Beranda Tafsir Tematik Tafsir Ayat-ayat Syukur: Hiduplah dengan Bahagia!

Tafsir Ayat-ayat Syukur: Hiduplah dengan Bahagia!

Kita hidup di dunia ini ibarat tamu dan Allah adalah tuan rumahnya. Ketika tamu datang dengan keadaan gembira, senang dan santai bercengrama bersama tuan rumahnya, maka sang tuan rumah pun senang dan puas akan kedatangannya.

Sebaliknya, jika tamu tadi sedih, mengeluh, dan tidak ada wajah keceriaan sama sekali, tuan rumah pun tidak puas padahal suguhan sudah dipersiapkan sebelumnya.

Itulah perumapaan kita hidup di dunia. Jika kita hidup dalam nuansa kegembiraan, kepuasan, dan optimisme atas dasar rasa syukur, maka Allah pun suka melihat kita demikian. Sebaliknya, jika kita hidup selalu dengan keluh kesah dan pesimis padahal rahmat Allah itu luas, maka kita tidak termasuk hamba yang pandai bersyukur.

Urgensi pandai bersyukur

Nabi Sulaiman a.s. dianugerahkan kekuasaan besar oleh Allah karena dia pandai bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Nikmatnya dilipatgandakan oleh Allah dengan menjadi raja di muka bumi ini yang kekuasaanya meliputi kalangan manusia, jin, dan hewan.

Allah mengabadikan redaksi pengakuan Nabi sulaiman dalam Q.S. Annaml: 40:

قَالَ هٰذَا مِنۡ فَضۡلِ رَبِّىۡ‌ۖ لِيَبۡلُوَنِىۡٓ ءَاَشۡكُرُ اَمۡ اَكۡفُرُ

Ini adalah sebagian anugerah Tuhanku, untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau kufur.

At-Thabari menafsirkan sepenggal ayat ini bahwa Nabi Sulaiman diberikan oleh Allah anugerah berupa kekuasaan dan kerajaan. Ini sebagai cobaan apakah Nabi Sulaiman termasuk hamba yang bersyukur atau malah kufur. (At-Thabari, Jami’ al-Bayan, juz 18, hal. 74).

Sebaliknya, dalam redaksi lain diterangkan bahaya bagi orang yang tidak pandai bersyukur dan tidak puas atas takdir yang Allah berikan. Allah Swt. mengecam mereka yang tidak sabar atas cobaanya; tidak puas akan ketentuannya, untuk mencari tuhan selain dia (menunjukkan kemurkaan Allah Swt.). Dalam hadis qudsi Allah Swt. berfirman:

اَنَا اللهُ لَااِلَهَ اِلَّا اَنَا مَنْ لَمْ يَشْكُرْ عَلَى نِعْمَائِ وَلَمْ يَصْبِرْ عَلَى بَلَاِئ وَلَمْ يَرْضَ بِقَضَائِ فَلْيَتَّخِذْ رَبًّا سِوَائِ

Aku adalah Allah. Tiada tuhan selain aku. Barang siapa yang tidak syukur atas nikmatku, tidak sabar atas bala’ku, dan tidak puas atas ketentuanku maka carilah tuhan lain selain aku (Faidul Qadir, no. 6009).

Jelas Allah Swt. murka atas mereka yang tidak puas akan ketentuannya. Bagaimana pun Allah Swt. adalah penguasa atas segalanya dan tidak satu makhluk pun berhak ikut campur atas ketetapanya. Tugas seorang makhluk adalah rida akan takdir yang Allah berikan.

Keterangan di atas menujukaan urgensi syukur atas segala ketetapan yang Allah tetapkan. Bagaimana pun, kita hidup sekarang dalam skenario Allah. Ibarat dalam perwayangan, Allah lah dalangnya dan ibarat dalam film, kita aktor dan Allah adalah sutradaranya.

Baca juga: Mencontoh Spirit dan Doa Nabi Sulaiman dalam Mensyukuri Nikmat

Menilik arti syukur

Merujuk pada Alquran, kata syukur berasal dari kata “syakara” yang berarti membuka. Para ahli bahasa Alquran seperti Ar-Raghib Al-Asfahani dalam kitabnya, Al-Mufradat fi Gharib Al-Qur’an menjelaskan bahwa kata “syakara” lawan dari kata ”kafara” yang artinya menutup.

Makna yang dikemukakan pakar di atas disinyalir berasal dari ayat Alquran yang memperhadapkan kata syukur dengan kata kufur, antara lain di ayat berikut:

وَاِذۡ تَاَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَٮِٕنۡ شَكَرۡتُمۡ لَاَزِيۡدَنَّـكُمۡ‌ وَلَٮِٕنۡ كَفَرۡتُمۡ اِنَّ عَذَابِىۡ لَشَدِيۡدٌ

Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan “jika kamu bersykur pasti akan kutambah (nikmatku) umtukmu, dan bila kamu kufur, maka sesungguhnya siksaku amat pedih (Q.S. Ibrahim: 7).

