Tafsir Naratif sebagai Corak Baru: Gagasan Tafsir Nadirsyah Hosen

0
15
Tafsir Naratif sebagai Corak Baru: Gagasan Tafsir Nadirsyah Hosen
Gus Nadir (sumber: bincangsyariah.com)

Perkembangan tafsir al-Qur’an tidak pernah berhenti pada satu bentuk. Dari corak riwāyah, dirāyah, fiqhī, falsafī, hingga adabī-ijtima‘ī, setiap zaman menghadirkan cara baca yang lahir dari kebutuhan sosial pada saat itu. Semakin berkembangnya zaman, muncul kecenderungan tafsir yang tidak lagi semata-mata ekspositoris atau hanya sebatas menjelaskan dan menguraikan ayat saja, melainkan lebih komunikatif dan reflektif. Di antara yang menarik untuk ditelisik adalah pendekatan yang ditawarkan oleh Nadirsyah Hosen atau lebih dikenal dengan Gus Nadir melalui karyanya yang diluncurkan pada tahun 2025, Ketika Qur’an Jatuh di Hati Hamba yang Merasa Biasa.

Dalam buku tersebut yang secara khusus membahas surah-surah Juz 30, beliau tidak hanya menyajikan tafsir dalam pola sistematis-analitis sebagaimana lazimnya kitab tafsir. Sebaliknya, ia meramu penafsiran dalam bentuk kisah kehidupan masa kini yang akrab dengan pergulatan batin, keresahan hidup, obrolan kecil-kecilan, dan beragam kisah kehidupan lain. Dari situlah ayat-ayat al-Qur’an dihadirkan sebagai respons atas realitas yang dialami tokoh dalam setiap narasi. Pola inilah yang dapat disebut sebagai tafsir naratif, sebagaimana dituturkan oleh K.H. Nasarudin Umar dalam pengantar buku tersebut.

Tafsir Naratif Menjadi Pilihan Menarik dalam Khazanah Penafsiran

Dalam khazanah tafsir al-Qur’an, penjelasan ayat umumnya bergerak dari teks menuju penguraian makna yang terkandung, dengan pola susunan ayat dikutip terlebih dahulu, dianalisis dari sisi kebahasaannya, dibantu penjelasan maknanya dengan hadis, dijelaskan sebab turunnya, lalu kemudian ditarik implikasi hukumnya atau pesan yang terkandung dalam ayat itu. Pola ini telah mengakar sejak penafsiran klasik seperti tafsir al-Tabari dan Ibn Katsir, hingga tafsir modern seperti penafsiran Quraish Shihab, Buya Hamka atau Hasbi al-Shiddiqy. Narasi memang kerap dimunculkan dalam penafsiran tersebut, tetapi berfungsi sebagai penjelas seperti riwayat hadis yang dikisahkan, bukan sebagai kerangka utama.

Di titik inilah pendekatan yang ditawarkan oleh Nadirsyah Hosen melalui bukunya, Ketika Qur’an Jatuh di Hati Hamba yang Merasa Biasa, memperlihatkan pergeseran yang cukup signifikan. Tafsir tidak dimulai dari penyebutan ayat terlebih dahulu, melainkan dibuka dengan kisah kehidupan tokoh yang mungkin kita pernah menjadi tokoh tersebut. Setiap surah dalam Juz 30 dihadirkan melalui kisah seorang tokoh dengan nama dan latar yang berbeda. Mereka digambarkan sebagai manusia biasa yang berdampingan erat dengan permasalahan hidup masa kini yang beragam bentuknya.

Baca juga: Nadirsyah Hosen dan Penafsiran Al-Qur’an di Media Sosial

Dalam buku tersebut, pembaca terlebih dahulu diajak menyelami konflik batin seorang tokoh, memahami situasinya, merasakan beban batin yang dipikulnya. Setelah itu, ayat al-Qur’an hadir sebagai respons, sebagai jawaban atas keresahan yang dialami tokoh, yang barangkali tokoh itu adalah posisi kita saat ini. Tafsir pun mengalir di tengah cerita, seolah-olah Gus Nadir ingin memberitahu pembaca bahwa kita sebetulnya sangat berdampingan erat dengan nasihat-nasihat yang terkandung dalam al-Qur’an tanpa kita sadari.

Struktur ini berlangsung konsisten dalam buku tersebut, yakni satu surah, satu tokoh, satu problem, kemudian ditutup dengan doa yang bersinggungan dengan tema surah. Setiap kisah dirancang untuk beresonansi dengan tema surah yang dibahas. Misalnya saja, dalam surah al-Fatihah yang mengisahkan seorang dokter yang merasakan keresahan hati, menyaksikan penderitaan pasien tak berujung, dan berkali-kali ambruk oleh perasaan gagal. Namun, seluruh keresahan itu kemudian sirna ketika ia membaca surah al-Fatihah dan mendalami maknanya satu per satu ayat. Setelah selesai muhasabah diri dengan al-Fatihah, ia menyadari bahwa setiap kesulitan yang menyertai pekerjaan kita tidak jauh dari pertolongan Allah sebagai bentuk atas kasih sayang-Nya, dan bahwa setiap pekerjaan ada kesempatan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.

Dengan demikian bisa saja dikatakan bahwa ayat diperagakan daya kerjanya dalam kehidupan nyata. Atau bisa dikatakan, tafsir naratif mampu menjawab pertanyaan, “Bagaimana ayat ini bekerja dalam hidup seseorang?”

Upaya Gus Nadir Membumikan Universalitas Al-Qur’an

Pilihan Gus Nadir yang hanya memfokuskan pada Juz 30 saja barangkali bukanlah tanpa alasan. Mungkin saja karena surah-surah pendek dalam juz ini adalah yang paling akrab di telinga umat Islam, sering dibaca dalam salat, bahkan dihafal sejak kecil. Namun, justru karena terlalu akrab, sering kali kita tidak ‘ngeh’ dengan maknanya. Selain itu, karakter-karakter yang dimunculkan dalam setiap cerita mencerminkan manusia masa kini sekali, seperti mereka yang merasa biasa, tidak istimewa, bahkan mungkin merasa jauh dari standar ideal kesalehan. Di sinilah kekuatan pendekatan ini.

Baca juga: Menghidupkan Juz ‘Amma melalui Gerakan Tafsir Naratif

Tentu saja, pendekatan naratif seperti ini bukan tanpa risiko. Karena bertumpu pada cerita dan sudut pandang tertentu, penafsiran bisa saja menyoroti satu sisi makna ayat dan tidak mengeksplorasi sisi lainnya secara mendalam. Tidak dimaksudkan sebagai tafsir yang membahas seluruh aspek, tetapi mungkin memang itu bukan tujuannya, karena hanya ingin menghadirkan kedekatan kepada siapapun pembacanya.

Dengan demikian, gagasan tafsir naratif yang dirumuskan oleh Nadirsyah Hosen dapat dipahami sebagai upaya mereaktualisasi hubungan antara al-Qur’an dan kehidupan. Ia menjadikannya sebuah medium agar al-Qur’an benar-benar “jatuh di hati” pembacanya. Dalam ruang itulah tafsir menemukan wajah barunya sebagai cerita yang menuntun manusia pulang kepada arah-Nya. Wallāhu a’lam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini