BerandaTafsir Al QuranTafsir Pop Gus Baha’: Fenomena Pengajian Tafsir Al-Quran di New Media

Tafsir Pop Gus Baha’: Fenomena Pengajian Tafsir Al-Quran di New Media

Beberapa tahun ke belakangan, kajian tentang fenomena dakwah dan pengajian di media sosial bukan lagi ihwal baru. Model kajian semacam ini sebetulnya adalah bagian dari kajian etnografi virtual; sebuah deskripsi seputar fenomena dan bangunan kehidupan budaya yang data-datanya diperoleh dari lingkungan online sebagai pengganti observasi, survei dan wawancara seperti yang diungkapkan Arif dalam Etnografi Virtual: Sebuah Tawaran Metodologi Kajian Media Berbasis Virtual. Istilah tafsir pop yang menjadi tema dalam tulisan ini secara sederhana adalah praktik diseminasi komunikasi tafsir Al-Quran independen dengan memanfaatkan media populer seperti YouTube, Instagram, Facebook dan lainnya. Pengertian ini berangkat dari definisi pop culture milik Haryanto dalam Identitas dan Kenikmatan: Politik Budaya Layar Indonesia, yaitu praktik komunikasi berupa suara, gambar atau pesan yang diproduksi massal, relatif independen dengan memanfaatkan berbagai forum serta peristiwa seperti keramaian publik, parade dan festival.

Baca juga: Gus Baha dan Dahsyatnya Ayat Kursi yang Tidak Banyak Orang Tahu

Kepungan revolusi new media (media baru) secara tidak langsung telah memberikan kebebasan kepada otoritas keagamaan, baik otoritas “lama” atau otoritas “baru” untuk bersaing merebut hati umat. Wajah-wajah otoritas keagamaan itu beragam. Ada yang radikal, ekstrim, intoleran, ganas, garang, ramah dan lemah lembut. Melihat kenyataan umat muslim Indonesia yang sebagian masih berwatak “keras”—untuk tidak menyebutnya fanatisme buta—dan sedikit baperan, tidak heran jika wajah otoritas yang ramah dan santun rasa-rasanya sepi peminat, mungkin karena dinilai kurang greget dan menantang. Semua gerakan otoritas keagamaan itu, yang mulanya bergerak di ranah publik (berupa partai politik, seminar, talk show, forum diskusi atau kajian dan sebagainya) sekarang “banting setir” ke ranah media online.

Salah satu yang turut meramaikan jagad new media saat ini adalah KH. Baha’uddin Nursalim al-Hafidz, atau yang lebih akrap disapa Gus Baha’. Model pengajian Tafsir Pop Gus Baha’ biasa dilaksanakan secara virtual, baik pada acara haul di pesantren, pengajian umum, atau pengajian rutin dan lain-lain. Hasil pengambilan gambar dan suara pengajian itu lalu diupload ke YouTube, dalam bentuk visual atau audio visual, oleh lembaga formal atau individu yang menjadi muhibbin Gus Baha. Video dan audio Tafsir Pop Gus Baha’ akhirnya viral melalui Facebook, Twitter dan Instagram. Sekalipun Gus Baha’ tidak menginginkan popularitasnya melejit, tetapi tidak dengan para penggemarnya. Umat muslim Indonesia berhutang budi kepada para penggemar Gus Baha’ yang setia memproduksi dan menyalurkan pengajian-pengajiannya. Kumpulan Tafsir Pop Gus Baha’, mulai dari versi lengkap sampai cuplikan berbentuk kalam “mutiara” hikmah kini bisa dinikmati di berbagai bentuk new media.

Baca juga: Pendapat Gus Baha’ Tentang Membaca Wirid Surat al-Fatihah 100 Kali

Siapapun akan dibuat merinding dan takjub bila mendengar ulasan-ulasan tafsir yang disampaikan Gus Baha’. Bagaimana tidak, untuk menjelaskan satu ayat saja, Gus Baha’ sampai menyuguhkan penjelasan dari berbagai sudut pandang keilmuan. Tidak saja dari segi ilmu-ilmu Al-Quran (‘ulūm al-Qur’ān), tetapi juga dari perspektif fiqh, sejarah hingga tasawuf. Semuanya digilir satu persatu oleh Gus Baha’. Ini saja sebenarnya sudah cukup membuktikan bahwa kapasitas keilmuan Gus Baha’ memang berada di level yang jauh di atas sana. Pembawaan kajian Tafsir Pop Gus Baha’ yang identik dengan ceria, santai, dan sesekali diselingi guyonan, membuat para muhibbin-nya semakin hari silih berganti berdatangan. Ya, di depan Gus Baha’, semua problematika kehidupan terlihat mudah, nggak repot, dan tidak memberatkan. Apapun masalahnya, seolah Gus Baha’ tidak pernah kehabisan solusi.

