Beranda Tafsir Tematik Surah Ali Imran Ayat 14: Kecenderungan Alamiah Manusia Terhadap Duniawi Harus...

Surah Ali Imran [3] Ayat 14: Kecenderungan Alamiah Manusia Terhadap Duniawi Harus Dikontrol

Manusia – sebagai makhluk berakal – memiliki berbagai potensi dan kecenderungan dalam dirinya, baik yang bersifat negatif maupun positif. Salah satu kecondongan yang dimiliki – hampir – seluruh manusia adalah kecenderungan alamiah terhadap duniawi seperti harta, tahta, pasangan, dan keluarga. Ini merupakan bagian dari sifat alamiah yang diberikan Allah swt kepada mereka.

Pada dasarnya, kecenderungan alamiah terhadap duniawi bukanlah suatu hal yang negatif, bahkan itu bersifat positif jika diarahkan sesuai tuntunan Allah swt melalui Al-Qur’an dan sabda nabi Muhammad saw. Namun, jika kecenderungan tersebut tidak dikelola dengan baik, maka ia bisa saja mendatangkan malapetaka bagi manusia, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Potensi manusia terkait kecenderungan alamiah terhadap duniawi telah disinggung oleh Allah swt dalam surah Ali Imran [3] ayat 14 yang berbunyi:

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ ١٤

Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan, anak-anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS. Ali Imran [3] ayat 14).

Baca Juga: Tafsir Surah At-Taubah Ayat 24, Isyarat Larangan Cinta Dunia yang Berlebihan

Menurut Quraish Shihab, kata zuyyina pada surah Ali Imran [3] ayat 14 bermakna ‘dijadikan’ indah bagi manusia kecintaan kepada aneka syahwat, yakni ragam keinginan. Yang diperindah bagi manusia adalah “kecintaan” mereka kepada syahwat atau dengan kata lain kecenderungan alamiah terhadap duniawi, hal yang bersifat inderawi dan material.

Kecenderungan alamiah terhadap duniawi biasa meliputi beberapa aspek, mulai dari perempuan atau laki-laki (pasangan), anak-anak (keluarga), hingga harta benda seperti emas, perak, kuda, binatang ternak, dan sawah ladang. Itu semua hanya di antara representasi dari berbagai kenikmatan dunia yang – mungkin dan sering kali – dicintai manusia (Tafsir al-Misbah [2]: 26).

Al-Sa’adi menyebutkan dalam kitabnya, Taisir al-Karim al-Rahman Fi Tafsir Kalam al-Mannan, makna surah Ali Imran [3] ayat 14 adalah dihiasi bagi manusia kecintaan terhadap syahwat duniawi, yakni perempuan, anak, harta benda yang bertumpuk dalam bentuk emas dan perak, kuda pilihan, hewan ternak dan sawah ladang.

Perkara-perkara tersebut – mulai dari perempuan hingga ladang – disebutkan secara khusus karena itu semua merupakan pangkal kenikmatan duniawi yang paling besar, sedangkan selainnya hanya tambahan (complementary). Aspek-aspek inilah yang digandrungi oleh – hampir – setiap manusia, bahkan tak jarang mereka menggilainya sehingga melampaui batas.

Sedangkan Musthafa al-Maraghi menyebutkan dalam kitabnya, Tafsir al-Maraghi, surah Ali Imran [3] ayat 14 menunjukkan bahwa kecintaan terhadap syahwat duniawi dianggap baik oleh manusia. Mereka – terkadang – tidak peduli apakah sesuatu yang dicintai itu baik atu tidak. Akibatnya, mereka tidak ingin berpaling darinya dan selalu ingin bersamanya.

Menurut al-Maraghi, seseorang yang sudah kelewat batas mencintai syahwat duniawi tidak akan meninggalkan kecintaannya tersebut sekalipun itun tidak berharga, tidak bermanfaat, dan dapat memberikan dampak negatif baginya. Al-Maraghi mencontohkan hal ini dengan seseorang yang suka merokok. Meskipun ia tahu merokok dapat membahayakannya, namun ia tidak mau berhenti merokok.

Kemudian, sebagian orang mungkin bertanya, kenapa pada ayat ini hanya disebutkan kecintaan terhadap perempuan dewasa dan anak lak-laki? Apakah itu berarti laki-laki dewasa dan anak perempuan tidak disukai oleh manusia? Kalau iya ataupun tidak lantas bagaimana jawabannya? Apakah surah Ali Imran [3] ayat 14 ayat misoginis?

