Beranda Tafsir Tematik Surah Al-Baqarah Ayat 216: Belajar Mencintai dan Membenci Sewajarnya

Surah Al-Baqarah Ayat 216: Belajar Mencintai dan Membenci Sewajarnya

Berurusan dengan cinta tidak ada habisnya. Apalagi bagi kalangan muda yang notabenenya masih dalam fase pencarian. Tidak jarang cinta membuat orang mengalami “mabuk” atau bahkan sampai “gila”. Makanya, tak heran jika ada anak muda yang tiba-tiba jadi budayawan dadakan dengan membuat puisi, sajak, ataupun syair-syair cinta. Rasa mencintai dan membenci memang sifat yang dimiliki manusia, akan tetapi sebenarnya Al-Qur’an sudah mencatat perihal tersebut.

Di sisi lain, kita juga harus mengendalikan rasa cinta yang menyelimuti agar tidak kebablasan. Ketika seseorang mencintai begitu dalam, utamanya pada lawan jenis, maka konsekuensi yang harus diterima adalah siap dengan patah hati. Atau bahkan sampai pada tahap membenci orang yang pernah kita cintai. Sampai pada tataran ini kita harus aware menyikapinya.

Dalam Al-Qur’an, perihal mencintai dan membenci secara ekplesit disebutkan pada QS. Al-Baqarah [2]: 216:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ࣖ

“Diwajibkan atasmu berperang, padahal itu kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”.

Baca juga: Tidak Benar Bahwa Al-Quran itu Misoginis, Simak Penjelasannya

Tafsir Ayat

Ibn Kastir dalam Tafsir al-Qur’an al-Adzim mengatakan bahwa wajib bagi setiap muslim untuk berjihad demi mempertahankan Islam dari musuh-musuhnya. Frasa boleh jadi kalian membenci sesuatu, pada ia sangat baik bagi kalian karena berperang itu biasanya dibarengi dengan datangnya pertolongan dan kemenangan atas musuh-musuh. Sedangkan frasa boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu  adalah bersifat umum untuk semua perkara. Boleh jadi seseorang mencintai sesuatu, sedangkan di dalamnya tidak ada kebaikan ataupun masalahah baginya. (Ibn Kastir, Juz 2, hlm. 284)

  1. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah menyebutkan bahwa ayat di atas secara spesifik berbicara tentang keengganan para sahabat untuk berperang. Sebab, peperangan dapat mengakibatkan hilangnya nyawa, terjadinya cedera, jatuhnya korban serta harta benda, dan sebagainya. (Al-Misbah, Vol. 1, Juz. 18, hlm. 557).

Frasa ‘asa, lanjut Shihab, yang berarti bisa jadi dan mengandung ketidakpastian, tetapi bukan dari sisi pengetahuan Allah. Sebab, tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya. Ketidakpastian yang dimaksud adalah dari sisi manusia dalam arti bila seseorang menghadapi perintah Ilahi yang harus ia indahkan atau ketetapan-Nya yang tidak dapat ia elakkan, sedang hal-hal tersebut tidak menyenangkannya, ketika itu manusia hendaknya menanamkan rasa optimisme dalam jiwanya dan berkata bisa jadi di balik ketetapan yang tidak berkenan di hati itu ada sesuatu yang baik

Hamka dalam Tafsir Al-Azhar menyebutkan bahwa ayat di atas adalah perintah untuk berperang. Walaupun pada prinsipnya perang tidak disukai oleh siapapun. Sebab, menurut Hamka, perang hanya ada dua pilihan; dibunuh atau membunuh. Akan tetapi ketidksuakaanmu terhadap sesuatu boleh jadi ia membawa kebaikan kepadamu. Hamka juga memberi contoh orang yang sakit meminum obat yang pahit, walaupun seleranya tidak menyukai untuk meminum obat tetapi untuk kesembuhan, ia juga menelannya. (Al-Azhar, Juz 1, hlm. 507)

Baca juga: Zakat untuk Korban Kekerasan Perempuan, Tinjauan Tafsir Al-Qur’an

Mencintai dan Membenci Sewajarnya

Walaupun ayat di atas secara ekplisit menunjuk perang sebagai sesuatu yang tidak kita sukai dan boleh jadi itu baik bagimu. Sebaliknya, apapun yang kamu sukai belum tentu itu baik bagimu. Dalam hal mencintai dan membencipun begitu. Dalam kitab mukhtar al-hadis (hlm. 7) riwayat At-Tirmidzi menyebutkan bahwa “Cintailah kekasihmu sesederhana mungkin, boleh jadi suatu hari apa yang engkau cintai akan menjadi kebencianmu. Dan bencilah sesederhana mungkin, boleh jadi suatu hari apa yang kamu benci kelak akan menjadi kecintaanmu”.

Kalau kita tarik kepada hal yang lebih luas, maka benang merahnya adalah jangan pernah berlebihan dalam hal mencintai dan membenci. Kalau boleh memberikan contoh, mecintai dan membenci berlebihan adalah seperti kita memegang kawat berduri. Semakin kuat kita memegang kawat berduri tersebut maka akan semakin sakit kita untuk melepasnya. Maka sederhanakanlah dalam mencintai dan membenci.

Karena sejatinya tidak ada cinta yang paling tulus untuk kita persembahkan kecuali kepada Sang Khaliq. Karena-Nya kita dapat menghirup, bernafas, melihat, dan nikmat-nikmat lainnya tanpa sedikitpun ia meminta bayaran. Maka cintailah Allah karena kebesaran-Nya dan kasih sayang-Nya. Sebab, mencintai-Nya kita tidak akan pernah dikecewakan. Wallahu’alam bish-showab[].

Baca juga: At-Taubah Ayat 122: Pentingnya Tafaqquh fiddin bagi Generasi Muda

Abdus Salam
Alumni STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta. Penikmat kopi dan kisah nabi-nabi.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Hukum Menikah dengan Tunasusila dalam Islam

Hukum Menikah dengan Tunasusila dalam Islam

0
Salah satu aspek kehidupan yang tak luput dari aturan agama adalah urusan pernikahan. Bukan hanya membahas terkait bagaimana membangun rumah tangga yang baik, syariat...