Posisi Gus Baha’ yang dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat, mulai dari kaum awam, elit agamawan bahkan kalangan akademis pun membuat nama Gus Baha’ dari hari ke hari semakin “naik daun”. Ini juga tidak bisa dilepaskan dari kemampuan Gus Baha’ dalam menerjemahkan dan menyederhanakan bahasa Al-Quran dengan logika-logika “ringan” yang tentu mudah dipahami tanpa sedikitpun mengurangi substansi kandungan Al-Quran. Sosok kiai muda yang juga merupakan murid kesayangan Mbah Moen ini, kini menjadi ikon mufasir tanah air yang mencerminkan Islam damai, ceria dan rahmatan lil alamin. Logika argumentatif dalam bentuk kontra narasi yang dibangun Gus Baha’ sungguh mampu meruntuhkan doktrin ekstrimis, radikalis, dan fundamentalis yang sangat meresahkan. Kehadiran Gus Baha’ dalam pertarungan kontestasi kajian-kejian keislaman di dunia new media, terutama sekali serial tafsir Al-Quran, perlahan mulai menggeser pengaruh kubu “sebelah” yang terus berupaya menyuntikkan “ideologi” mereka kepada umat. Bahkan, beberapa di antara anggotanya menyatakan “taubat” dan memilih berlabuh di bawah asuhan serta bimbingan Gus Baha’ seperti unggahan dalam kanal YouTube Gus Baha di Mata Sang Mantan Teroris.

Baca juga: Ngaji Gus Baha’: Cara Agar Tidak Mudah Kecewa dengan Orang

Salah satu kajian Tafsir Pop Gus Baha’ yang masih penulis kenang adalah tentang kritik pedasnya terhadap kelompok fundamentalis-radikalis yang terus menggemakan jargon Islam kaffah. Model fatwa Islam kaffah yang dielu-elukan kelompok ini, menurut Gus Baha’, sejatinya adalah cara berpikir yang kontraproduktif dengan realitas kualifikasi dirinya. Bagaimana mungkin mereka menfatwakan penegakan Islam kaffah, sementara instrumen interpretasi ayat-ayat yang digunakan tidak kaffah. Paradigma inilah yang menjadi “dalang” di balik tindakan-tindakan radikal, cenderung intoleran dan asal pukul, sebagai buntut dari pemahaman pada satu atau dua ayat Al-Quran saja sebagai sebuah justifikasi. Lebih detailnya simak Kajian Tematik Spesial Masjid Ulil Albab UII-Gus Baha.

 “Orang sekarang main pukul saja, tidak mau ngaji Al-Quran secara kaffah. Fatwanya Islam kaffah, tapi ngaji Al-Quran-nya tidak kaffah. Cukup berdasar satu, dua potong ayat, lalu dipakai menteror orang. Kalau mau Islam kaffah, ya harus hafal Al-Quran 30 juz.” Sentil Gus Baha’.

Untuk kanal Youtube, beberapa channel yang menyediakan pengajian Tafsir Pop Gus Baha’—lengkap atau dalam bentuk cuplikan—di antaranya adalah Ngaji Kiai, Al Muhibbin, Kumparan Dakwah, Santri Kalong Virtual, Kalam-Kajian Islam, Agus Mujib Channel, Penyejuk Hati Id, Kajian Cerdas Official, Rekaman Ngaji KH. Ahmad Bahauddin Nursalim, Kopiah Santri dan masih banyak lagi. Untuk Instagram, ada @ngajikyai, @ngajigusbaha, @gusbaha.tv, @gusbahaonline, @gusbahagram, dan @gusbahaquote. Untuk Facebook, ada grub Santri Online-Ngaji Gus Baha, Muhibbin Gus Baha’, Info Ngaji Gus Baha’; Rembang Di Jogja, dan Kajian Lengkap Gus Baha’. Sementara untuk grub telegram ada grub seperti Ngaos Sareng Gus Baha’, Ngaji Rekaman Gus Baha’, dan Ngaji Bareng Gus Baha’.

Wallahu a’lam.

Fawaidur Ramdhani
Fawaidur Ramdhani
Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya dan Dosen Ma’had Ali UIN Sunan Ampel Surabaya. Minat pada kajian tafsir Al-Quran Nusantara, manuskrip keagamaan kuno Nusantara, dan kajian keislaman Nusantara
- Advertisment -spot_img

ARTIKEL TERBARU

Iltifat Dhamir dalam Alquran

0
Alquran merupakan kitab suci dengan bahasa yang unik dan mengandung sastra tinggi. Salah satu keunikan tersebut adalah penggunaan iltifat. Ayat-ayat yang mengandung iltifat memiliki...