Beranda Kisah Al Quran Tafsir Surah Al Isra Ayat 110, Asmaulhusna, dan Kisah di Balik Nama...

Tafsir Surah Al Isra Ayat 110, Asmaulhusna, dan Kisah di Balik Nama Rahman

Allah tidak hanya dapat disebut dengan Allahumma, Rabb, atau Ilah. Terdapat 99 Nama Allah yang dapat kita ucapkan untuk menyapa-Nya atau memanjatkan doa kepada-Nya. 99 nama ini diistilahkan dengan Asmaulhusna. Ar Rahman, salah satu bagian dari Asmaulhusna menyimpan kisah, yang kemudian membuat 99 nama-nama Allah dikenal oleh banyak orang. Kisah ini sekaligus menjadi setting historis Surah Al Isra ayat 110.

Baca juga: Allahumma dan Yaa Rabbana dalam Al Quran, Samakah maknanya?

Kisah tersebut terjadi pada fase Dakwah di Mekah. Suatu malam, saat bertahajud, Nabi SAW memanggil Allah dengan sebutan Ar Rahman dan Ar Rahim dalam sujudnya. Tanpa disadari, Suku Quraisy rupanya sedang menyaksikan munajat Nabi. Mereka, lalu, sangsi terhadap apa yang dilakukan Nabi.

“Bukankah Muhammad menyembah satu Tuhan?! Lalu, sekarang ia berdoa kepada dua Tuhan! Nama yang ia sebut adalah nama salah seorang dari Bani Yamamah!,” tuduh salah seorang Suku Quraisy.

Nama yang dimaksudkan Suku Quraisy ialah Ar Rahman, yang mereka kira sebagai nama julukan dari Musailamah al-Kazdzdab. (Al-Wahidi, Asbabun Nuzul, 294)

Tuduhan Suku Quraisy tersebut, kemudian, dibantah oleh Al-Quran. Merespons peristiwa itu, turunlah Surah Al Isra ayat 110, yang berisi argumen bahwa Allah memiliki Asmaulhusna.

قُلِ ادْعُوا اللّٰهَ اَوِ ادْعُوا الرَّحْمٰنَ اَيًّا مَّا تَدْعُوْا فَلَهُ الْاَسْمَاۤءُ الْحُسْنٰى وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذٰلِكَ سَبِيْلًا

Katakanlah (Muhammad), “Serulah Allah atau serulah Ar Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru, karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asmaulhusna) dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam salat dan janganlah (pula) merendahkannya dan usahakan jalan tengah di antara kedua itu.”

Dalam Al-Kasysyaf, seseorang dari Suku Quraisy yang memfitnah Nabi ialah Abu Jahal, tokoh penggugat dakwah Nabi dari Bani Makhzum.

Asmaulhusna

Asmaulhusna merupakan gabungan dari lafaz al-asma’, bentuk jamak dari al-ism, yang berarti nama, dan al-husna, isim tafdil dari al-hasan, yang berarti terbaik. Sehingga, Asmaulhusna dapat kita pahami dengan nama-nama Allah yang terbaik.

Nama-nama terbaik Allah berkesuaian dengan sifat-sifat-Nya. Semisal, nama Ar Rahman (Yang Maha Pemurah) menunjukkan sifat paling pemurah pada Zat Allah. Itulah mengapa sebagian mufassir, seperti Ibnu ‘Asyur dalam at-Tahrir wa at-Tanwir menampilkan ash-Shifaat al-Husna sebagai sinonim dari al-Asma’ al-Husna.

Baca juga: Inilah Lima Fadilah Membaca Al-Qur’an Menurut Hadis-Hadis Sahih

Sementara itu, jumlah 99 Asmaulhusna sudah menjadi kesepakatan Ulama, dengan berlandaskan pada Hadis Sahih riwayat Abu Hurairah, yang ditakhrij Imam Bukhari. Berikut ini kutipan hadis tersebut:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا ، مِائَةً إِلا وَاحِدَةً ، مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda:” sesungguhnya, Allah memiliki 99 nama terbaik. Barangsiapa yang menghafalnya akan masuk surga”

Hadis tersebut juga menjelaskan bahwa Asmaulhusna dapat bernilai ibadah, bagi yang menghafalkan lagi menyelami maknanya.

Kebolehan berdoa dengan Asmaulhusna

Surah Al Isra ayat 110 memiliki implikasi hukum kemubahan berdoa dengan Asmaulhusna. Menyitir Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Quran al-‘Adzim, ayat tersebut menunjukkan tidak terdapat perbedaan antara berdoa dengan lafaz Allah atau pun Ar Rahman, sebab Ar Rahman termasuk dari Asmaulhusna. Bertolak dari tesis ini, kita sampai pada pemahaman bahwa nama panggilan yang berbeda-beda sama sekali tidak berhubungan dengan esa atau berbilangnya Tuhan. Sebagai analogi sederhana, dapat kita ibaratkan dengan nama manusia, yang juga beraneka. Ada nama pena, julukan, nama asli, dan lain-lain. Dalam Bahasa Arab juga kita kenal dengan ‘alam laqab (nama julukan), ‘alam kunyah (Marga), dan ‘alam asma (nama asli). Dengan demikian, keesaan atau berbilangnya Tuhan adalah sesuatu yang berhubungan dengan Zat, tidak dengan nama. Hal ini berbeda dengan kepercayaan kaum Musyrik Mekah kala itu, yang memang memiliki banyak Tuhan.

Baca juga: Tafsir Surat Al-A’raf Ayat 180: Anjuran Berdoa dan Berdzikir dengan Asmaul Husna 

Selain Surah Al Isra ayat 110 dan hadis Nabi tersebut di atas, landasan Asmaulhusna berikut fadilahnya tersebar dalam banyak ayat dan hadis, seperti, Surah Al A’raf ayat 180 dan Al Hasyr ayat 22-24. Sedangkan, fadilah mengamalkan Asmaulhusna dalam doa, antara lain ialah dapat mempermudah terkabulnya doa. Wallahu a’lam[]

Halya Millati
Redaktur tafsiralquran.id, Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Alquran dan Tafsir UIN Sunan Ampel Surabaya, pegiat literasi di CRIS Foundation
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Dasar legalitas badal haji

Dasar Legalitas Badal Haji

0
Baru-baru ini, Kemenag memberi pernyataan akan memberikan badal haji pada jemaah Indonesia yang meninggal dunia saat menunaikan ibadah haji. Hal ini menyusul kabar adanya...