’an dengan bahasa Syiriak-Aramaik: Sebuah Sumbangsih Upaya Pemecahan Kesulitan Memahami Bahasa Al-Qur’an), Luxenberg kemudian melontarkan kritik terhadap otentisitas bahasa Al-Quran. Menurutnya, ada banyak hal yang harus direkonstruksi dan diulik kembali dalam Al-Quran, yakni mengenai asal bahasa Al-Quran. Baginya, bahasa asli Al-Qur’an bukanlah berbahasa arab melainkan banyak dipengaruhi oleh bahasa Syiriak-Aramaik. Metode pengkajian Luxenberg ini sebenarnya bukan produk baru. Sebelumnya, Abraham Geiger juga pernah melakukan pengkajian yang sama melalui bukunya yang berjudul “Was hat Muhammed aus dem Judenthume Aufgenommen?”.

Jika ditelisik lebih dalam, pemikiran Luxenberg dan Geiger memang memiliki kesamaan, sebab idenya sama-sama berangkat dari pendekatan kritik sumber (source-critical approach). Sehubungan dengan itu, pendekatan ini sukses diaplikasikan pada Teks Injil dan Perjanjian Baru, atas dasar itu maka Luxenberg berinisiatif mengaplikasikan pendekatan yang serupa terhadap Al-Quran. Melalui pendekatan ini, Luxenberg kemudian mengidentifikasi bahwa Al-Quran mengandung multi sumber yang berasal dari Pagan, Yahudi, Zoroastrian, Christian, Mandean, Manichean dan lain sebagainya. Luxenberg juga menilai terkait banyaknya kosa kata di dalam Al-Quran yang disalah artikan oleh para sarjana tafsir muslim sehingga menghasilkan makna-makna yang kabur. Karena berbagai kesalahan inilah kemudian Luxenberg dan beberapa pakar lainnya mencanangkan berbagai upaya untuk merekonstruksi Al-Quran agar terbebas dari segala keraguan dan kesukaran makna.

Baca juga: Meneladani Semangat Pemuda Ashabul Kahfi dalam Al-Quran

Mengutip dari Adian Husaini, bahasa Syro-Aramaic atau Syiriak adalah bahasa komunikasi tulis di Timur Dekat mulai abad ke-2 sampai ke-7 Masehi. Bahasa Syiriak dialek Aramaik merupakan bahasa di kawasan Edessa, sebuah negara kota di Mesopotamia Atas. Bahasa ini menjadi media penyebaran budaya Syiriak ke wilayah Asia, Malabar dan bagian Timur Cina. Sampai munculnya Alquran.

Bahasa Syriak adalah media komunikasi yang luas dan penyebaran budaya Arameans, Arab, dan sebagian Persia. Budaya ini telah memproduksi literatur yang sangat kaya di Timur Dekat sejak abad ke-4, sampai digantikan oleh bahasa Arab pada abad ke-7 dan ke-8 M. Satu hal penting, menurut Luxenberg literatur the Syriac-Aramaic dan matrik budaya ketika itu, praktis merupakan literatur dan budaya Kristen. Sebagian studi Luxenberg menyatakan bahwa literatur Syiriak lah yang telah menciptakan tradisi Arab Tulis yang ditransmisikan melalui media Kristen.

Adanya perbedaan-perbedaan bacaan dalam Al-Qur’an menjadi faktor munculnya pertanyaan seputar belum sempurnanya bahasa Arab sebagai bahasa tulis. Hal inilah yang kemudian melatarbelakangi Luxenberg menggunakan analisis filologis bahasa Syiriak dalam mengkaji bahasa Al-Qur’an. Agar para pembaca bukunya lebih yakin, Luxenberg kemudian menyisipkan beberapa contoh kata. Ia menyebutkan bahwa kata ( قران ) qur’an yang dipahami sebagai masdar dari qara’a atau qarana dianggap keliru. Baginya yang benar ialah qeryana (bahasa Syiriak-Aramaik) yang bermakna ajaran liturgi dari Injil Kuno.

Baca juga: Fungsi Al-Quran, Kitab Samawi yang Lain dan Cara Mendakwahkannya

Contoh kata lainnya yang ia yakini bersumber dari bahasa Syiriak-Aramaik terdapat pada kata (قسورة ) “qaswarah” semestinya menjadi “qasuurah” (QS. Al-Mudassir [74]: 51), kata ( اذنك) “azannaka” semestinya menjadi “izzaka” (QS. Fussilat [41]: 47). Selanjutnya kata ( سربا) “saraba” semestinya menjadi “syarya” (QS. Al-Khafi [18]: 61).

