BerandaTafsir TematikSurah An-Nahl : 125: Pentingnya Kontra Narasi di Media Sosial

Surah An-Nahl [16]: 125: Pentingnya Kontra Narasi di Media Sosial

Pesatnya perkembangan teknologi harus direspon dengan begitu cepat. Alih-alih berkata media sosial buatan orang-orang kafir, yang ada malah kita ketinggalan zaman. Apalagi hari ini, yang disebut dengan era-millenial, menuntut siapapun, bisa tidak bisa, mau tidak mau, merespon perkembangan teknologi.

Sejalan dengan hal di atas, dakwah juga berkembang, tidak hanya di dunia nyata tapi juga di dunia maya (media sosial). Sehingga, medsos sebagai sebuah alat untuk berdakwah juga penting untuk melawan berbagai isu di dalamnya. Seperti hoaks, radikalisme, ekstrimisme, isu khilafah sebagai sebuah sistem dan berbagai isu yang dihembuskan untuk membelah anak bangsa.

Al-Qur’an mengkonfirmasi pentingnya kontra narasi tersebut dengan wajadilhum bi allati hiya ahsan, juga bisa berarti wajadilhum bil medsos, bil facebook, bil youtube dan lai-lainnya. Pentingnya kontra narasi tersebut akan dieksplor dari Surah An-Nahl [16]: 125.

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk. (Terjemah Kemenag 2019).

Tafsir Surah An-Nahl [16]: 125

Syekh Wahbah al-Zuhaili dalam Tafsir al-Wajiz menjelaskan tafsir Surah An-Nahl [16]: 125 ini dengan “Wahai Nabi (Muhammad), ajaklah orang-orang kepada agama Allah yg benar, yaitu Islam, dengan pernyataan yang menyatakan kebenaran, yaitu dengan bukti yang jelas. Dan dengan nasehat-nasehat yang bermanfaat serta ucapan yg baik, lembut, dan tidak menjijikan. Berdebatlah dengan mereka, yaitu berdebat dengan cara yang terbaik untuk berdebat, dalam hal kebaikan, kelembutan, dan logika yang hebat. Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang telah menyimpang darir jalan iman, dan Dia lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk, melihat kebenaran, dan menjawab doa dan pesanmu.” (al-Wajiz, juz 14, hlm. 282).

Baca Juga: Bukan Kitab Suci Biasa, Ini 5 Keistimewaan Al-Qur’an

Al-Thabari dalam Jami’ al-Bayan menafsirkan  ila sabili rabbik, kepada jalan syariat tuhanmu (Muhammad) yang telah disyarikatkan untuk makhluknya, yakni Islam, bi al-hikmah kepada wahyu allah yang telah diwahyukan kepada Nabi Muhammd (al-Qur’an), wal mauidhotil hasanah, yakni dengan ungkapan indah yang Allah jadikan sebagai hujjah atas mereka di dalam kitabnya (Al-Qur’an). Wajadilhum bi allati hiya ahsan dan berdebatlah dengan mereka dengan argumen yang lebih baik daripada yang lain. Dan jangan mendurhakainya dalam menjalankan kewajibanmu untuk menyampaikan kepada mereka amanat Tuhanmu. (Jami’ al-Bayan, juz 14 hlm. 400)

Zamakhsyari dalam al-Kasysyaf menafsirkan ila sabili rabbik, yakni Islam. Bi al-hikmah dengan perkataan yang jelas dan benar, agar supaya menjadi nampak nyata kepada kebenaran sebagai penghilang keraguaan. Wa jadilhum bi-allati hiya ahsan, yakni dengan jalan yang sebaik-baik jalan berdebat dengan ramah dan lembut, bukan dengan ketidak sopanan dan kekerasan. (Al-Kasysyaf Juz 3 hlm. 485)

Menurut Quraish Shihab, ayat ini oleh sementara ulama sebagai menjelaskan tiga macam model dakwah yang harus disesuaikan dengan sasaran dakwah. Terhadap cendekiawan yang memiliki pengetahuan tinggi diperintahkan menyampaikan dakwah dengan pertama, metode hikmah, yakni berdialog dengan menyampaikan dengan kata-kata bijak sesuai dengan tingkatan audiens. Kedua, metode mau’izhah. Yakni memberikan nasehat dan perumpamaan yang menyentuh jiwa sesuai dengan taraf kemampuan audiens yang sederhana. Dan, ketiga, metode jidal (berdebat dengan baik). Yakni dengan menggunakan logika dan retorika yang halus, lepas dari kekerasan dan umpatan. (Al-Mishbah: vol.6, hlm. 774-775)

Refleksi Ayat

Media sosial adalah sarana atau alat sebagaimana wayang pada masa Walisongo. Wayang dan syair-syair, Lir ilir misalnya telah memainkan peran penting sebagai alat dakwah. Begitu pula dengan medsos. Ia juga memainkan peran penting sebagai alat dakwah di zaman millenial. Di sinilah letak pentingnya wajadilhum bil medsos, bil facebook, bil twitter, bil instagram dan bil youtube.

Baca Juga: Balasan Kebaikan Adalah Ridha Allah Swt Bagi Hamba-Nya

Kecenderungan millenial yang menghabiskan banyak waktu di depan gadget jangan sampai abai. Sebab mereka dapat mengakses beragam info, film, dan lain-lain yang dapat mempengaruhi pemahamannya. Karenanya, ini menjadi momentum untuk memberi pemahaman-pemahaman insklusif, mencerdaskan, tidak mudah mengkafirkan, membid’ahkan, dan apapun itu yang dapat memecah belah anak bangsa melalui media sosial. Dan yang tak kalah penting adalah menyajikan tulisan-tulisan yang ringkas, tidak bertele-tele, dan renyah untuk dibaca sebagai upaya kontra-narasi hoaks, ektremisme, radikalisme dan isu penegakan khilafah sebagai sebuah sistem.

Mari kita ramaikan medsos dengan pesan-pesan keberislaman yang ramah bukan marah, merangkul bukan memukul, mengajak bukan menginjak, serta mengasihi bukan mencaci maki. Walisongo telah meneladankan tugas kita adalah melanjutkan. Wallahu’alam bish-showab.

Abdus Salam
Abdus Salam
Alumni STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta. Penikmat kopi dan kisah nabi-nabi.
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Menyikapi Keburukan Orang Lain Tidak Harus dengan Memaafkan 

Menyikapi Keburukan Orang Lain Tidak Harus dengan Memaafkan 

0
Alquran memberikan petunjuk dan panduan bagi seseorang dalam menyikapi keburukan atau kejahatan orang lain. Solusi yang ditawarkan Alquran bersifat kondisional dan bijak, tidak serta...