Beranda Tafsir Tematik Tafsir Surah al-Isra' Ayat 36: Larangan Berkomentar Tanpa Ilmu

Tafsir Surah al-Isra’ Ayat 36: Larangan Berkomentar Tanpa Ilmu

Pada dasarnya setiap manusia dilarang sembarangan berbicara dan berbuat sesuatu tanpa didasari ilmu dan kebenaran informasi. Tidak semua yang terdengar di telinga, terlintas di benak fikiran, dan semua yang sampai kepada kita harus kita terima. karena dalam retorika berbicara, termasuk etikanya adalah tidaklah semua yang diketahui itu harus disampaikan (sekalipun benar), dan setiap perkataan itu mempunyai maqam (tempat) masing-masing. Apalagi sesuatu yang tidak jelas kebenaranya.

Munculnya fenomena di tengah masyarakat, yakni maraknya orang-orang yang gercep men-share berita viral sekaligus memberi komentar di media sosial, yang mana tidak jarang komentar-komentar tersebut adalah komentar yang bukan bersumber dari ahlinya, sebetulnya hal itu hanya akan memperkeruh suasana saja.

Allah swt. telah berfirman di dalam QS. al-Israa’: [36]

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.

At-Thabari dalam tafsirnya menyebutkan bahwa terkait makna La Taqfu pada ayat di atas, sebagian ulama ahli ta’wil memaknainya: ‘janganlan berbicara sesuatu yang tidak kamu ketahui’. Sebagian lainnya mengartikan, ‘janganlah menuduh seseorang atas sesuatu yang kamu tidak mengetahuinya.

Dan penduduk Kufah berpendapat bahwa asal kata القفو adalah القيافة،  yang mempunyai makna ‘mengikuti jejak’. Namun dari beberapa pendapat di atas, makna yang paling utama adalah yang pertama, karena makna tersebut yang sering dipakai oleh bangsa Arab. (Tafsir at-Thabari,  jilid 17 hlm. 448 )

Dalam menjelaskan ayat di atas al-Maraghi memberi komentar tentang pentingnya ayat tersebut  untuk dijadikan prinsip hidup:

وذلك دستور شامل لكثير من شؤون الحياة، ومن ثم قال المفسرون فيه أقوالا كثيرة

“Dan demikian adalah pedoman yang mencakup banyak aspek dalam kehidupan, maka dari itu para mufassir banyak memberikan pendapat-pendapatnya pada ayat ini”. (Tafsir al-Maraghi, jilid 15. Hlm. 45)

Apa Bahaya Berkomentar Tanpa Ilmu?

Pada Jumlah (susunan) kedua dari ayat di atas merupakan peringatan bagi siapa pun yang berbicara dan menyikapi sesuatu di luar batas pengetahuannya atau tanpa berdasar ilmu. Hal ini merupakan suatu kedzaliman yang tentu akan diminta pertanggungjawabannya kelak di akhirat. Yaitu pertanggungjawaban yang amat berat, karena sekecil apapun kejahatan akan dapat diketahui. “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. Dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula”. (QS. al-Zalzalah [99]: 7-8).

Selain itu, menurut al-Ghazali, perselisihan di tengah masyarakat dipicu oleh banyaknya komentar-komentar orang yang bukan ahlinya. Akibanya dunia menjadi gaduh dan bising.

لأجل الجهال كثر الخلاف بين الناس لو سكت من لا يدري لقل الخلاف بين الخلق

“Karena orang-orang dungulah maka terjadi banyak kontroversi di antara manusia, seandainya orang-orang yang tidah berilmu berhenti bicara, niscaya akan berkurang pertentangan antar sesama.” (al-Ghazali, Faishal at-Tafriqah baina Islam wa Zandaah, hlm. 37)

Padahal sejatinya manusia berada dalam keterbatasan, dan mustahil menguasai semua bidang keilmuan. Seperti orang yang ahli bidang ekonomi belum tentu ahli pandai bidang kedokteran, orang yang ahli bidang politik belum tentu pandai bidang agama. Begitu pula sebaliknya.

Namun akhir-akhir ini sering dijumpai orang-orang yang mendadak ahli di semua permasalahan, karena semangat ekspresi yang tinggi, tapi tidak seimbang dengan keahlian dan pengetahuan yang dimilikinya. Lebih-lebih di era serba medsos saat ini, semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk men-share dan berkomentar tanpa batatasan. Sehingga, dalam hal ini yang dibutuhkan adalah kesadaran diri sendiri akan kapasitas masing-masing.

Sebagai pengguna medsos, hendaknya kita berhati-hati ketika men-share dan mengomentari berita. Rasulullah saw. telah memberi label dusta kepada siapa pun yang menyampaikan segala sesuatu yang didengarnya, karena bisa jadi informasi yang disampaikan hoax.

كفى بالمرء كذبا أن يحدث بكل ما سمع

“cukcuplah seseorang dikatakan pendusta bila ia menceritakan segala hal yang ia dengar”. (HR. Muslim)

M. Ali Mustaan
Alumnus STAI Imam Syafii Cianjur, mahasiswa pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, pecinta kajian-kajian keislaman dan kebahasaaraban, penerjemah lepas kitab-kitab kontemporer
- Advertisment -

ARTIKEL TERBARU

Dasar legalitas badal haji

Dasar Legalitas Badal Haji

0
Baru-baru ini, Kemenag memberi pernyataan akan memberikan badal haji pada jemaah Indonesia yang meninggal dunia saat menunaikan ibadah haji. Hal ini menyusul kabar adanya...