Dan terdapat pula dalam Q.S. Al-Baqarah: 152:

فَاذْكُرُوْنِى اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْلِىْ وَلَاتَكْفُرُوْنَ

Maka ingatlah kamu kepadaku niscaya aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepadaku dan janganlah kamu mengingkari (nikmatku).

Masih banyak lagi ayat-ayat yang menghadap-hadapkan kata syukur dengan kata kufur. Oleh sebab itu, Ar-Raghib Al-Asfahani memberi arti syukur sebagai “gambaran dalam benak tentang nikmat dan menampakkanya ke permukaan”. (Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran, hal. 216).

Dengan begitu, hakikat syukur adalah menampakkan nikmat dan hakikat kufur adalah menyembunyikanya. Menampakkan nikmat antara lain dengan hidup dalam nunansa kegembiraan dan kebahagiaan. Menampakkan nikmat dengan niat rasa syukur terhadap apa yang telah Allah berikan adalah suatu perintah yang termaktub dalam firman Q.S. Adduha: 11:

وَاَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Adapun terhadap nikmat tuhanmu, maka hendaklah engkau menyebut-nyebutnya.

Kata syukur terulang sebanyak 64 kali dalam Alquran. Ahmad Ibnu Faris dalam bukunya, Maqayis Al-Lughah menyebutkan arti dasar kata syukur adalah pujian karena adanya kebaikan yang diperoleh. Hakikatnya adalah merasa rida atau puas dengan yang sedikit sekalipun.

Nikmat yang Allah berikan kepada makhluknya sangatlah banyak, bahkan tiada yang mampu menghitungnya. Allah Swt. berfirman:

وَاِنْ تَعُدُّوْ نِعْمَةَ اللهِ لَاتُحْصُوْهَا

Seandainya kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan sanggup (Q.S. Ibrahim: 34).

Baca juga: Tiga Kiat Agar Selalu Bersyukur dalam Menjalani Kehidupan

Ajaran Imam Assyadhiliy untuk selalu hidup bahagia

Salah satu tarekat yang mu’tabarah (diakui) di Indonesia adalah tarekat Syadhiliyyah yang dipelopori oleh Imam Abu Hasan Assyadhiliy. Ajaranya menekankan kepada penganutnya untuk selalu hidup gembira dan bahagia untuk menunjukkan rasa puas terhadap ketetapan Allah Swt.

Salah satu nasihat hidup bahagia Imam Abu Hasan Assyadhiliy yang disampaikan kepada para muridnya:

“Kalian makanlah makanan yang paling lezat, minumlah minuman yang paling nikmat, tidurlah di atas alas tidur yang paling halus, dan pakailah pakaian yang paling lembut. Karena apabila salah seorang dari kalian melakukan hal itu lalu mengucapkan “Alhamdulillah” maka seluruh tubuh akan menjawab karena syukur.

Nasihat di atas memberi pengertian bahwa hidup itu harus senang dan bahagia; memilih apapun yang paling enak sesuai dengan kemampuan masing-masing. Karena hal tersebutlah yang menopang diri kita untuk bersyukur kepada Allah Swt.

Dengan begitu, hidup yang serba mewah dan riang gembira bukan berarti hanya mencari kebahagiaan duniawi saja. Akan tetapi dengan kehidupan seperti itu dan dilandasi rasa syukur, puas, dan rida akan ketetapan Allah, seseorang akan semakin dekat dengan Allah.

Rasa syukur juga perlu bukti, baik dari lisan seperti ucapan “Alhamdulillah”, dari hati dengan selalu puas, maupun dari tindakan seperti melakukan ibadah. Dengan begitu, kita hidup dalam kebahagiaan sebab kita puas dan pandai bersyukur. Semoga Allah Swt. menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang pandai bersyukur. Amiin ya rabbalalamin.

Baca juga:Tafsir Surah Yunus Ayat 12: Bersabar saat Bahaya dan Bersyukur Kala Bahagia

Abdullah Rafi
Mahasiswa Manajemen Dakwah UIN Sunan Kalijaga
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Kesenjangan sosial

Kritik Alquran Terhadap Kesenjangan Sosial

0
Sejak awal penurunan, Alquran melontarkan kritik terhadap kesenjangan sosial yang terjadi di kalangan masyarakat Mekah. Kritik tersebut merupakan langkah untuk menciptakan tatanan masyarakat yang...