Beranda Tafsir Tematik Tipe-Tipe Suami Dalam Al-Quran

Tipe-Tipe Suami Dalam Al-Quran

Tidak hanya istri yang harus berbuat baik, suami pun juga semestinya harus berbuat demikian. Ia berkewajiban untuk menafkahi dan memperlakukan istrinya dengan baik. Selain itu, seorang suami juga semestinya taat pada setiap perintah Allah dan mengajak serta membimbing istrinya untuk melakukan hal yang sama. Namun tidak dapat dipungkiri juga bahwa terkadang ada suami yang justru berbuat sebaliknya. Mereka memperlakukan istrinya dengan tidak manusiawi dan memaksa istri mereka melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan perintah Allah Swt. Lalu, bagaimana sebenarnya Al-Qur’an menggambarkan tentang tipe-tipe suami?

Terkait hal itu, Allah Swt. menerangkan beberapa contoh tipe suami yang terdapat dalam Al-Quran.

Baca Juga: Kesalingan dan Kesetaraan Relasi Suami-Istri dalam Maqashid Al-Quran

Pertama, tipe suami yang kejam seperti Fir’aun. Allah Swt. berfirman:

وَضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا لِّلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱمۡرَأَتَ فِرۡعَوۡنَ إِذۡ قَالَتۡ رَبِّ ٱبۡنِ لِي عِندَكَ بَيۡتٗا فِي ٱلۡجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِن فِرۡعَوۡنَ وَعَمَلِهِۦ وَنَجِّنِي مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

Terjemah: “Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim.” (QS. At-Tahrim [66]: 11)

Al-Qurthubi menjelaskan ayat di atas tentang Asiyah, istri dari Fir’aun yang menjadi perumpamaan bagi orang-orang beriman. Ia disiksa oleh Fir’aun dengan sangat keras karena diketahui beriman kepada Allah Swt.

Ibnu Jarir mengatakan istri Fir’aun disiksa dengan cara dipanggang di bawah panasnya terik matahari. Ketika Fir’aun beranjak pergi meninggalkannya, malaikat meneduhinya dengan sayap-sayap mereka, dan ia melihat rumah tempat tinggalnya di surga.

Melalui ayat tersebut tergambar sifat Fir’aun sebagai suami yang sangat kejam terhadap istrinya sendiri karena beriman kepada Allah yang enggan menyembah dirinya (Fir’aun) sebagai Tuhan.

Tipe suami seperti Fir’aun ini mereka memaksa istrinya untuk berbuat hal-hal yang dilarang oleh Allah hanya untuk menyenangkan diri mereka sebagai suami. Dan ketika sang istri tidak menuruti, maka ia akan bersikap kasar bahkan kejam ke istrinya. Sikap egois yang sangat ditonjolkan akan merongrong keutuhan hubungan suami dan istri itu sendiri. Maka tipe suami seperti ini sejatinya tidak boleh dipertahankan dan istri harus pergi meninggalkannya.

Baca Juga: Pesan untuk Suami-Istri dalam Berumah Tangga pada Surah Al- Baqarah ayat 233

Kedua, tipe suami yang mengajak istrinya maksiat seperti Abu Lahab. Allah Swt. berfirman:

تَبَّتۡ يَدَآ أَبِي لَهَبٖ وَتَبَّ مَآ أَغۡنَىٰ عَنۡهُ مَالُهُۥ وَمَا كَسَبَ سَيَصۡلَىٰ نَارٗا ذَاتَ لَهَبٖ وَٱمۡرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلۡحَطَبِ فِي جِيدِهَا حَبۡلٞ مِّن مَّسَدِۢ

Terjemah: “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” (QS. Al-Lahab [111]: 1-5)

Al-Qurthubi menjelaskan ayat tersebut tentang kisah Abu Lahab dan istrinya yang selalu berusaha menentang dakwahnya Rasulullah Saw. Abu Lahab dan istrinya dinyatakan akan kekal di dalam neraka karena sifat kufur mereka. Begitu pula saat kematian mereka berdua yang sangat tragis dimana sang istri mati karena talinya sendiri dan sang suami mati karena terserang wabah penyakit yang mengerikan.