Dari beberapa contoh kata yang telah disebutkan, Luxenberg seakan menopang asumsinya, bahwa Alquran bukan berbahasa Arab, akan tetapi “kekhilafan” penulisan dari bahasa Syiriak Aramaik. Lanjutnya, bagian Al-Qur’an yang diadopsi dari Syiriak-Aramaik tidak hanya kosa kata namun juga mencakup isi ajaran dari tradisi kitab Yahudi dan Kristen-Syria.

Dan Ia menyimpulkan Alquran tidak “cakap” dalam menggantikan dua ajaran yang datang lebih dulu darinya (ajaran Yahudi dan Kristen). Sehingga Al-Qur’an yang ada dihadapan kita sekarang tidaklah orisinal dan otentik. Maka hal ini perlu ditindak lanjuti dengan melakukan pengkajian ulang dan meng-edit kata-kata di dalam Al-Qur’an agar senada dengan bahasa Syiriak-Aramaik.

Kemudian Al-Quran dalam penyebarannya tidak melalui lisan tetapi tulisan. Hal ini dikarenakan banyaknya kesalahan baca yang ditemukan Luxenberg di dalam al-Quran yang jika tradisi ini memang ada, semestinya kesalahan tersebut sudah ditangguhkan sejak awal. Salah baca (misreading) ini berlanjut pada penyelewengan makna. Hal ini disebabkan pengenalan tanda baca harakat (vowel sign) dan penambahan tanda titik (diacritical point) dari yang sebelumnya dikemas berupa huruf gundul (original consonantal script). Asumsi-asumsi inilah yang kemudian memprakarsai Luxenberg untuk mengusulkan metode pembacaan ulang Al-Quran dengan menggunakan bahasa Syiria-Aramaik.

Baca juga: Rahasia Dibalik Perintah Shalat dalam Al-Qur’an (Perspektif Prof. Dr. Nashruddin Baidan)

Sanggahan Atas Teori Luxenberg

Pembacaan ulang Luxenberg atas Al-Quran dengan bahasa Syiria-Aramaik membuahkan hasil yang sangat bertentangan dengan pandangan tradisional muslim dalam banyak hal, seperti ungkapan Al-Quran sangat terpengaruh ajaran Kristen Syiria-Aramaik, baik bahasa maupun teologis, lalu bahasa Al-Quran bukanlah Arab melainkan bahasa campuran Aramaik-Arab.

Kekeliruan pandangan Luxenberg juga terdapat pada kesimpulannya terkait qira’at dalam Al-Qur’an. Padahal media pengkajiannya bukan manuskrip gundul melainkan kitab suci Alquran yang sudah ditetapkan dan disepakati seluruh bacaannya. Tentu ini sebuah sikap ketidakbijakan Luxenberg yang tetap bersikeras mengubah bacaan Alquran.

Asumsi-asumsi inilah yang mendapat banyak sorotan dan kritik dari pengkaji Alquran baik sarjana Muslim maupun sarjana Barat. Salah satunya tokoh orientalis dari Jenewa yang bernama Dr. Tyler, beliau mengkritik pernyataan Luxenberg dengan mengatakan bahwa Al-Qur’an berbeda dengan kitab-kitab samawi lainnya, di dalamnya tidak saling bertentangan, memiliki sanad, sehingga tidak ada keraguan lagi pada lafadz Al-Qur’an yang bersumber dari Allah.

Teori Luxenberg ini merupakan pengandaiannya saja, menganggap bahwa Al-Qur’an sama dengan Bibel yang bisa diubah-ubah sesuai dengan nalar manusia. Bahasa Al-Qur’an memang bahasa Arab asli, jika memang ada kesamaan dengan bahasa Syiriak-Aramaik maka itu kebetulan saja. Kemiripan tidak selalu menunjukkan pada keterpengaruhan/pencurian kata. Metode ini tidak layak untuk diyakini, karena pada hakikatnya hanyalah sebagai jalan untuk meragukan autoriti dan keabsahan tradisi keilmuan Islam. Wallahua’lam bishawab

 

Dinda Duha Chairunnisa
Mahasiswi S1 Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Air: Anugerah Ilahi dan Etika Manusia Terhadapnya

0
Air adalah anugerah Ilahi yang diturunkan ke muka bumi, kekayaan yang berharga dan warisan penting bagi generasi mendatang. Maka sejatinya kita harus mensyukuri segala...