Beranda Tafsir Tematik Tafsir Surah Al-Hadid Ayat 23: Kalah Tidak Perlu Sedih, Menang Jangan Sombong

Tafsir Surah Al-Hadid Ayat 23: Kalah Tidak Perlu Sedih, Menang Jangan Sombong

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman bercerita tentang kehidupan percintaanya. Panjang kali lebar ia bercerita sembari menikmati secangkir kopi di pojok warung kopi. Hubungannya sedang berada di ambang batas. Ia pun mengalami kegalauan yang berkepanjangan. Beberapa hari kemudian, aku mengirimkan sebuah quote “Teori: tidak bersedih jika kalah, tidak sombong jika menang (Al-Hadid ayat 23). Aplikasi: diputus tidak sedih, dapet yang baru tidak sombong”. Sembari diikuti emoticon tertawa.

Dalam proses panjang kehidupan, kita sering kali mengalami hal-hal yang tidak kita inginkan atau sebaliknya. Terkadang sedih, gembira, sulit, gampang, menang, kalah, dan hal-hal lainnya. Baik kekalahan, maupun kemenangan haruslah kita terima lapang dada, sebab ia adalah bagian dari sunnatullah dalam kehidupan. Contoh sederhana ketika mengikuti perlombaan, misal, lomba lari, tentu tidak semua peserta yang mengikuti menjadi juara. Pasti ada yang mengalami kekalahan dan ada yang meraih kemenangan.

Sejalan dengan hal di atas, Al-Qur’an memberikan arahan untuk menyikapi kekalahan dan kemenangan. Dalam QS. Al-Hadid ayat 23 Allah Swt berfirman;

لِّكَيْلَا تَأْسَوْا عَلٰى مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوْا بِمَآ اٰتٰىكُمْ ۗوَاللّٰهُ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُوْرٍۙ

Artinya: (Yang demikian itu kami tetapkan) agar kamu tidak bersedih terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.

Tafsir ayat

Ibn Kasir dalam Tafsir al-Qur’an al-Adzim berpendapat bahwa terdapat ilmu dan ketetapan yang Allah tetapkan atas segala sesuatu sebelum kejadiannya, serta ukuran-ukuran telah dibuatkan kepada semua makhluk. Ini semua agar mereka mengetahui bahwa musibah yang menimpa dan yang luput dari mereka telah ditakdirkan. Jika itu ditakdirkan untuknya, maka akan terjadi kepadanya.

Sebaliknya, terhadap kabar gembira yang diberikan, janganlah membuatnya berbangga diri terhadap manusia dengan nikmat yang telah diberikan oleh Allah kepadanya (Tafsir Ibn Katsir, Juz. 13, hlm. 431).

Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah berpendapat bahwa kata mukhtalan terambil dari akar kata khayal. Kata khayal pada mulanya berarti orang yang tingkah lakunya diarahkan oleh khayalannya, bukan oleh kenyataan yang ada pada dirinya. Biasanya, lanjut Shihab, orang semacam ini berjalan angkuh dan merasa diri memiliki kelebihan dibandingkan orang lain. Sehingga, keangkuhannya tampak secara nyata dalam keseharinnya.

Kata mukhtal dan fakhur memiliki makna kesombongan. Tetapi, kata pertama bermakna kesombongan yang terlihat dalam tingkah laku, sedang yang kedua adalah kesombongan yang terdengar dari ucapan-ucapan (Tafsir Al-Misbah, Vol. 13, Jilid 3, hlm. 446).

Dalam Tafsir Kementerian Agama disebutkan bahwa pada ayat ini Allah Swt menyatakan bahwa semua peristiwa itu telah ditetapkan sebelum kejadiannya, agar manusia bersabar menerima cobaan dari Allah. Cobaan Allah itu adakalanya berupa kesengsaraan dan malapetaka, serta adakalanya berupa kesenangan dan kegembiraan. Karena itu janganlah terlalu bersedih hati ketika menerima kesengsaraan dan malapetaka yang menimpa diri, sebaliknya jangan pula terlalu bersenang hati dan bergembira ketika menerima sesuatu yang menyenangkan hati.

Ayat ini bukan untuk melarang kaum muslimin bergembira dan bersedih hati, tetapi maksudnya ialah melarang kaum muslimin bergembira dan bersedih hati dengan berlebih-lebihan.

Baca juga: Tafsir Surat Al-Hadid Ayat 22-23: Hikmah di Balik Musibah

Refleksi ayat

Ayat di atas mengafirmasi sikap kita terhadap kesulitan, kegagalan, kekalahan, keruwetan hidup, serta yang kita anggap tidak berpihak kepada kita, supaya tidak perlu merasa bersedih hati. Kalaupun harus bersedih, ya sekadarnya saja. Sebaliknya, terhadap kesuksesan, keberhasilan, keberpihakan yang kita anggap adalah hasil usaha kita, janganlah membuat kita sombong lagi jumawa. Kalaupun hal tersebut harus berpihak kepada kita, maka yang perlu dilakukan hanyalah terus bersyukur kepada Allah yang telah memberikan semua.

Tidak kalah pentingnya adalah jangan pernah berlebihan dalam menyikapi hidup yang kita alami. Terhadap kebaikan kita tetap bersyukur dan terhadap hal-hal yang belum Allah kehendaki untuk kita sebaiknya bersabar. Bukankah Allah tidak pernah menyia-nyiakan do’a dan usaha hambanya?

Menjelang pergantian tahun, selama setahun penuh 2021, terhadap capaian-capaian yang telah kita peroleh harus kita syukuri dan mengevaluasinya terhadap yang belum berhasil. Dan, untuk tahun yang akan datang, 2022, mari kita memperbaiki hal-hal yang belum tercapai di tahun 2021. Semoga pergantian tahun ini membuat kita semakin banyak bersykur, bersabar, dan bertawakal atas apa yang kita usahakan. Sekali lagi, terhadap kekalahan-kekalahan yang kita alami jangan membuat kita sedih, dan terhadap kemenangan-kemenangan yang kita peroleh jangan pernah sombong. Wallahu alam bish-shawab.

Baca juga: Surat Yunus [10] Ayat 6: Refleksi Pergantian Tahun

Abdus Salam
Alumni STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta. Penikmat kopi dan kisah nabi-nabi.
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Tiga Karakter Kepemimpinan Rasulullah yang Patut Dicontoh

Tiga Karakter Kepemimpinan Rasulullah yang Patut Dicontoh

0
Ketika menjadi pemimpin, seseorang hendaknya memiliki kepribadian yang baik dan mampu memimpin anggotanya dengan baik pula. Selain itu, pemimpin juga seringkali dituntut dapat mengambil...