Berkenaan pertanyaan-pertanyaan di atas, setidaknya ada dua jawaban yang bisa penulis terangkan sebagaimana catatan Quraish Shihab, yaitu: pertama, surah Ali Imran [3] ayat 14 enggan menyebut secara eksplisit syahwat wanita terhadap pria dan menyembunyikannya demi menjaga perasaan wanita. Pada hakikatnya, pada ayat ini terkandung makna laki-laki dan perempuan. Keduanya saling tertarik satu sama lain.

Di sisi lain,  penyebutan anak laki-laki pada surah Ali Imran [3] ayat 14, bukan anak-anak perempuan, dikarenakan keadaan masyarakat kala itu sangat mendambakan anak laki-laki, karena mereka dianggap sebagai kebanggaan keluarga. Sedangkan anak perempuan bagi mereka hanya aib dan jarang disambut secara baik kehadirannya. Dalam konteks inilah Al-Qur’an menyebut kata al-banin dan tidak menyebutkan kata anak-anak perempuan.

Kedua, itu merupakan bagian gaya bahasa Al-Qur’an yang cenderung mempersingkat uraian atau biasa disebut jawami’ al-kalim. Misalnya, jika ada kata yang menunjuk satu sifat yang tiak dapat dilakukan kecuali oleh wanita, maka kata tersebut tidak lagi memerlukan tambahan tanda untuk menunjukkan bahwa pelakunya adalah wanita seperti kata haid dan hamil.

Al-Qur’an juga sering tidak menyebut lagi kata atau penggalan kalimat yang sudah disebut sebelumnya jika dalam rangkaian susunan kalimat tersebut sudah ada tanda implisitnya. Dalam istilah tata bahasa Arab ini disebut sebagai ihtibak. Misalnya, surah Ali Imran [3] ayat 14 tidak menyebut kata anak-anak perempuan sebagai salah satu yang dicintai oleh manusia, karena sebelumnya sudah ada kata perempuan.

Dengan demikian, frasa surah Ali Imran [3] ayat 14 sebenarnya bermakna dijadikan indah bagi manusia seluruhnya tanpa terkecuali, kecintaan kepada aneka syahwat duniawi, yakni wanita-wanita bagi pria, pria-pria bagi wanita, serta anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan. Artinya, setiap manusia, baik laki-laki maupun perempuan, memiliki kecenderungan alamiah terhadap duniawi.

Baca Juga: Tafsir Surah Al-Kahfi Ayat 7-8: Hiasi Dirimu Dengan Amal Saleh, Bukan Perhiasan Dunia

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa Allah telah memberikan fitrah bawaan kepada manusia sejak kelahirannya. Salah satunya adalah kecenderungan alamiah terhadap duniawi, mulai dari kecintaan terhadap lawan jenis, keturunan, keluarga, harta benda, hingga tahta. Kecenderungan ini jika tidak dikelola dengan baik dapat menjerumuskan manusia kepada kemaksiatan.

Lantas apa pentingnya kecenderungan alamiah terhadap duniawi? Jawabannya adalah Allah swt telah menugaskan manusia sebagai khalifah atau pengelola di muka bumi. Dalam rangka menjalankan tugas tersebut, mereka memerlukan akal, hati, dan naluri. Naluri di sini di antaranya adalah  keinginan untuk mempertahankan hidup, memelihara diri, dan memelihara jenis.

Terakhir sebagai catatan, ketika Al-Qur’an mengakui dan menegaskan adanya kecenderungan alamiah terhadap duniawi, atau bisa kita sebut sebagai dorongan-dorongan untuk melakukan aktivitas kerja, ia juga menggaris bawahi dorongan yang seharusnya lebih besar, yakni memperoleh apa yang ada di sisi Allah, karena di sisi-Nya lah tempat kembali terbaik. Wallahu a’lam.

Muhammad Rafi
Penyuluh Agama Islam Kemenag kotabaru, bisa disapa di ig @rafim_13
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Analisis Makna Pegon pada Naskah Jalalain

Analisis Makna Pegon pada Naskah Tafsir Jalalain

0
Tak hanya melalui kolofon dan kertas yang digunakan, usia sebuah naskah kuno juga dapat diketahui dengan melakukan analisis terhadap isi teks yang tertulis di...