Melalui ayat tersebut Allah Swt. memperlihatkan potret suami istri yang bekerja sama dalam keburukan. Seorang suami yang semestinya membimbing istri menjadi lebih baik, justru malah mengajak bekerja sama dalam menghancurkan orang lain.

Suami seperti Abu Lahab bukan figur yang dapat dijadikan panutan, sebab sejatinya peran suami adalah membimbing ke arah jalan yang benar. Namun ketika suami justru mengajak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan perintah Allah maka ia layaknya seperti Abu Lahab yang bekerja sama dengan istrinya dalam keburukan.

Baca Juga: Surat Al-Baqarah Ayat 187: Isyarat Relasi Kesetaraan Antara Suami dan Istri

Ketiga, tipe suami yang tegar dan ikhlas seperti Nabi Ibrahim. Allah Swt. berfirman:

رَّبَّنَآ إِنِّيٓ أَسۡكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيۡرِ ذِي زَرۡعٍ عِندَ بَيۡتِكَ ٱلۡمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجۡعَلۡ أَفۡ‍ِٔدَةٗ مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهۡوِيٓ إِلَيۡهِمۡ وَٱرۡزُقۡهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمۡ يَشۡكُرُونَ

Terjemah: “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim [14]: 37)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa dalam ayat tersebut Nabi Ibrahim berdoa untuk anak dan istrinya yang ditinggalkan di lembah gersang. Ia meninggalkan putra dan istri yang paling dicintainya. Tetapi itu semua dilakukan Ibrahim dengan penuh ikhlas menyambut seruan Allah.

Padahal lebih dari 80 tahun Nabi Ibrahim menantikan kehadiran keturunan, tapi ketika ia hadir di pangkuannya saat keputusasaan memenuhi rongga dadanya, ia justru membawa anaknya ke lembah itu. Seakan-akan ia hanya datang menitip mereka kepada alam. Namun demikian, mereka tunduk pada perintah Allah dan meyakini kebenaran janji-Nya. Sehingga Nabi Ibrahim ikhlas melepaskan anak dan istrinya. Selain Nabi Ibrahim, Nabi Zakariya juga masuk dalm figur suami yang ketiga ini. Ia bersama istrinya saling menguatkan dalam mengarungi kehidupan, terlihat dalam kisah dan doa Nabi Zakariya ketika berdoa agar diberi keturunan.

Tipe suami seperti ini yang semestinya dijaga, suami yang rela berkorban untuk agama, keluarga, dan orang-orang yang disayangi walaupun dirinya sendiri harus menahan luka yang begitu dalam. Namun pengorbanan yang dilakukan semata-mata untuk mengharap ridha Allah Swt. untuk mencapai kebahagiaan akhirat yang lebih kekal.

Penutup

Demikian beberapa tipe suami yang digambarkan dalam Al-Quran. Selain tiga tipe di atas, sebenarnya masih banyak terdapat tipe-tipe suami yang lain yang tergambar di dalam Al-Qur’an. Namun dari tiga tipe tersebut di atas, setidaknya dapat menjadi bahan introspeksi dan renungan bagi para suami untuk terus memperbaiki diri guna memberi kebahagiaan dan kedamaian kepada keluarga tercinta khususnya kepada istri. Wallahu A’lam.

Saibatul Hamdi
Minat Kajian Studi Islam dan Pendidikan Islam
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Air: Anugerah Ilahi dan Etika Manusia Terhadapnya

0
Air adalah anugerah Ilahi yang diturunkan ke muka bumi, kekayaan yang berharga dan warisan penting bagi generasi mendatang. Maka sejatinya kita harus mensyukuri segala...