Beranda Tafsir Tematik Ketika Suami Selingkuh, Ini Kecaman Al-Quran

Ketika Suami Selingkuh, Ini Kecaman Al-Quran

Baru-baru ini jagat maya dihebohkan dengan trending perbincangan series “Layangan Putus” yang tayang di We TV. Series ini menceritakan tentang perselingkungan yang dilakukan oleh seorang suami bernama Aris terhadap istrinya Kinan yang diperankan oleh Reza Rahadian dan Putri Marino.

Series “Layangan Putus” ini begitu membius penonton karena alur ceritanya yang sangat menyayat perasaan dan begitu relate dengan kehidupan nyata. Sebab menurut beberapa kabar bahwa cerita dalam series itu diangkat berdasarkan kisah nyata si penulis cerita yaitu Momy ASF tentang kehidupan rumah tangganya yang kandas. (Jawa Pos, 02 Januari 2022)

Tulisan ini menyoroti figur suami yang digambarkan dalam series tersebut, yaitu Mas Aris yang telah berselingkuh dari istrinya. Sejatinya perselingkuhan adalah tindakan yang dibenci dalam kehidupan rumah tangga, karena akan ada banyak akibat negatif yang ditimbulkan.

Baca Juga: Tipe-Tipe Suami Dalam Al-Quran

Sehingga Al-Quran pun mengecam perbuatan ini dengan berbagai alasan. Seorang suami yang berselingkuh setidaknya akan melakukan beberapa hal:

Pertama, ia akan sering berbohong. Dalam series itu, Mas Aris tega membohongi istrinya demi sang pelakor atau selingkuhannya. Tindakan seperti ini Allah peringatkan dalam Al-Quran yaitu:

مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٞ

Terjemah: “Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf [50]: 18)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa dalam ayat tersebut dijelaskan tentang dua malaikat yang senantiasa mencatat amal perbuatan manusia dan tidak ada sepatah kata atau satu gerakan pun yang akan terlewat dari keduanya.

Maksudnya adalah dalam ayat ini Allah mengancam setiap manusia yang akan melakukan sesuatu yang keji termasuk tindakan berbohong karena sejatinya manusia tidak dapat menyembunyikan perbuatannya itu. Sebab ada para malaikat yang selalu mengawasi setiap geral gerik perbuatan manusia.

Secara tidak langsung, ayat ini mengancam para suami yang selalu membohongi istrinya ketika berselingkuh. Maka sesungguhnya serapat apa pun ia menyembunyikan kebusukannya, ia akan menerima pertanggung jawaban kelak atas setiap kebohongan yang telah ia lakukan. Apalagi ketika ia membohongi istrinya sendiri, maka hal tersebut merupakan kezaliman dalam rumah tangga.

Baca Juga: Isyarat Al-Qur’an tentang Relasi Silih Asah Asih Asuh antara Suami Istri

Kedua, ia mengkhianati janji suci permikahan. Allah Swt. berfirman:

وَكَيۡفَ تَأۡخُذُونَهُۥ وَقَدۡ أَفۡضَىٰ بَعۡضُكُمۡ إِلَىٰ بَعۡضٖ وَأَخَذۡنَ مِنكُم مِّيثَٰقًا غَلِيظٗا

Terjemah: “Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat.” (QS. An-Nisa [4]: 21)

Quraish Shihab dalam tafsirnya menjelaskan bahwa Bagaimana seorang suami sampai hati mengambil kembali mahar yang telah diberikan, padahal suami dan istri telah berjanji dengan teguh secara sah dan akan menjadi pasangan yang baik (istri) kepada suami maupun (suami) kepada istrinya.

Hal ini diperkuat dalam Tafsir Kementerian Agama yang menjelaskan juga terkait ayat ini bahwa bagaimana mungkin suami akan mengambil kembali harta karena perpisahan yang semata-mata memperturutkan hawa nafsu belaka, bukan untuk menurut aturan-aturan yang digariskan Allah.

Sedangkan antara suami istri telah terjalin suatu ikatan yang kukuh, telah bergaul sebagai suami istri sekian lamanya dan tak ada pula kesalahan yang diperbuat oleh istri. Di samping itu, istri telah pula menjalankan tugasnya dan memberikan hak-hak suami dengan baik dan telah lama pula ia mendampingi suami dengan segala suka dukanya.

Meski konten yang diceritakan dalam ayat ini terkait dengan pengembalian mahar ketika suami istri berpisah, namun terdapat hal penting lain yaitu terkait dengan perjanjian yang kukuh dalam pernikahan. Perjanjian itu disebut dengan “mitsaqan ghaliza”.

Siti Musfidah sebagaimana dikutip oleh Khabib Musthofa (2020) dalam tulisannya menjelaskan bahwa pernikahan merupakan perjanjian yang sangat kuat (mitsaqan ghaliza) yang harus dibangun atas dasar pondasi komitmen yang sungguh-sungguh dalam mengupayakan keluarga ideal. Sehingga sebagai seorang suami maupun istri harus menjaga perjanjian suci itu dengan sungguh-sungguh.

Maka ketika seorang suami melakukan perselingkuhan, ia telah melanggar perjanjian suci tersebut yang semestinya selalu dipegang dalam mempertahankan rumah tangga. Pada akhirnya ketika perjanjian itu putus dan ternodai maka harmonisasi keluarga pun juga menjadi taruhannya.

Baca Juga: Pesan untuk Suami-Istri dalam Berumah Tangga pada Surah Al- Baqarah ayat 233

Penutup

Dua tindakan di atas sejatinya menggambarkan akibat yang akan ditimbulkan ketika seorang suami berselingkuh di belakang istrinya. Series “Layangan Putus” memberi gambaran penting bahwa ketika perselingkuhan telah dimulai maka akan ada banyak yang dilanggar seperti kebohongan dan janji suci pernikahan yang dinodai.

Kecaman Al-Quran kepada figur-figur suami yang digambarkan di atas semestinya menjadi peringatan bagi setiap lelaki yang beristri untuk selalu menjaga kesucian pernikahan dan perasaan istrinya. Sebab dalam hubungan istri, bukan hanya perkara cinta namun bagaimana membangun rumah tangga yang dirihoi Allah dengan menjunjung tinggi prinsip sakinah, mawaddah dan warahmah. Wallahu A’lam.

Saibatul Hamdi
Minat Kajian Studi Islam dan Pendidikan Islam
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Kiat-kiat pencegahan kemiskinan dalam Al-Quran

Al-Quran dan Upaya Pengentasan Kemiskinan

0
Islam mengajarkan kepada penganutnya untuk memperhatikan segala aspek sosial kepada saudara Muslim lainya atau manusia pada umumnya. Salah satu yang ditekankan oleh Islam dalam...